GESA membawa Yasa ke sebuah kafe di tengah Kota Bandung. Dua orang itu hanya duduk di samping jendela kafe yang mengarah langsung ke jalan raya.
Hirup pikuk keramaian kota masih menjadi panorama indah bercampur penat. Jalanan sibuk yang membelah kota masih menjadi kronologi tenat pengantar pulang. Orang-orang sibuk dengan tujuan mereka masing-masing. Berbeda dengan Gesa dan Yasa yang tak tahu apa tujuan mereka duduk di tempat seperti ini.
Di sana, Gesa tak melepaskan pandangannya dari Yasa. Entah karena apa, tapi tak ada yang Yasa ucapkan. Perempuan itu masih sibuk dengan lamunan dan tatapan kosong dari mata legamnya. Namun, jemari lentik Yasa terus menyusuri bibir cangkir di depannya. Tadinya, kopi bercampur karamel itu masih hangat dan indah dengan sebuah lukisan selembar daun. Kini, beberapa tetes kopinya meleleh ke tepian cangkir.
Di luar sana, matahari mulai lelah untuk menyinari bumi. Hanya kurang dari dua jam, dia akan segera tenggelam. Namun, Yasa masih belum lelah pada kebisuan dari tutur santunnya. Lebih dari setengah jam mereka duduk tanpa mengatakan apa pun.
Dehaman kecil dari Gesa memecah keheningan di antara mereka. Yasa menoleh, menatap wajah Gesa di depannya.
"Anda tahu tujuan saya datang ke sini. Saya ingin mengambil kembali putri saya," ucap Yasa.
Gesa sudah menduga hal ini yang akan terjadi setelah Yasa menelpon dan mencaci Gesa habis-habisan. Pria itu terdiam sambil memainkan cincin pernikahannya. Dia putar cincin itu dan sesekali melepaskannya. Sumpah, Gesa tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia biarkan kebisuan membungkam setiap tuturannya untuk Yasa.
Tiba-tiba, Yasa tersenyum kecil. Perempuan berambut pendek itu merogoh tas kecilnya. Dia buka selembar kertas yang kusut dan hampir sobek. Dia baca isi dari kertas itu. "Di sini tertulis dengan jelas ... dalam perjanjian transaksi kita, saya hanya perlu mengandung anak anda dan istri anda. Setelah itu, saya harus memberikan bayi yang saya kandung pada kalian berdua," ucapnya seolah tengah mendikte setiap kata yang tertulis di sana.
Yasa berdiam sejenak. Tatapannya kian hina saat menatap kalutnya sorot mata bermanik legam milik Gesa. "Tapi ... karena syarat dari perjanjian itu tidak sesuai, berarti saya berhak untuk tidak memberikan bayi yang saya kandung."
Yasa remat kertas itu dengan marah yang terpendam dari sorot matanya. Dia tatap wajah Gesa tanpa gentar dari hati yang bergetar. "Bukankah begitu prosedur transaksinya, Pak Gesa yang terhormat?!" cecarnya.
"Yas, aku jelaskan dulu semuanya. Setelah itu, terserah kamu. Kamu mau marah, silakan. Kamu mau caci maki aku, silakan. Aku akan terima, tapi tolong ... jangan salah paham dulu."
Yasa berdecak kesal. Dia menggulirkan matanya begitu erak. Erangan hatinya sudah tak bisa dia bendung lagi. Sumpah serapah serta perkataan buruk sudah menggulung di ujung lidahnya.
"Iya, Yas ... bayi itu putri kita. Dia darah daging kita berdua--"
"Penipu!"
Gesa menghirup udaranya dalam-dalam. "Maaf," ucapnya.
"Maaf! Maaf! Maaf! Gak guna, berengsek!" umpat Yasa penuh kebencian. "Sejak awal, hanya maaf yang aku dengar, tapi mana? Gak ada buktinya! Kamu hanya minta maaf sebelum akhirnya melakukan kesalahan baru!"
Jantung Gesa kian berdebar tak karuan. Dia meraih tangan Yasa untuknya genggam. Namun, hanya penolakan yang Gesa terima dari Yasa. Tangannya ditepis dengan kasar.
"Yas, Elfara mulai pulih. Dia akan sembuh. Tolong, biarkan Elfara yang merawat putri kita."
"Sampai kapan? Sampai kalian lupa kalau aku ibunya?!" Yasa berteriak dengan suara yang bergetar. "Sekarang, aku yang sakit, Gesa! Hatiku yang sakit. Aku juga menginginkannya. Aku juga mau memeluknya. Bahkan, aku ingin genggam kecil dari jari mungilnya ... aku ingin semua itu."
Yasa terisak pelan. Hatinya benar-benar telah hancur. Rasa sesak di dadanya terasa kian menyiksa. Yasa menunduhkkan kepala, menyembunyikan derai air matanya sendiri. "Dia putriku ... aku ibunya."
"Yas, kamu sempurna ... kamu kuat, tapi beda dengan Elfara. Dia gak bisa jadi seorang ibu. Dia gak bisa, Yas. Aku mohon, bantu Elfara."
"Bantu? Aku juga ingin jadi seorang ibu. Aku yang mengandungnya! Aku juga yang melahirkannya. Setelah lahir, wanita itu yang memilikinya! Aku ibu kandungnya!"
"Yas, tolong jangan egois."
Amarah Yasa kian tersulut. "Siapa yang egois?! Perempuan yang memberikan putrinya sendiri untuk perempuan lain. Itu yang kamu sebut egois?!"
Yasa berdiri dengan amarah yang menyemuti jiwanya "Pikir dengan akal sehat!" teriaknya.
Yasa sontak menyiram Gesa dengan kopi pekat miliknya. Kemeja putih pria itu kini basah dan kotor berbau kopi. Gesa ikut berdiri dengan amarah yang ikut tersulut-sulut.
"YASA!"
Gesa menyeret tubuh Yasa. Dia cengkeram lengan Yasa hingga mereka keluar dari kafe dan meninggalkan orang-orang yang menikmati tontonan menyenangkan itu.
"Mereka siapa dan kenapa?"
"Sepertinya masalah rumah tangga."
"Kenapa di bawa ke tempat seperti ini, sih! Mereka gak punya rumah untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri?"
Sayup-sayup terdengar celaan keji dari orang-orang itu. Namun, Gesa semakin kasar menarik lengan Yasa hingga pemiliknya meringis kesakitan.
"Kamu udah melewati batas, Yas! Kamu gak malu jadi tontonan seperti itu?! Hah?! Kamu udah kehilangan harga diri?!"
"Aku gak peduli! Biarkan semua orang tahu betapa berengseknya seorang Gesa! Biarkan mereka tahu!"
Gesa mendorong tubuh Yasa untuk masuk ke dalam mobil. "Masuk!"
Setelah memaksa Yasa duduk tenang di dalam mobil, Gesa ikut duduk di kursi kemudi. Dengan satu tangan berada di gagang bundar di depannya, Gesa mulai melucuti kemeja kotornya. Satu per satu kancing kemeja itu dia buka dengan sebelah tangan.
"Ambilkan baju aku di kursi belakang!" titahnya dengan ketus.
Yasa malah terdiam. Dia tak sudi untuk sekedar menengokkan kepalanya pada Gesa. Perempuan itu memilih menatap jalanan yang kini mereka lewati.
Gesa menoleh sekilas, menatap Yasa di sampingnya. "Mau kamu apa sih, Yas?"
"Aku mau putriku! Kembalikan putriku! Apa itu kurang jelas?!"
Helaan panjang kembali terdengar dari bibir Gesa. "Yas, tolong biarkan Elfara menjaganya ... apa aku perlu berlutut di bawah kaki kamu? Tolong ... aku minta tolong."
Yasa terdiam.
Apa pengorbanan yang dibelenggu oleh kebohongan bisa disebut sebuah pertolongan? Yasa juga seorang perempuan yang memiliki rasa. Dia juga ingin menjadi seorang ibu. Dia ingin merasakan keajaiban kecil dari putrinya sendiri.
"Kamu mau apapun, aku kasih, Yas."
Tiba-tiba, jantung Yasa terasa berdebar lebih kencang. Darahnya seakan berdesir dari ujung kaki hingga kepala. Dia remat tangannya sendiri yang bergetar.
"Baiklah."
Yasa menghela napasnya sebentar. "Aku biarkan perempuan itu memiliki putriku, tapi apa aku boleh memiliki suamiku?" tuturnya penuh keyakinan.
Pertanyaan Yasa sanggup membuat Gesa menghentikan laju mobilnya tiba-tiba. Pria itu langsung menatap indah manik legam Yasa.
"Yas ...."
"Ceraikan perempuan itu."
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomansaKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
