"Siapa yang nelpon?"
Keesha menoleh kaget mendengar suara Edgar. "Loh kamu sejak kapan disini?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Edgar.
Edgar berjalan kearahnya. "Baru tadi," sahutnya pelan. "Itu tadi siapa?"
Keesha melirik ponselnya sebentar. "Bang Arka. Dia nanyain kenapa aku nginep disini."
Edgar mengerutkan keningnya. "Emang tadi mama sama papa gak izin dulu ke tante Sandra?"
Keesha tertawa. "Biasalah, mama emang suka liat aku sama bang Arka ribut." lalu ia melirik pintu yang terbuka. "Udah yuk turun lagi, gak enak dikira kita lagi ngapain dikamar gini."
Edgar menahan tangan Keesha yang hendak keluar kamar. "Bentar." ia maju, mengikis jarak diantara dirinya dan Keesha dengan melingkarkan tangannya dipinggang gadisnya itu membuat Keesha refleks memejamkan matanya melihat pergerakan Edgar yang cepat dan tiba tiba itu.
Dan kejadian itu terulang lagi. Dimana diantara keduanya sudah tak ada lagi jarak, nafas masing masing yang saling menerpa dan milik keduanya yang saling menempel.
Keesha mengalungkan tangannya pada leher Edgar membuat kekasihnya itu lebih gencar lagi dalam melakukan aksinya.
Baru saja Edgar memiringkan wajahnya tiba tiba keduanya dikagetkan oleh suara yang menggelegar.
"WOOO GILA LO BERDUA."
Refleks Keesha menurunkan tangannya sambil menjauhkan diri dari Edgar. Sementara Edgar si manusia yang tidak punya malu itu malah berlagak santai seakan tidak terjadi apa apa disana.
"Emang kurang ajar lo, kita semua disini ceritanya mau nemenin orang sakit tapi malah kita yang sakit," celetuk Rio. "Udah mah sakit mata ditambah sakit hati pas sadar kalo gue jomblo."
Sontak Levin menabok Rio. "Dikit lagi lucu, Yo"
"Ngapain lo semua kesini? Ganggu aja kayak setan," umpat Edgar.
Adrian tersenyum miring. "Untuk pertama kalinya ada legenda dimana setan dapet pahala."
Rio mengangguk. "Yoi gua setuju. Emang dasar generasi micin lo berdua."
Keesha mendelik. "Yang setan tuh Edgar, noh tuh anak yang mulai duluan."
Edgar menoleh tak santai. "Lah terus ngapain tadi kamu respon?"
"Ya itu cuma refleks aja," sahutnya pelan dengan nada tak yakin.
Melihat itu sontak Ana tersedak tawa. "Udah ayo ah ngapain ganggu orang pacaran," ajaknya sambil menarik tangan Rio dan Adrian yang berada dikedua sisinya. "Eh tapi mending lo ikut kita daripada entar kalian mulai lagi," sindirnya membuat Keesha mendengus kemudian berjalan duluan menarik Ana untuk menuruni tangga.
Levin tertawa melihat kedua gadis itu meninggalkan mereka dalam situasi awkward seperti ini. "Abis ngapain lo Gar?" isengnya menggoda.
Edgar menoleh. "Latihan buat malem pertama nanti."
Tawa Levin dan Rio berderai mendengarnya.
Sedangkan Adrian hanya mendengus keras. "Emang anjing lo berdua," umpatnya pada Edgar dan Keesha.
Saat keempatnya turun, dilihatnya ruang tengah kosong.
Edgar mengerutkan keningnya. "Sha," panggilnya setengah berteriak.
"AKU DI DAPUR," balas Keesha berteriak keras.
Edgar hanya ber-oh ria dalam hati. Ia duduk dikarpet, di samping Rio sambil membuka ponsel hitamnya.
"Gila gua masih gak nyangka bang Jeremy bisa langgeng sampe sejauh ini sama tuh cewek." Levin mulai membuka suara.
"Jodoh mana bisa ada yang nebak. Kali aja mereka cuma langgeng sampe tunangan," sahut Rio santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Backstreet
Teen Fiction(Cover by pinterest) (Sedang tahap revisi) Saat dirasa nafas keduanya hampir habis, Edgar pun melepas tautannya. Dengan kening yang masih menempel satu sama lain, Edgar berbisik pelan. "Janji mau nurutin perintah gue?" Keesha yang tengah berusaha me...
