GESA memarkirkan mobil di perkarangan rumah Yasa. Dia tatap sekali lagi selembar kertas di kursi penumpang, kemudian memasukkannya dalam sebuah amplop. Setelah dirasa cukup untuk menunda beberapa menit, akhirnya dia keluar dari mobil. Sesaat setelah kaki jenjangnya menginjak tanah, udara dingin pagi hari seketika memeluknya. Hawa panas yang keluar dari bibir itu mampu mengciptakan kepulan asap tipis. Gesa tak menyangka dia akan sampai sepagi ini. Langkah pria itu terlihat gontai karena menghabiskan malamnya dengan mengemudi dari Bandung ke Sukabumi.
Setelah beberapa kali Gesa mengetuk, akhirnya pintu besar itu terbuka dan langsung memamerkan figur Yasa yang sepertinya belum usai dari tangisan. Gesa tatap wajah itu begitu lekat, masih terlihat linangan air mata di sana.
“Kamu nangis?” tanyanya.
Yasa menggelengkan kepalanya. “Kenapa datang pagi-pagi begini?” tanyanya.
“Ada hal yang harus kita bicarakan.” Gesa melangkah masuk. “Tapi, tidak di sini.” Langkah jenjang dari pria itu langsung tertuju pada kamar Yasa. Dari belakang, Yasa hanya mengikuti langkah kaki Gesa dengan pikiran yang mulai menerka hal apa yang akan Gesa bicarakan padanya.
Tiba-tiba Gesa memberikan amplop berisi selembar kertas pada Yasa. Jujur, Yasa tak mengerti apa yang Gesa tulis dalam selembar ketas putih itu. Dia tatap lekat setiap deretan kalimat yang tercetak di sana. Banyak sekali hal yang Gesa tulis.
“I—ini apa?” tanya Yasa.
“Perjanjian.”
“Perjanjian?”
Gesa menganggukkan kepalanya. “Harusnya, ditandatangani sebelum kita menikah ... tapi, sekarang pun gak ada bedanya,” ucapnya.
Yasa kembali menatap selembar kertas itu. Yasa baca sekali setiap perjanjian yang tertulis di sana. Isinya sangat banyak, mulai dari apa yang harus dan tidak harus Yasa dan Gesa lakukan, hingga bagaimana mereka membagi waktu sama lain.
“Bagaimanapun, kamu tetap istri sah saya. Kita tidak hanya terikat oleh hukum, tapi juga agama. Selama ikatan itu masih mengikat kita berdua, saya akan memperlukan kamu sama seperti saya memperlakukan Elfara.”
Yasa hanya terdiam. Dia tak henti membaca setiap butir dari perjanjian itu. Dia tunjuk salah satu tulisan di sana. “Ini maksudnya apa?” tanyanya.
“Kamu mau saya ceraikan, ‘kan?” tanya Gesa.
Pertanyaan itu tak Yasa jawab. Diam-diam, dia mengeratkan genggaman tangannya pada kertas itu. Darahnya terasa berdesir dengan denyut jantung yang kembali tak karuan.
“Saya akan menceraikan kamu, tapi setelah semua tujuan dari pernikahan kita tercapai,” sambung Gesa.
“Dan tujuan penikahan kita adalah keinginan kita berdua?” tanya Yasa.
“Betul.”
Yasa kembali menunjuk bagian dalam perjanjian itu. “Keinginan anda dari pernikahan ini adalah seorang anak?”
“Ya, sesuai dengan tujuan awal saya. Saya hanya ingin seorang anak. Seorang putra untuk saya dan Elfara.” Gesa mulai mendekati Yasa. Telunjuknya langsung tertuju pada bagian dari perjanjian yang sengaja dia kosongkan. “tapi itu hanya keinginan saya. Keinginan kamu, ya ... hak kamu. Makanya, saya sengaja kosongkan, supaya kamu bisa menulis sendiri apa yang kamu inginkan dari pernikahan ini.”
Yasa makin terdiam. Benaknya bertanya, apa yang aku inginkan dari pernikahan ini?
Jika bicara tentang keinginan, Yasa tak menginginkan hubungan seperti ini. Yasa tak menginginkan pernikahan ini. Yasa juga tak ingin memberikan seorang anak untuk Gesa. Namun, bagaikan belenggu yang menjerat kedua kakinya, Yasa seakan tak bisa melangkah lagi. Yasa tak bisa mundur, melangkahkan pun sangat enggan untuk Yasa lakukan.
“Apa pun,” ucap Gesa. “Apa pun yang akan kamu minta dari pernikahan ini, akan saya berikan.”
“Apa pun?” tanya Yasa.
“Ya, apa pun.” Gesa kembali menganggukkan kepalanya. Senyuman kecil dari pria itu seakan menjadi jaminan atas apa yang telah dia ucapkan.
Yasa balas senyuman kecil itu. Dia mendekati Gesa dengan selembar kertas dalam genggamannya. “Bahkan nyawa sekalipun?” tanyanya.
Diam-diam, Gesa mengepalkan tangannya. Entah kenapa, Yasa selalu sanggup membuat darah Gesa mendidih. Dengan susah payah, Gesa menormalkan denyut jantungnya. Beberapa kali dia menghela napasnya dalam-dalam. Memang salah menghadapi Yasa dengan cara baik-baik. Perempuan itu seakan diberi hati, tapi malah meminta jantung.
“Bapak!”
Mala berteriak dari luar. Teriakan gadis itu benar-benar mengalihkan perhatian Yasa dan Gesa. Yasa berlari ke kamar Bapak dan diikuti Gesa dari belakang. Di dalam kamar itu, Mala tengah menangis di samping Bapak. Seorang mantra juga masih setia memeriksa keadaan pria sepuh yang terbaring sakit itu.
“Neng Yasa, Pak Surya harus segera dibawa ke rumah sakit,” ucap sang mantri.
Yasa langsung menatap Gesa. Sorot matanya kini dipenuhi harapan pada Gesa. Namun, Gesa malah menarik lengan Yasa. Pria itu membawa Yasa ke luar kamar.
“Kenapa?” tanya Yasa.
Perlahan, Gesa melepaskan genggamannya dari tangan Yasa. Pupil mata Gesa terlihat bergetar ragu. “Kamu menginginkan nyawa, bukan?” tanyanya.
“Maksudnya?” Yasa tak mengerti dengan arah pembicaraan Gesa. Seakan ada tanda tanya besar di atas kepalanya, Yasa menatap Gesa dengan berbagai macam pertanyaan dalam benaknya. Bukannya menjawab, Gesa malah memberikan selembar penjanjian yang belum usai mereka bahas. Kini, Yasa paham. Dia mengerti maksud Gesa.
“Ya Tuhan!” Yasa mengerang kecewa. “Apa anda tidak bisa berbaik hati sedikit saja!”
“Saya sudah coba, Yas. Saya coba untuk menjadi orang baik. Saya coba berbaik hati. Tapi, saat kebaikan saya tidak kamu terima, apa yang bisa saya lakukan?” tanya Gesa. Sudah cukup kebaikan Gesa yang Yasa tolak selama ini. Gasa benar-benar ingin menjadi orang jahat kali ini.
“Baik!” Yasa rebut selembar ketas itu dari tangan Gesa. “Saya tandatangani perjanjian ini, tapi saya gak akan pernah memaafkan anda jika terjadi sesuatu dengan Bapak!”
Gesa mengulum senyuman kecil. Ternyata, ketidakberdayaan mampu mengalahkan ego dan harga diri manusia.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
Roman d'amourKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
