Perseteruan Keluarga

126 8 0
                                        

Rayn berjalan menghampiri meja yang semula diisi oleh Keesha dan Vero.

Vero mengangkat wajahnya saat seseorang duduk di depannya tanpa basa-basi.

Sebelum mengeluarkan sepatah kata, mata Rayn lebih dulu menelisik keadaan meja. "Siapa sebelum gua?"

Vero ikut menatap apa yang Rayn tatap. "Lo masih punya perasaan sama Keesha?" tanyanya sekaligus menjawab pertanyaan Rayn.

"Lo nyuruh gua kesini buat bahas Keesha? Setelah lo ninggalin Alif di negeri orang lo masih bisa bahas orang lain? Pardon me, tuan Adhinata?"

"Semua bakal gua bahas. Tapi sebelum itu, gua harus tau kapan kalian ketemu," ujar Vero masih dengan nada tenang.

Alis Rayn terangkat sebelah. "Keesha udah bilang?" Kali ini Vero mengangguk. "Baguslah." Rayn membenarkan posisi duduknya. "Beberapa hari lalu dia ke kamar Alif. Gua juga baru tau kalo belakangan ini dia orang yang suka jagain Alif selagi Ares ataupun gua gak ada."

"Maksud lo jagain?" Vero tak mengerti. Keesha tak mengatakan tentang hal itu tadi. Dan bahkan saking kagetnya ia tentang Keesha yang sudah mengetahui banyak hal membuatnya lupa menanyakan beberapa hal janggal.

"Kakaknya lahiran, kan? Ares bilang selama dia nemenin kakaknya, dia juga sering ajak main Alif. Bahkan Alif udah nyampe ke rumah Keesha."

Tiba-tiba tubuh Vero menegak kaget.

Melihat itu Rayn terkekeh sinis. "Baru Keesha sama cowoknya. Belum sampe telinga siapapun."

Bukannya tenang, justru Vero makin kaget. "Edgar tau?"

Alis Rayn terangkat. "Jadi namanya Edgar? Gua gak tau orang yang sama atau bukan. Kemarin Keesha ke kamar Alif bareng cowok yang ngaku sebagai calon tunangannya," ujar Rayn. "Ternyata selama ini dia fine?"

Vero diam. "Baru belakangan ini. Sebelumnya dia sama hancurnya kayak gua."

Rayn mengangguk mengerti. "Gua gak peduli kalo lo gak terima. Tapi fakta tentang Alif, gua pengen seenggaknya satu orang tau keberadaan anak Rachel."

Tidak menutup kemungkinan. Cepat atau lambat, dari Rayn ataupun mulut yang lain, fakta tentang dirinya pasti tetap akan terkuak.

"Thanks. Dengan itu gua jadi gak harus nanggung beban berat lagi." Dan ternyata jujur tidak semenyeramkan itu. Yang selama ini ditakutkannya mengenai respon orang-orang, kini sudah mampu ia hadapi sendiri. "Banyak hal yang selama ini gua tahan. Rasanya buat speak up pun gua gak punya tempat."

Baru kali ini ia bisa berbincang dengan kakak iparnya tanpa menggunakan emosi.

"Dan barusan bisa gua keluarin di depan cewek yang gua sayang."

"Lo gila?" tanya Rayn tak mengerti jalan pikir orang di depannya. "Setelah semua yang terjadi, isi otak lo masih tentang Keesha?"

"Gua gak bisa nipu diri gua sendiri."

"Lo ninggalin Alif demi Keesha?"

Tanpa ragu Vero mengangguk.

"Emang pantes adek gua manggil lo bajingan."

Vero terkekeh. "Gua masih punya adek selain Iyan ya?"

Rayn hanya diam. Malas menimpali.

"Kenapa lo bilang ke Keesha kalo alesan lo ngajak ketemu dia dulu itu buat jebak gua?"

Rayn mencerna sejenak pertanyaan Vero. Pergantian topik secepat itu membuat otaknya kaget. "Karna emang itu tujuan gua."

Vero tak mengerti. "Bukannya lo emang suka sama Keesha?"

"Menurut lo disaat gua tau keadaan Rachel, gua masih bisa ngurusin perasaan gua sendiri?" tanya balik Rayn. "Gua bukan lo."

BackstreetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang