Munculnya Rasa Simpati

167 10 8
                                        

Tatapan Edgar menajam. "Maksud kamu apa?"

Mendengar itu, dengan gerakan cepat Keesha menggapai tangan Edgar. "Aku cuma pengen akhirin semuanya, Yang. Aku gak mau hubungan kita diganggu terus."

"Aku gak mau, Sha. Kamu tau aku gak suka." Edgar tetap kekeh pada pendiriannya. "Kayak gak ada cara lain aja."

"Emang gak ada cara lain lagi. Dia gak bakal mau denger omongan siapapun."

Tatapan Edgar berubah sinis. "Oh jadi dia cuma bakal nurut sama kamu? Dan kamu bangga sama hal itu?"

"Loh?" kaget Keesha. "Kok jadi kesitu?"

"Itu barusan kamun ngomong gitu maksudnya apa?" tantang Edgar. "Seneng banget punya mantan yang nurut sama omongan kamu?"

"Ya Allah, Yang. Gak gitu loh maksud aku." Keesha heran kenapa bisa kekasihnya itu selalu saja salah paham pada  ucapannya. 

Atau selama ini ucapannya memang salah?

"Terus apa maksud kamu?"

Keesha menghela nafasnya pelan. "Selama aku denger cerita dari tante Renata sama kak Ryan, yang aku tangkep tuh kak Vero gak bisa diatur semudah itu."

"Gak usah sebut nama dia bisa gak sih?" sergah Edgar cepat. "Kamu bahas dia aja aku gak suka."

Mendengar itu Keesha memelankan suaranya. "Iya maaf lupa." Edgar hanya diam. "Kemarin tante Renata bilang kalo dia mau nikahin Rachel karna Om Rusdi bawa-bawa nama aku."

Kening Edgar mengernyit tak paham kemana arahnya.

Keesha pun melanjutkan ucapannya. "Om Rusdi bilang kalo dia gak mau tanggung jawab dan jadi orang jahat dengan nelantarin Rachel dan bayinya, dimasa depan gak bakal ada perempuan yang sudi sama dia. Termasuk aku."

Sontak kepala Edgar menggeleng tak habis pikir. "Gak paham lagi aku sama jalan pikiran keluarga mereka. Kayaknya yang waras cuma kakaknya yang cewek aja, sisanya orang gila semua."

"Yang ih!" Keesha menggeplak punggung tangan Edgar.

"Ya mikir aja, Sha. Mereka ngomong gitu sama aja kayak janjiin kamu buat bajingan itu setelah Rachel gak ada. Kamu ngerti gak sih?"

"Udah ih jangan bentak-bentak. Daritadi Sha Sha Sha Sha. Ngobrol sama siapa sih kamu?" semprot Keesha karna merasa kesal sejak tadi Edgar terus saja memanggilnya dengan nama. Bukan dengan nama panggilan mereka belakangan ini.

"Aku gak suka sama kamu yang bikin keputusan sendiri tanpa ngobrol dulu sama aku. Se-gak penting itu aku buat kamu?"

"Gak gitu sayang. Sekarang kan aku bilang ke kamu buat minta izin. Kenapa kamu malah nanya gitu?

Edgar melengos. "Kamu minta izin pun percuma. Udah bikin kesepakatan kan sama tante Renata kemarin?" Mendengar itu Keesha diam. "Itu namanya bukan izin, Keesha."

Kalah. Keesha pun menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Terus aku harus gimana?"

Melihat gadisnya yang terlihat sudah hopeless membuat Edgar sedikit meredam. Tapi ia tetap tak sudi jika harus membiarkan gadis miliknya bertemu Vero untuk membahas hal yang se-sensitif ini. Ia tidak akan tahu apa saja yang akan dibicarakan dan  apa yang akan dilakukan Vero saat Keesha melontarkan permintaannya nanti.

 Bisa saja hal yang ia benci akan terjadi bukan?

"Biar aku aja yang nemuin dia," ucap Edgar dalam satu tarikan nafas.

Mendengar itu Keesha menoleh cepat. 

Usulan macam apa itu? Yang ada mereka malah beradu tinju, bukan mencari jalan keluar.

BackstreetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang