Lentera Cafe

132 9 1
                                        

"Sha..."

Dalam sepersekian detik tatapan Keesha beralih pada tangan Vero yang menggenggam tangannya.

"Anjing!" umpat Edgar sembari bangkit dari tempat duduknya.

Melihat itu, dengan cepat Keesha menguasai dirinya. Ia menghempas tangan Vero hingga genggaman itu terlepas.

"Stop kak. Jangan lewatin batas kakak, lagi." Dengan tatapan tajam yang tertuju pada Vero, Keesha memberi kode pada Edgar menggunakan tangannya yang lain.

Melihat tangan Keesha terangkat dibawah meja, membuat Edgar menghentikan langkahnya yang akan menghampiri keduanya. Tanpa berniat untuk kembali duduk, Edgar masih memperhatikan gestur Vero yang tengah menatap Keesha kaget.

Keesha melirik Edgar, memberi gelengan tipis membuat nafas Edgar yang masih naik turun mencoba untuk stabil.

Vero pun masih membatu. Bukan karna merasa tidak enak atas tindakannya yang lancang, tapi karna kaget akan respon Keesha yang terkesan kasar untuknya.

"Sha?" tanya Vero membuat Keesha kembali menatapnya. "Kamu barusan bentak kakak?"

Keesha berusaha menjernihkan pikirannya. "Aku bakal lembut selama kakak bisa jaga batasan diantara kita."

Seketika Edgar menggeram sembari buang muka mendengar ucapan wanitanya. "Bandel banget sih jadi cewek."

Seperti ada bisikan setan. Keesha pun terkesiap kaget.

"Bodoh Keesha! Kenapa harus kata 'kita' yang keluar?!"

Edgar hanya bisa mengeraskan urat lehernya guna menahan rasa tidak suka yang menguar sejak tadi. Tubuhnya kembali duduk dikursi dengan tatapan yang tak teralihkan sedikit pun.

Vero mengangkat bibirnya tipis. Ia mengangguk seraya mengalihkan fokusnya dengan meminum americano yang ia pesan.

Secara spontan Keesha ikut menyecap minumannya.

"Perasaan Edgar, kamu semenjaga itu ya?" ujar Vero tiba-tiba membuat Keesha menahan minuman di mulutnya. "Kenapa pas sama kakak kamu gak bisa kayak gini, Sha?"

Kening Keesha mengerut tak terima. Tangannya menyimpan gelas minuman dengan tidak santai. "Maksud kakak apa?"

"Kejadian Rayn. Kenapa kamu gak bisa ngasih batasan yang sama terhadap Rayn kayak ke kakak sekarang?"

"Kenapa harus bahas yang udah lalu?" Keesha balik bertanya.

Vero memajukan tubuhnya. "Kamu jelas tau kalo rasa sakit kakak ngebuat kakak masih stuck di masa itu. Apapun hal yang terjadi di masalalu yang berhubungan dengan hancurnya hubungan kita itu masih jadi pertanyaan terbesar buat kakak. Bahkan hal itu masih jadi penyesalan terbesar dalam hidup kakak."

Keesha menggeleng tak percaya. "Bahkan setelah kakak ngelakuin kesalahan lain yang menurut aku itu jauh lebih besar daripada hal yang kakak bahas barusan, kakak masih bisa ngomong kayak gini ke aku?" tanyanya tak habis pikir.

Vero diam mendengarkan lebih lanjut.

"Menikahi Rachel tanpa melakukan hal yang selayaknya dilakukan oleh suami istri pada umumnya, gak ngasih nafkah batin dan support dalam bentuk apapun buat wanita yang lagi ngandung anak kakak dengan keadaan yang gak perlu aku sebutin lagi, bahkan nelantarin darah daging kakak sendiri pun kakak tega ngelakuinnya."

"Makanya kakak bilang kakak masih sangat menyesali takdir hubungan kita sampai saat ini ya karna kalo hubungan kita baik-baik aja, rentetan kejadian yang kamu sebutin tadi gak bakal kejadian, Sha."

"Enggak," sergah Keesha cepat. "Semua itu bakal tetep kejadian."

Edgar merunduk saat ponselnya menyala, ada notif dari Mamanya.

BackstreetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang