28. Restriksi

23.6K 1.7K 70
                                        

“Kita adalah dua orang yang sama-sama berjuang. Sayangnya, kita memperjuangkan dua hal yang berbeda.”

____________________________________


YASA menyambut kedatangan Gesa dengan sebuah senyuman yang terpatri indah di wajahnya. Perempuan berwajah ayu itu berdiri di beranda rumah, menanti setiap langkah kaki Gesa yang kini tertuju untuknya. Akhirnya, kegelisahan hati yang merindu seakan terbayar oleh kesederhanaan akan temu.

Lebih dari satu purnama, Gesa pergi. Yasa tak tahu hal ini melewati batas logika atau tidak, tapi kepingan rindunya sudah membumbung tinggi dan setiap interval jarak yang memisahkan mereka terus merayu Yasa untuk membuang jauh logikanya. Yasa sentuh perutnya yang mulai berani memamerkan keajaiban di dalam sana. Perut yang mulai membesar itu terlihat begitu cantik di balik dress babydoll warna biru muda. Senyumannya makin merekah saat langkah kaki Gesa menghapus jarak dari kerinduan mereka.

“Aku kembali,” begitu kata Gesa.

Entah penepatan sebuah janji atau perwujudan sebuah harapan, nyatanya Gesa kembali. Pria itu ikut menikmati keindahan wajah ayu milik Yasa di sana. Bibirnya tertarik karena sebuah senyuman. “Maaf, baru bisa kembali,” ucapnya.

Yasa raih tangan Gesa. Dia kecup punggung tangan itu. “Yang penting di sana segalanya baik-baik saja,” ucapnya.

Gesa tertegun. Dia bingung. Apakah segalanya sudah baik-baik saja atau malah badai besar yang menanti mereka.

“Bawa perempuan itu ke sini!”

Ucapan Mamah itu yang membawa Gesa ke tempat ini. Ucapan Mamah itu pula yang membuat Gesa semakin terjebak dalam kemelut akan rasa takut bercampur kalut.

“Gimana kabar Mbak Elfara?” tanya Yasa. Dia mengulum sebuah senyuman sebelum kembali berucap dengan suara yang bergetar, “Dia baik-baik aja, ‘kan?”

Gesa menggelengkan kepala, dia menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Yasa. Dia dekap tubuh Yasa dengan erat. “Enggak, Yas ... semuanya gak—”

Ucapan Gesa tiba-tiba berhenti begitu saja. Dia merasakan ada yang berbeda dari Yasa. Serasa ada hal yang mengganjal dalam pelukan mereka. Keduanya terdiam dan saling menjatuhkan pandangan satu sama lain. Sampai akhirnya, kedua pasang manik legam itu berakhir pada perut Yasa yang mulai membulat.

“Sekarang, udah gak sebesar kacang polong lagi,” ucap Yasa.

Pupil Gesa terlihat membesar saat menatap perut Yasa. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Tangan kokoh nan derana yang semula melingkar di pinggang Yasa, perlahan bergerak untuk menyentuh perut indah di depannya. Gesa merasakan ada sebuah kehidupan di dalam sana, ada sebuah keajaiban yang menanti mereka.

“Berapa lama aku pergi?” tanyanya.

“Empat pekan?” tanya Yasa memastikan. Kini, benaknya tengah menghitung berapa hari Gesa meninggalkannya. “Oh, satu bulan lima hari.”

Gesa menggelengkan kepala dengan ribut. “Enggak ... enggak mungkin. Kenapa dia harus tumbuh sebesar ini saat aku gak ada,” keluhnya.

“Dia bisa menjadi lebih besar lagi,” sahut Yasa.

Seakan menjadi penawar, kehadiran bayi dalam rahim Yasa mampu mengobati kekalutan Gesa. Semua kekhawatiran Gesa seakan hilang begitu saja. Senyuman yang sejak tadi hilang dari wajah rupawan itu, akhirnya terpatri indah dengan kedua lengkungan bulan sabit dari kedua matanya.

“Harusnya dia masih sebesar kacang polong,” ucap Gesa.

Lagi-lagi, Yasa tertawa kecil. Perlahan, dia melingkarkan kedua tangannya di ceruk leher Gesa. Kedua kakinya sedikit berjinjit, mengikis jarak wajah mereka berdua. “Makanya, jangan terlalu lama di sana ... kacang polongnya udah gak sabar nahan rindu,” bisiknya.

Gesa begitu leluasa mendekatkan wajahnya pada Yasa. Namun, belum sempat bibir mereka bertemu, kedatangan Mala lebih dulu mengejutkan mereka.

“Ekhem!” Mala berdeham. Gadis itu dengan seragam SMA itu menyodorkan sebuah aplop ber-kop SMA Husada. “Ada surat dari sekolah. Karena Teteh masih cuti ngajar, jadi dititipin ke aku,” jelasnya

"Yas ... masuk, Yuk!" Gesa melirik Mala sekilas. “La, Aa bawa oleh-oleh buat kamu sama Bapak, ambil gih di kursi belakang,” ucapnya.

Saat Mala berlari ke dalam mobil hitam di pekarangan rumah, Gesa segera menuntun Yasa masuk ke dalam rumah. Setelah menyapa Bapak di ruang televisi, dua orang bergegas masuk ke dalam kamar. Gesa hanya duduk di tepian ranjang, sedangkan Yasa memeriksa isi tas Gesa.

“Yas, kenapa kamu ambil cuti ngajar?” tanya Gesa tiba-tiba.

Yasa menoleh sebentar. “Enggak parah sih ... cuma lagi manja aja. Punggung sering sakit. Gak kuat kalau berdiri atau duduk lama-lama. Makanya, aku ambil cuti dulu,” ucapnya.

“Kamu kenapa gak bilang?” tanya Gesa.

“Aku tahu, di sana kamu bukan untuk senang-senang. Aku gak mau nambah-nambah beban pikiran kamu karena hal sepele seperti ini. Kata Bu Bidan, sakit punggung begini wajar kok, karena memang ukuran bayinya juga mulai membesar,” jelas Yasa.

“Masih sering muntah gak?”

“Udah jarang dan gak separah waktu itu.” Yasa mulai mendekati Gesa. Dia duduk ikut di tempat yang sama.

Gesa tak mengerti kenapa Yasa memberikannya sebuah ponsel lengkap dengan tampilan play list di layarnya.

“Katanya, di usia kandungan empat bulan, bayinya udah mulai bisa mendengar,” ucap Yasa. Dia menuntun tangan Gesa agar kembali mengusap perutnya. “Kamu suka lagu apa?” tanyanya.

Gesa tersenyum kecil. Dia malah mendekatkan wajahnya tepat ke perut Yasa. “Halo, sayang ... ini Ayah ... Kamu dengar suara Ayah gak?” bisiknya.

Banyak sekali kata cinta dan gurauan yang Gesa bisikkan untuk calon bayinya. Hati Yasa terasa menghangat saat mendengarnya. Bahkan, hal itu sanggup menggelitik perut Yasa seolah ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalamnya.

“Kamu udah gak sabar?” tanya Yasa.

Gesa mendongkakkan kepalanya, menatap wajah Yasa dari bawah. “Banget ... aku penasaran, gak sabar, dan gak bisa untuk nunggu lagi,” ucapnya.

“Gak lama lagi ... lima bulan lagi,” sahut Yasa. Dia tertegun karena ucapannya sendiri.

Lima bulan lagi, batin Yasa bergumam.

Sebenarnya, Yasa tak sangat suka untuk menghitung mundur, tapi waktu tak mau berhenti untuk bergulir. Rasa bahagia yang Yasa rasakan saat ini, tetap akan berakhir. Keajaiban dalam rahimnya, lambat laut akan dimiliki oleh perempuan lain. Lalu, Gesa juga akan kembali meninggalkan Yasa di sini sendirian.

“Yas ... kita ke Bandung, yuk! Kita temui Mamah,” ucap Gesa.

“Ketemu Mamah? Untuk apa?” Yasa bukan tak mau, tapi dia bingung untuk apa dia menemui orang tua Gesa. Semakin banyak hubungan yang dia jalani, semakin berat rasanya untuk Yasa mengakhiri.

“Mamah mau ketemu kamu.”

Suara Gesa benar-benar terdengar lembut saat masuk ke dalam pendengaran Yasa. Yasa terdiam sejenak, mencerna ucapan pria itu. “Orang tua kamu tahu aku?” tanyanya

Gesa hanya mengangguk samar.

Yasa pandangi wajah Gesa di sana. “Aku sangat tidak suka untuk membahas hal ini, tapi aku bingung. Aku harus menemui orang tua kamu sebagai apa, istri simpanan atau ibu pengganti?”

𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .

HARGA RAHIM YASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang