YASA bukanlah gadis cengeng yang percaya akan cerita dongeng. Dia tak pernah mengharapkan keajaiban sepatu kaca di tengah malam. Dia juga tak pernah memimpikan Pangeran berkuda putih yang akan menjadikannya Ratu. Tak pernah sekalipun Yasa meminta pada Tuhan untuk menikah dengan pria tampan atau dipersunting oleh pria kaya raya. Yasa hanya ingin hubungan yang sederhana namun indah. Hubungan yang suci, juga menguatkan. Karena, Yasa paham. Dia bukanlah Juliet yang dirindukan oleh Romeo, dia juga bukanlah Sinta yang dilindungi oleh Rama. Yasa hanya Yasa, gadis biasa yang merindukan asa.
Yasa terpaku dengan pikirannya sendiri. Meja guru di sudut ruangan menjadi tempat ternyaman bagi Yasa untuk merenung. Perempuan yang kini berseragam gading itu, teramat larut memikirkan takdirnya dari Tuhan. Takdir untuk menikah dengan pria beristri, lalu melahirkan seorang bayi, dan berakhir dengan diceraikan.
Yasa tersenyum kecut saat mengingat hal itu.
Jujur, jika dengan menjual mahkotanya bisa memberikan kedamaian untuk Bapak dan Mala, Yasa rela. Namun, Yasa masih terganggu dengan keadaan Elfara yang benar-benar di luar dugaannya. Tak pernah terbayang dalam benak Yasa kalau Elfara sehancur itu. Sorot pilu dari kedua manik Elfara, masih nyata terlihat di pelupuk mata Yasa. Rasa sakit Elfara yang mungkin takkan pernah bisa terobati, masih bisa Yasa bayangkan. Sebagai seorang perempuan, hati Yasa ikut teriris. Yasa bisa mengerti kekecewaan Elfara. Yasa juga paham akan rasa kehilangan. Karena, Yasa tahu. Tak ada yang lebih pedih dari rasa sakit akan kepergian seseorang.
“Hayoloh! Malah ngelamun!”
Ucapan itu sontak membuat Yasa terpelonjat kaget. Dia celingak-celinguk sampai akhirnya kedua bola matanya berakhir pada pria yang berdiri di samping meja.
“A Nuril! Aku kaget!” pekik Yasa.
“Gak baik ngelamun di siang bolong.” Pria bernama Nuril itu tersenyum hingga memamerkan gigi gingsulnya yang begitu manis. Pria yang kini juga berseragam gading itu melirik jam tangannya sekilas. “Sekarang udah masuk jam istirahat makan siang, mau makan siang bareng gak?” tanyanya.
Yasa ikut melirik jam tangannya sendiri. Dia hampir saja lupa dengan posisinya saat ini yang masih berada di ruang guru. Padahal, tadinya dia hanya ingin sedikit rehat. Namun, malah berakhir dengan memikirkan segala hal yang terus mengganggu hatinya.
“Gimana ... mau gak?” Nuril kembali bertanya.
Yasa tersenyum tipis. “Terima kasih atas tawarannya, A. Tapi, kayaknya aku mau langsung pulang aja. Soalnya, udah gak ada jadwal juga,” ucapnya.
“Oh, iya. Hari Senin kamu sampai jam ketiga aja, ya?” tanya Nuril.
“Iya ... makanya, aku mau langsung pulang.”
“Pulang sama siapa?” pertanyaan Nuril malah dijawab kekehan kecil dari Yasa. "Ya, udah ... sebelum pulang, kita makan dulu, yuk! Nanti, Aa anterin sampai rumah.”
“Emang Aa gak ada kelas lagi?” tanya Yasa.
“Ada. Cuman ... enggak masalah kalau telat dikit. Anak-anak juga udah dikasih tugas, kok!”
“Dih, melalaikan tugas mengajar. Dimarahin Pak Kepsek loh!”
“Asal jangan keseringan. Apalagi ketahuan.” Nuril terkekeh pelan sebelum mengambil helm dari mejanya. “Yuk!”
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomanceKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
