Berantem

1K 55 12
                                        

Maaf yaa jarang update. Semoga kalian tetep sabar nunggu cerita ini. Jangan lupa supportnya yaa biar author makin semangat lanjutinnya.

Happy reading!!!❤️

Sejak tadi baik Edgar maupun Keesha tak ada yang mengeluarkan suara. Mereka sama sama diam tak ingin mencoba membuka topik setelah kejadian dilapang tadi.

Jemari Keesha berkeringat dingin. Ia merasa tengah gladi bersih jika suatu saat hubungannya dengan Vero terkuak. Mungkin reaksi Edgar akan lebih menyeramkan dari ini.

Edgar memacu mobil dengan kecepatan diatas rata rata. Tangannya yang tengah mengeluarkan urat urat itu menyentak kasar saat memindahkan persneling. Perasaannya sedang sangat buruk. Ia tidak bisa berfikir jernih meski hanya sekedar menyetir mobil pun ia tidak bisa biasa saja.

Merasa keadaan tidak akan berubah hanya dengan saling diam seperti ini, Keesha pun akhirnya menoleh. Ia memberanikan diri untuk menyentuh tangan Edgar yang tertangkup diatas pahanya sendiri.

"Jangan dulu ke rumah ya? Aku mau kita omongin dulu ini sebelum pulang ke rumah. Aku gak mau pisah sambil berantem gini," ujar Keesha. Diam diam ia bernafas lega saat Edgar tidak menepis tangannya.

Namun sepertinya emosi sudah mengendalikan Edgar. Apa yang ia tangkap membuatnya salah paham. "Pisah?" Tanyanya dengan nada tak suka. "Kamu mau kita pisah?"

Keesha melebarkan matanya kaget. Jelas bukan itu yang ia maksud. "Bukan gitu ih maksud aku sebelum kamu sama aku pulang ke rumah aku pengen kita udah baikan."

Mendengar itu Edgar tak menjawab lagi. Ia lebih memilih melampiaskan amarahnya pada jalanan yang entah kenapa mendadak lenggang di siang hari seperti ini. Seperti tengah mempersilahkannya untuk menjalankan mobil sesuai suasana hatinya saat ini.

Nafas Keesha kembali berhembus. "Ke pinggir dulu ya? Aku mau ngomong," pintanya. Jujur ia takut dengan situasi saat ini. Dimana Edgar memacu mobil dengan kecepatan diatas rata rata membuat nyalinya menciut.

Ya Allah Keesha belum nikah. Keesha mau jadi Mama dulu ya Allah.

"Gar..."

Edgar tak menjawab. Ia tetap fokus ke depan.

Tak ada jalan lain. Keesha harus bertindak.

"Kamu yang berhenti atau aku yang turun?" Tanya Keesha tak main main.

Melihat tak ada respon, dengan nekat Keesha membuka kunci mobil, bahkan ia telah berhasil membuka pintunya. Hal itu seketika membuat Edgar melebarkan matanya tak percaya. Detik itu juga ia menginjak rem dengan kuat hingga membuat dahi Keesha hampir terbentur jika saja tangan Edgar tak menjaganya dari dashboard.

Edgar menoleh. Ia menarik tangan Keesha dengan kasar saking cemasnya. "Kamu apa apaan sih, Sha?!" Edgar kembali menutup pintu sembari menguncinya lagi.

Keesha diam. Hal itu membuat Edgar semakin geram. "Kamu belain Adrian sampe segitunya? Iya?" Tanyanya.

Seketika Keesha menoleh. "Belain apa sih, Gar? Aku gak ada belain Iyan sama sekali. Kenapa kamu jadi mikir kesitu?" Ujarnya tak terima.

"Aku gak suka kamu nekat nyelakain diri kamu sendiri demi orang lain kayak tadi," desis Edgar.

Mendengar itu Keesha menggeleng tak percaya. "Aku kayak gini itu demi kamu. Bukan buat orang lain. Kamu daritadi diemin aku ya aku gak nyaman lah." Keesha membuka safetybeltnya. Menghadapkan tubuhnya pada Edgar.  "Kalo aku gak kayak tadi apa kamu bakal dengerin aku?"

Edgar mengusap wajahnya kasar. Berusaha mengontrol emosinya agar tak melukai perasaan gadisnya dengan perkataan yang mungkin tak bisa ia control.

Melihat itu Keesha pun menghela nafasnya. Api tidak bisa dibalas dengan api. Ia harus menjadi air agar Edgar bisa lebih tenang. Jika tidak besar kemungkinan masalah ini akan semakin membesar.

Keesha menyentuh pipi Edgar. Menariknya agar menghadap padanya. "Aku minta maaf soal tadi. Sumpah demi apapun apa yang ada dipikiran kamu sekarang tentang aku sama Iyan itu gak bener. Tadi dia cuma mau nyemangatin aku karna kamu sama bang Vero sempet berantem kemaren. Dia juga minta maaf atas nama bang Vero. Itu aja, Gar. Gak lebih."

"Apa harus pake pelukan segala?" Tanya Edgar tak mau mengerti.

Iyalah. Lagian manusia mana yang rela liat pacarnya dipeluk orang lain dengan alasan cuma nyemangatin?

Tak jalan lain. Yang Keesha bisa katakan hanyalah, "Maaf. Aku terlalu sedih mikirin kamu sama bang Vero yang berantem kemaren sampe aku gak sadar kalo aku sama Iyan pelukan disana."

"Gak usah dijelasin. Gak usah sebut nama dia," tukas Edgar cepat.

"Maaf," cicit Keesha.

Giliran Edgar yang menghela nafasnya. "Kamu itu pacar aku. Kamu udah punya aku buat numpahin apapun yang kamu rasain. Kalo kamu sedih harusnya kamu nyari aku, bukan nyari cowok lain. Apalagi sampe pelukan kaya tadi, aku gak suka."

Mendengar itu sontak Keesha memasang puppy eyesnya. Lampu hijau sudah menyala, tanda tanda Edgar akan segera memaafkannya. "Iyaa maaf. Aku janji gak bakal gitu lagi."

"Iya emang harus janji," sahutnya cepat. "Gak usah masang muka imut gini kalo di depan cowok lain. Gak usah cantik cantik kalo keluar rumah apalagi kalo gak sama aku."

Astaga makin posesif aja cowok gue.

Edgar menyeka air mata yang keluar dari ujung mata Keesha dengan lembut. "Kamu tau kan kalo aku gak suka kamu ada interaksi sama cowok lain? Cowok liatin kamu aja aku gak suka apalagi kamu dipeluk cowok lain, Sha. Aku gak tau gimana keadaan Iyan tadi kalo aja aku gak inget dia partner aku selama pertandingan masih lanjut."

Mendengar itu sontak Keesha membeku. Hatinya berdesir sekaligus berdetak tak karuan. Bagaimana jika Edgar tau tentang hubungannya dengan Vero? Bahkan Vero sering memeluk sampai mencium keningnya penuh sayang. Hanya sebatas itu. Keesha tidak pernah memberi lebih pada Vero seperti apa yang ia berikan pada Edgar. Dan Vero pun tidak pernah memaksa bahkan sekedar meminta pun tidak pernah.

Lamunan Keesha buyar saat Edgar kembali bersuara. "Aku gak mau ada orang lain yang lebih tau isi hati kamu dibanding aku, Sha. Aku selalu pengen jadi yang pertama yang tau keadaan kamu. Kalo bisa jadi satu satunya. Bisa?" Pintanya penuh harap.










BackstreetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang