Dua untai kata
Mungkin kita seperti kata yang dengan spasi
Terlihat indah jika saling berpisah, bukan berdekatan untuk menimbulkan sebuah rasa.
***
Halo, apa kabar semuanya gimana kabar kalian hari ini? Semoga selalu baik-baik aja ya guys.
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian berupa vote dan komen ya guys.
***
Happy Reading!
Jangan lupa follow akun Wattpad ini.
Ada seseorang yang hanya bisa terdiam walau banyak kata ingin terucap dari bibirnya. Diam di halaman apartemen untuk menunggu seseorang datang membuat ia berpikir satu hal, apa setelah ini ada kebahagiaan yang akan datang? Semua seolah tak menginginkan ia untuk menemani Raina dan calon anaknya. Harus terpisah jauh setelahnya, dan kembali dengan masalah yang mungkin akan menimbulkan raut wajah kecewa di hati Raina yang mendengarnya. Satu kata tak bisa ia ucap untuk menjelaskan semuanya. Apa yang ia rasa mungkin sama-sama menimbulkan sakit di hati Raina atau pun dirinya.
Ketika pikirannya tak menetap di dalamnya, suara pintu mobil yang terbuka bahkan tak membuat Dion menyadari keberadaan Raina yang masuk ke dalamnya. Raut wajah sendu, letih, dan tertekan mungkin itu lah yang saat ini Raina rasakan ketika melihat Dion yang biasanya menyapa, kini hanya bisa terdiam dan tak menoleh sedikit pun ke arahnya. Tatapan mata Raina semakin terarah, ketika ia tak sengaja melihat jejak luka seolah sayatan di pipi Dion yang ada di sampingnya. Merasa penasaran, tangan Raina terulur untuk menyentuh luka lebam itu, memastikan bahwa itu adalah luka bekas sayatan. Mendapatkan sentuhan dari Raina, membuat Dion menoleh dengan tatapan sendu yang justru membuat Raina bertanya-tanya.
"Luka ini, kenapa kak?" tanya Raina sembari menatap Dion yang kemudian tersenyum.
"Gue jatoh. Keliatan kaya orang di cakar, ya? Padahal gue jatuh terus gak sengaja ke gores sesuatu," alibi Dion untuk menutupi semuanya.
"Udah di obatin?"
"Belum. Santai aja, ini cuman luka biasa. Gak perlu pengobatan khusus buat bikin luka ini sembuh," balas Dion membuat Raina menggelengkan kepalanya.
"Luka itu harus sembuh, biar kakak baik-baik saja," sahut Raina membuat Dion yang mendengarnya menatap Raina dengan tatapan yang tak biasa.
Dion yang mendengar itu kemudian tertawa renyah. Ada-ada saja perkataan Raina yang justru membuat ia semakin berat untuk meninggalkan semuanya. Tak tahu harus apa, tapi yang jelas melihat tatapan khawatir dan sentuhan Raina membuat ia merasa bahwa hatinya tak akan pernah tenang ketika Raina terluka dan hidup tanpa dirinya.
"Kok malah ketawa?" tanya Raina membuat Dion menatapnya juga. "Aku ke atas dulu mau ambil P3K. Kakak tunggu di mobil dulu, ya."
Ketika tangan Raina ingin membuka pintu mobil Dion, tangan Dion lebih cepat menahan Raina. Bukan untuk menghentikannya, melainkan untuk memeluknya dengan erat dan mendekap di dalamnya. Pelukan hangat yang diberikan oleh Dion membuat Raina tak bisa berbuat apa-apa. Dekapan hangat itu, kepala Dion yang bersandar di bahunya membuat ia tak bisa untuk melepaskannya begitu saja. Semenit kemudian hanya ada hening, bahkan ia sendiri merasa bingung atas tindakan Dion yang secara tiba-tiba memeluknya dalam dan tak melepaskannya. Ia tak membalasnya, hanya saja ia tak ingin melepaskannya. Saat pelukan itu semakin erat ia rasa, pundaknya terasa basah. Awalnya ia kira hanya keringat saja, tapi merasa ada tetesan yang mengalir deras di pundaknya, membuat Raina bertanya-tanya di dalam hatinya. Apakah ini air mata? Ketika ia ingin memeriksanya, kata-kata yang Dion berikan untuknya membuat ia mengurungkan dan memastikan bahwa air mata itu adalah milik Dion, pria yang saat ini tengah memeluknya.
"Maafin gue. Gara-gara gue, masa depan lo hancur. Gara-gara gue juga lo harus kehilangan ayah dan keluarga Lo. Gue emang bukan pria yang sempurna, gue selalu menyakiti hati orang-orang yang ada di dekat gue, dengan semua tindakan dan rasa tidak berdaya yang gue punya. Untuk pertama kalinya gue bisa mengutarakan apa yang gue rasa, walau pada akhirnya gue gak bisa berbuat apa-apa. Lo yang buat gue berani melakukan itu semua. Keberadaan lo, peristiwa itu, buat gue merasa bahwa hidup gue kembali hidup lagi. Maafin gue," ucap Dion secara tiba-tiba membuat Raina terdiam dalam dekapan Dion yang seolah tak mau kehilangan dirinya.
Untuk pertama kalinya, ada sisi lain yang ia lihat dari seorang pria yang selalu menatapnya tajam, egois, dan tak mau mengerti perasaan orang lain. Tapi di balik itu semua, ternyata ada hal yang tak pernah ia sangka akan terjadi dan membuat ia merubah semuanya. Walau masih ada rasa sakit yang selalu ada di dasar hatinya. Rasa sakit yang mungkin tak pernah bisa di lihat dan dirasakan oleh orang lain, tapi hanya bisa ia rasakan dalam jiwanya dan hati yang ada.
"Kalau gue gak punya tujuan untuk bertanggung jawab sama lo, mungkin hari ini dan selamanya lo gak bakal lihat gue lagi. Lo cuman inget nama gue, sifat gue yang gak baik, dan lihat nama gue di kuburan," ucap Dion lagi membuat Raina dengan cepat menguraikan pelukannya. Ia melihat mata Dion yang sudah memerah, air mata yang menetes dari dua mata indahnya, dan tatapan sendu yang membuat ia tak menyangka bahwa Dion berniat mengakhiri hidupnya sama seperti nya ketika Dion tidak mau bertanggung jawab atas semuanya.
Dion dengan cepat menghapus air matanya. Ia tak tahu, untuk pertama kalinya ia merasa ada satu wanita yang benar-benar mengerti dirinya dan mau mendengarkan apa yang ia rasa. Hanya dengan memeluknya saja, ia bisa melegakan pikiran dan apa yang ia rasa di dalam hatinya. Raina adalah tempat terbaik dan tujuan akhir baginya.
"Gue lemah, ya? Mungkin lo satu-satunya orang yang lihat fakboi bisa menangis seperti ini, Na. Apa yang gue omongin sama lo, anggap aja omong kosong dan gak pernah lo denger. Gue merusak momen ya? Padahal hari ini kita jalan-jalan, tapi malah gue buat lo ----"
Kata-kata Dion terputus. Ia bahkan tak sanggup mencerna apa yang ada di hadapannya saat ini. Mengetahui bagaimana Raina memeluknya dengan erat dan membuat ia ikut membalas pelukannya. Elusan yang ia dapatkan di punggungnya membuat hatinya tenang dan tak lagi merasakan sakit karena perkataan sang papa.
"Kamu gak sendirian. Aku paham, aku pernah berada di posisi kakak. Cuman diri kita sendiri yang bisa menyelamatkan, orang lain gak bakal ngerti, kecuali mereka yang benar-benar peduli. Apa pun itu, pasti akan ada jalannya, walau pada akhirnya gak pernah sesuai dengan apa yang kita mau ke depannya," ucap Raina dengan kata-kata yang tulus membuat Dion mengangguk saja.
"Makasih, ya, Na. Padahal gue udah jahat sama lo, tapi lo tetap perhatian dan kasih semangat buat gue. Makasih sekali lagi," balas Dion membuat Raina menganggukkan kepalanya.
Dion kemudian melepaskan pelukannya. Ia menatap Raina yang ada di hadapannya.
"Lo suka pantai?"
"Suka, sih. Kenapa kak?"
"Ayo kita ke sana," balas Dion membuat Raina mengangguk dan tersenyum saja.
Mungkin hari ini mereka akan mengukir sebuah sejarah yang akan di kenang sampai mereka tiada nantinya. Ia berjanji, akan menjadikan momen ini sebagai kenangan terindah yang ia punya.
#TBC
Gimana part kali ini guys?
Jangan lupa give me VOTMENT please 😍
Jangan lupa untuk follow:
Akun Wattpad: Shtysetyongrm
Akun Instagram: Shtysetyongrm
Aku tunggu notifikasinya beb. Makasih buat kalian yang sudah memberikan komentar di part sebelumnya ya. 🤗😚
KAMU SEDANG MEMBACA
Raina, Hujan Telah Datang (NEW VERSION)
FanfictionDipatahkan oleh keadaan Dianggap sampah oleh lingkungan sekitar Dijauhkan dari masa depan dan kebahagiaan Kata orang hal yang paling bahagia adalah bisa meraih segala asa. Satu persatu tujuan hidup tercapai, adanya kebahagiaan dan terus berjalan u...
