Haooo, gimana puasa nya nih dah 1 minggu hehe. Oh iya pertama author mau ucapin selama sama mbak Ve atas lamaran nya, akhir nya di pinang juga hehe. Gak kebayang cantik nya nanti pas dia pake gaun wkwk.
Nah, author up di waktu buka karena ada sedikit unsur dewasa di cerita nya hahah, rasa nya author dah lama gak bikin yg ples ples. Tapi di harap baca di waktu buka atau di waktu sahur ya, tidak baik di baca siang hari.
Masih panjang kaya nya nih cerita. Jgn kosongin komen nya ya biar author cepet apdet nya. Terimakasih yang masih baca cerita author.
Oh iya maaf bgt sama typo nya ya, soal nya ga di baca ulang.
...
Semilir angin begitu kencang, menerpa wajah juga menyapu helai rambut. Ketinggian yang tak dapat di capai dengan ukuran tangan mampu membuat beberapa manusia akan tenang jika singgah disini. Roof top apartemen yang lumayan cukup tinggi, ada seseorang yang sedang berdiri di anatara pembatas jurang, menatap langit sore yang terdapat Benerapa warna jingga, menatap lalu lalang kendaraan roda empat atau pun roda dua. Sesekali ia menatap ke arah langit, entah memuji atau hanya ingin melihat sesuatu disana.
Helaan nafas terdengar. "Ujian mu masih berlanjut Tuhan" gumam nya. Lalu ia membalikan badan, menyender pada pembatas dan merentangkan tangan tidak ketinggalan juga ia menutup mata nya. Angin itu terus menerbangkan geraian rambut yang tanpa di ikat.
"Sudah cukup ini sudah sore" perlahan mata itu terbuka kala mendengar suara orang lain disini. Dan betapa kaget nya siapa orang yang baru datang nya.
"Dudut!" Ucap nya dengan begitu kaget, tidak ada rasa takut dalam diri nya setelah melihat bentuk tubuh orang yang sudah mati. "Dut, ini beneran kamu?"
"Cici cengeng" entah ini hanya sekedar mimpi atau memang nyata terlihat oleh mata. "Harusnya Cici ingat kata-kata cici yang sering bilang ke aku, bawahan manusia itu tidak akan di uji oleh Tuhan jika di luar batas kemampuan nya"
Bagaimana Naomi bisa percaya jika ini bukan lah mimpi, adik tersayang yang sudah bersama Tuhan kini berdiri nyata di depan nya. Tidak sedikit pun merasa takut kala melihat raga ternyata arwah itu. Bahkan Naomi ingin sekali mendekap menyalurkan rasa rindu pada orang ini.
"Maafin aku ya, Ci. Gara-gara aku Cici sampe kaya gini" kini suara manja berubah menjadi serius. "Aku bukan maksud bikin cici kaya gini, aku cuman pengen Cici ada pada orang yang tepat" entah Naomi mendengarkan tuturan itu atau tidak. "Walaupun dia masih angkuh seperti itu, cici harus percaya kak Ve itu orang yang sangat baik"
"Tuhan berkata lain Sinka" sang adik itu pun mengerutkan alis nya tanda tak paham. "Cici yang meminta mu untuk singgah di mimpi, tapi ia beri kamu dengan wujud nyata" helaan kesal terdengar dari sang arwah, padahal diri nya sudah sangat serius berkata demikian.
"Tau ah, Cici bikin kesel. Aku lagi serius cici malah becanda" setan juga bisa ngambek ternyata, aih. "Pesan aku satu Ci, tetap bertahan walau dalam keadaan apa pun, dia akan berubah pada waktu nya, semoga bahagia Ci" dan secara perlahan bayangan putih mulai pudar.
"Dut, Dudut. Kamu mau kemana dut?" Naomi terluhat sangat cemas kala bayangan itu semakin tinggi. "Dut, Cici kangen Dut. Turun Dut" dan seketika cahaya sekejap pun hilang, Naomi terus mencari bayangan putih yang berbentuk Sinka, terus mendongak mencari posisi yang tepat.
Cklek.
Naomi di kagetkan dengan suara pintu dari arah tangga, terlihat seseorang menatap aneh ke arah Naomi. Salah satu penghuni apartemen ini juga yang sudah naik ke atas, mungkin orang ity akan menjemur sesuatu disini. Naomi sedikit merasa malu hingga Naomi membenarkan letak rambut lalu menunduk dan langsung berjalan cepat ke arah pintu untuk turun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Veomi
Fanfictionkumpulan cerit-cerita yang gak jelas. Alur nya aneh. Kalian kalo mau baca pikir-pikir dulu. Soal nya random semua...
