“Kita bukan bukti dari ironi kisah cinta, kita hanya dua orang yang memilih untuk menyakiti sebelum akhirnya disakiti.”
_____________________________________
YASA melirik Gesa di sampingnya melalui sudut mata. Senyuman pria itu seakan memberi kabar gembira pada Yasa bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa semuanya akan berakhir indah seperti mimpi Yasa. Namun, sekali lagi. Yasa tak tahu senyuman itu termasuk skenario atau memang ketulusan hati dari seorang Gesa.
Perlahan, Yasa kembali melabuhkan pandangan itu pada figur Mamah yang duduk di depan mereka. Yasa sukar untuk rasa pada asa. Dia tak bisa membaca sorot mata perempuan paruh baya di depannya. Namun, dengan jelas Yasa bisa melihat ke mana pandangan Mamah mengarah. Perempuan berumur senja itu menaruh tatapannya tepat pada perut Yasa.
Yasa tarik cardigan tebal yang dia pakai untuk menutupi perutnya yang mulai terlihat membesar. Yasa genggam ujung cardigan itu dengan erat. Yasa bukan risi pada rasa, tapi dia sungkan karena mendapat tatapan seperti itu dari Mamah. Tatapan yang seakan menyimpan banyak makna yang tak bisa Yasa mengerti.
“Jadi kamu seorang guru?” tanya Mamah.
“Iya. Guru honorer sekolah swasta di kampung.”
Mendengar jawaban Yasa, Mamah menurunkan pandangannya, kemudian menatap Gesa yang kini masih duduk di samping Yasa. Putranya itu seakan tak mau melepaskan genggamannya dari Yasa. Mamah tatap sepasang tangan yang terpaut erat di sana.
Yasa ikut melirik genggaman tangannya bersama Gesa. Perlahan, dia lepaskan genggaman tangan itu. Dia mengenggam tangannya sendiri dengan sekuat tenaga.
Lagi-lagi, terdengar helaan napas yang panjang dari bibir Mamah. Kini, sorot matanya terlihat begitu lelah atau mungkin menyerah.
“Apa yang akan kamu lakukan setelah anak itu lahir?” Mamah tak henti bertanya.
“Pulang dan kembali ngajar.”
Yasa menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Apalagi yang bisa Yasa lakukan setelah transaksinya bersama Gesa selesai? Menjadi wanita murahan yang merebut milik orang lain? Tidak, Yasa tidak serendah itu. Dia tak lupa siapa yang berhak memiliki Gesa sepenuhnya, siapa yang berhak ada di samping Gesa. Karena sejak awal, Yasa hanya seorang tamu, seorang yang singgah sementara dalam mahligai rumah tangga Gesa dan Elfara.
“Apa uang yang Gesa berikan, kurang?”
“Lebih dari cukup. Bahkan, terlalu banyak. Tapi ... ini bukan tentang uang. Saya masih memiliki keluarga untuk saya jaga di rumah. Ada Bapak yang mulai sakit-sakitan. Juga Mala yang sebentar lagi lulus sekolah dan mungkin akan berkuliah juga.”
“Ibu kamu di mana?”
“Ibu belum lama tiada. Dia sakit keras sebelum akhirnya sembuh untuk selamanya.”
Keheningan tiba-tiba melanda ketiga orang itu. Hanya sunyi berpadu dengan sunyi yang merajai mereka semuanya. Semua santun tiba-tiba membisu. Hanya pandangan yang berakhir pada pandangan.
“Lalu ... tentang pernikahan ....” Mamah menggantungkan ucapannya. Dia melirik Gesa sekilas sebelum kembali manatap Yasa. “Kamu tidak berniat untuk menikah lagi setelah bayi itu lahir?” tanyanya.
“Untuk apa? Menjajakan rahim saya kembali?” tanya Yasa.
Jawaban itu sanggup membuat Mamah dan Gesa tercekat. Keduanya melempar tatapan satu sama lain.
“Jangan salah paham ... saya tidak berniat melukai siapa pun.” Yasa kembali memamerkan senyuman di wajah ayunya.
“Perjalanan kamu masih sangat panjang. Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan setelah bayi itu lahir,” timpal Mamah.
Entah sekedar skenario atau memang segenggam ketulusan hati, Yasa tak segan untuk terus menunjukkan lengkungan indah dari bibirnya. Sorot mata perempuan hamil itu bahkan penuh akan tekad dan keyakinan yang indah.
“Terima kasih atas perhatian anda, tapi biarkan saya memilih sendiri jalan yang akan saya lalui nantinya. Entah itu pernikahan ataupun suatu hubungan.” Yasa melirik Gesa sekilas. “Karena, seperti perjanjian saya dan putra anda, setelah seorang bayi saya berikan, tak ada lagi hubungan apa-apa antara kita berdua,” tuturnya.
“Yas,” panggil Gesa begitu pelan.
Bagaikan tembok tebal yang sukar untuk ditembus, Gesa tak mampu merobohkan pertahanan Yasa saat ini. Sudah berulang kali genggaman tangan Gesa mendapat penolakan dari Yasa.
“Anda tidak perlu khawatir saya akan meminta hal lain dari pernikahan saya dan putra anda. Saya tidak akan merebut hal yang bukan milik saya,” final Yasa.
Entah bagaimana obrolan sore kala itu berakhir. Tanpa disadari, jingganya langit sore sudah digantikan oleh langit malam yang begitu kelabu. Pertemuan Yasa dan Mamah diakhiri kala Mamah pergi. Perempuan sepuh itu memilih untuk pulang ke rumahnya sendiri. Katanya, “Ada baju kebaya yang belum Mamah selesaikan.”
Sekarang, hanya ada Gesa dan Yasa dalam luasnya rumah bergaya klasik itu. Tak ada yang menemani mereka berdua. Hanya adan Gesa, Yasa, dan segudang benang kusut dari perasaan mereka yang tak bisa diutarakan.
Seindah ketulusan cinta, bulan purnama masih bersinar di balik jendela. Riuh dedaunan yang dicumbu oleh angin malam masih seelok kenangan manis. Gesa masih tak bisa melepaskan tatapannya pada Yasa. Perempuan berwajah ayu itu tengah menyisir rambut legamnya yang indah. Jamarinya begitu cantik bergerak di sana. Sekarang, Gesa ragu siapa yang kini tengah bersandiwara, siapa yang kini bangga dengan kebohongannya.
“Yas, kenapa kamu bilang seperti itu sama Mamah?” tanya Gesa. Dia melangkah, mengikis jaraknya dengan Yasa.
“Bilang apa?” Yasa menoleh. Dia pandangi wajah Gesa di sampingnya. Lagi-lagi, senyuman itu yang Yasa berikan untuk Gesa.
“Tentang perjanjian ... kita.”
“Bukankah itu fakta?” tanya Yasa. Dia menghela napasnya sebentar. “Kamu hanya ingin seorang bayi dan aku hanya ingin melunasi utang. Hanya itu. Hubungan kita hanya sebatas itu.”
Gesa terbukam. Tak ada kebohongan dalam setiap kata yang Yasa ucapkan. Tak ada kepalsuan skenario yang bibir indah itu kecapkan. Namun, semuanya terlalu hina untuk Gesa puja, semuanya terlalu menyakitkan untuk Gesa sanjung. Gesa memalingkan wajah. Diam-diam, dia mengepalkan tangannya dengan erat. Entah apa yang membuat hati Gesa tersulut hingga bentangan vena di lengannya seakan-akan bisa mencuat keluar.
“Bukankah itu definisi indah dari sebuah transaksi, Pak Gesa?”
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
Roman d'amourKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
