67. Leta

21.9K 1.4K 93
                                        

GESA akhirnya kembali pulang. Hari-harinya kembali terulang, meski ada hal yang seakan hilang. Tenyata, tidak mudah untuk mengucapkan selamat tinggal. Apalagi, saat kerelaan hati malah berbuah gagal. Banyak sekali pertanyaan dalam benaknya. Banyak pula rasa ingin tahu dalam hatinya. Sedang apa Yasa jauh di sana dan bagaimana keadaan putri mereka di sana.

Sampai sekarang, masih jelas ingatan Gesa akan hari itu. Hari di mana Gesa menghabiskan malam dengan hati yang buntu. Gesa tak tahu apa yang harus dia tinggalkan untuk Yasa. Gesa juga tak mengerti kenapa hatinya kian merana akan rasa. Namun, keegoisan bukan hal yang patut Gesa damba. Karena, dalam hati yang rusak sekali pun masih ada rasa iba. Gesa tak lupa dengan keadaan Elfara, perempuan cantik yang masih tenggelam dalam duka dan lara.

Biarlah Ayas bahagia bersama ibu kandungnya dan biarkan Gesa menjadi sosok yang meninggalkan Yasa. Kini, izinkan Gesa untuk menebus semua kepulihan Elfara. Jika Tuhan mengizinkan Gesa untuk mengulang semua rasa, akan ada jalan indah untuk mereka semua. Entah dengan hati yang sama atau tidak, entah dengan perasaan yang serupa atau tidak, waktu pasti memiliki cara terbaik untuk memberikan penawar.

Sore ini, berteman hirup pikuk keramaian Kota Bandung, Gesa menyusuri jalanan sibuk menjelang petang. Pria itu duduk dalam kendaraan mewah yang masih dia banggakan. Rentetan kendaraan yang mengular sepanjang jalan seakan menyambut rasa jemu.

Karut-marut, kendaraan yang mengular di sana terus menahan Gesa dalam posisinya yang tidak bisa bergerak. Klakson mobil pun sudah dia nyalakan beberapa kali, berharap kendaraan di depannya bisa mulai bergerak. Sayangnya, tak ada satu jengkal pun yang tercipta dari mobil-mobil itu. Padahal, perjalanan Gesa kali ini berakhir dengan janji temu bersama Elfara.

Pria itu tengah menahan rasa rindunya untuk Elfaran.

Entah karena hal apa, tapi wajah Elfara benar-benar hadir di pelupuk mata Gesa. Wajah cantik perempuan bermanik cokelat itu begitu indah dalam bayangan semu di balik jemu.

Langit sore semakin membentang. Jalanan ramai perlahan bergerak pelan. Deretan kendaraan itu mulai mengeluarkan Gesa dari penjaranya. Dengan hati yang tersamar pulih, Gesa menyusuri kembali menyusuri jalanan menuju rumah sakit, tempat istrinya selalu menanti kedatangan Gesa.

Sesekali, Gesa melirik buket bunga mawar di kursi penumpang. Bunga semerbak wangi berwarna merah itu sengaja Gesa bawa, berharap bisa sedikit mengobati hati Elfara yang terus menunggu.

Waktu pun tak terasa bergulir pelan, Gesa sampai di depan parkiran rumah sakit jiwa bernama Dharmawiguna. Bangunan itu masih berdiri kokoh seperti hari-hari sebelumnya.

Namun, kedatangan Gesa disambut hal yang tak biasa. Suara sirine ambulance serta lalu lalang orang-orang, rasanya menjadi hal cukup berbeda hari ini. Gesa mengkerutkan keningnya penasaran, meski langkah kakinya tetap tertuju untuk Elfara.

Keadaan semakin tak biasa saat sirine ambulance bersahutan dengan sirine mobil polisi yang baru saja datang. Gesa tatap kekalutan orang-orang yang tak sengaja tertangkap oleh netranya. Dia cegat salah satu dari mereka.

"Permisi! Ini ada apa?" tanya Gesa. Dia cukup heran dengan semua orang di rumah sakit ini.

"Saya juga kurang tahu, Pak. Katanya, ada pasien yang mencoba bunuh diri."

Kedua alis Gesa menukik tajam. Keningnya mengkerut dengan pertanyaan-pertanyaan yang tergambar dari raut wajah rupawannya. "Bunuh diri?"

Pertanyaan Gesa dijawab oleh kedatangan suster berambut ikal yang berlari dari lorong berbeda dari rumah sakit. Perawat perempuan itu tergopoh-gopoh dengan langkah yang panik.

"Pak Gesa! Dari tadi kami coba menghubungi anda!" itu Indri. Perawat yang sering berkomunikasi dengan Gesa perihal kondisi Elfara.

Gesa makin dibuat tak mengerti. Wajah indah itu terlihat kebingungan. Seingat Gesa, ponselnya selalu ada dalam genggaman.

"Bu Elfara, dia ...."

Perkataan Indri seakan mendengung di pendengaran Gesa. Bahkan dalam hidup Gesa, tak pernah sekali pun dia membayangkan kata itu akan terdengar oleh rungunya.

Gesa membeku. Buket mawar merah digenggamnya jatuh begitu begitu saja. Setiap kelopak yang berjatuhan selaras dengan air mata Gesa yang mulai menghalangi pandangannya.

Perih dan sesak.

Tubuh Gesa bergetar. Di menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin. Elfara minta aku datang dan sekarang aku datang."

"Pak Gesa ...."

Suara indri tak mampu untuk Gesa dengar. Pria itu berlari. Meski langkahnya seakan tak berpijak pada dunia, dia terus melngkah untuk mencari keberadaan istrinya.

Takut dan marah.

Ketakutan Gesa selama ini akhirnya terjadi. Sekarang, harus pada siapa lagi Gesa marah.

Hingga akhirnya, langkah Gesa sampai pada kamar Elfara yang sudah dikelilingi banyak orang. Kamar berukuran kecil itu sudah dibatasi garis polisi yang mengerikan. Setiap wajah di sana tak mampu Gesa lihat. Pandangannya sudah buram oleh linangan air matanya sendiri.

Dengan debar jantung yang taknkaruan, Gesa berucap, "Di mana Elfara?"

Suara terdengar bergetar. Bahkan, napasnya tersenggal-seggal oleh setiap kata yang terucap dari bibirnya sendiri.

Tak ada yang mampu menjawab pertanyaan Gesa. Semuanya mengatupkan bibir mereka dengan sempurna. Entah siapa yang menyihir semua orang hingga bisu dan diam seribu bahasa.

"Di mana Elfara! Di mana istriku!" Kali ini Gesa berteriak. Tak ada satu figur pun yang sanggup menatap sorot mata penuh amarah dari Gesa.

Gesa kembali membisu saat beberapa orang kelaur dari kamar Elfara dengan sebuah berangkar yang mereka bawa. Gesa kehilangan tenaganya saat tubuh Elfara terbaring di atas berangkar itu. Sosok cantik dari Elfara kini sudah kehilangan seluruh warnanya.

Gesa terhuyung saat darah segar masih menghiasi tubuh kurus Elfara. Entah pertahanan siapa yang telah hancur kali ini. Entah figur siapa yang pulang kali ini. Entah perjuangan siapa yang kini telah berakhir. Gesa bersimpuh di bawah ketidakberdayaan.

"Elfara ...," ucapnya begitu parau.

Suara orang-orang itu kini mulai beradu di pendengaran Gesa. Namun, sosok Elfara masih menjadi hal yang Gesa bayangkan. Terbayang dengan jelas saat Gesa pertama kali bertemu Elfara. Terbayang dengan indah bagaimana Gesa belutut di hadapan Elfara, meminta janji sehidup semati. Bahkan, kenangan saat Elfara pertama kali memamerkan perut besarnya, seakan bisa Gesa lihat kembali.

Semuanya benar-benar bisa Gesa lihat kembali dalam pandangan semu bercampur tangis.

Di waktu yang sama, seseorang menepuk pundak Gesa. Pria berseragam cokelat polisi yang lengkap dengan setiap pangkat yang melekat di bajunya.

"Anda suaminya?" tanya orang itu.

Gesa hanya mengangguk. Iya, dia adalah seorang suami. Suami yang mungkin kini telah gagal menjaga istrinya sendiri.

"Pak, ikut kami untuk pemeriksaan dan penyelidikan kasus ini."

𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .

3 part lagi 🥀

HARGA RAHIM YASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang