GESA memijat pangkal hidungnya dengan frustasi saat mendengar ucapan Diaz. Pria itu tertunduk sempurna, memikirkan hal yang akan terjadi nantinya. Dalam benaknya yang begitu kalut, wajah Elfara dan Yasa bergantian datang silih berganti.
“Gak bisa dipaksakan, Ges. Elfara gak bisa.” Diaz kembali memberikan kabar buruknya hari ini. Dokter muda itu bahkan sengaja mendatangi kediaman Gesa demi meminta keputusan yang terbaik untuk janin yang akan Yasa kandung nantinya.
“Coba cara lain. Pasti bisa,” pinta Gesa.
“Gua hanya dokter, Gesa! Bukan Tuhan!” Diaz hampir saja lepas kendali dan berteriak emosi. Diaz bukan tak berusaha untuk membantu Gesa, tapi apa yang bisa dia lakukan kalau Tuhan memang tidak berkehendak. “Pendarahan waktu itu benar-benar fatal. Elfara harus menjalani operasi lagi. Kali ini, semuanya.”
Diaz menyodorkan berkas-berkas informed consent atas nama Yasa dan Elfara yang harus Gesa tanda tangani. Di sana, tertulis bahwa Elfara harus menjalani prosedur Oophorectomy. Itu artinya, Elfara harus membuang jauh harapannya untuk menjadi seorang ibu. Kedua ovariumnya harus diangkat.
“Sayangnya, lo gak bisa tawar menawar untuk kondisi Elfara,” ucap Diaz. “Ya ... kecuali, lo ingin Elfara terus terbaring di rumah sakit seperti sekarang.”
Gesa menggelengkan kepalanya pelan. Dengan tangan yang bergetar, Gesa bubuhkan tanda tangannya dalam kertas atas nama Elfara itu.
“Demi kebaikan Elfara,” ucap Mada. Pria itu sebenarnya sejak tadi ada di sana menemani Gesa dan Diaz, tapi Mada hanya ikut mendengarkan. Sebagai seorang sahabat, Mada ingin Gesa tahu kalau dia tidak sendirian.
Ya, demi kesembuhan Elfara, batin Gesa ikut bergumam. Kemudian, Gesa kembali menatap kertas-kertas yang Diaz berikan untuknya. Dalam kertas yang berbeda, tertulis bahwa prosedur bayi tabung harus Yasa lakukan menggunakan miliknya sendiri.
“Untuk Yasa, gue serahkan seluruh keputusan di tangan lo. Lo setuju atau enggak,” ucap Diaz.
Gesa mengusap wajahnya dengan kasar. Dia bingung, karena rencana awalnya tidak seperti ini.
“Sebenarnya, untuk hal ini ... bagi lo sendiri gak ada bedanya, Ges. Baik Yasa maupun Elfara, dua-duanya tetap istri lo dan anak yang akan Yasa kandung nantinya tetap darah daging lo sendiri,” jelas Diaz.
“Ini bukan tentang gue, tapi tentang Elfara. Apa dia mau menerima anak gue dan Yasa?”
Diaz menggertakkan giginya dengan kesal. “Ges, lo itu udah bukan bocah lagi. Lo gak perlu mengatakan hal yang semestinya tidak dikatakan!” sungutnya.
“Anjir ribet banget, sih!” Mada tiba-tiba emosi. Dia ikut pusing melihat Gesa dan Diaz yang terus membahas hal yang tak dia mengerti.
“Diam cungur lo! Kalau kagak tahu judul awalnya, jangan ikut komentar!” balas Diaz.
Percekcokan kecil antara Diaz dan Mada tak Gesa dengar. Pria itu malah tertegun dengan kekalutan pikirannya sendiri. Lagi dan lagi, wajah Yasa dan Elfara memenuhi isi kepala Gesa. Dengan kata lain, tak hanya Elfara yang harus Gesa bohongi, tapi dia juga harus membohongi Yasa.
“Jika tujuan lo hanya seorang anak, tujuan itu akan tercapai bersama Yasa. Menurut gua, gak ada ruginya,” ucap Diaz.
“Menurut gue, Gesa tetap rugi sih!” celetuk Mada.
“Kenapa?” tanya Diaz.
Mada tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. “Yasa itu istri lo, ‘kan, Ges?” tanyanya.
“Terus?” kali ini Gesa yang bertanya.
“Ya rugi!” Mada menepok jidatnya sensiri. “Rugi lo, Ges! Rugi!”
Gesa tak mengerti maksud Mada. Apa yang rugi jika Yasa menjadi istrinya?
“Yasa itu cantik bro! Menurut gue cantik, ayu, manis, dan lucu. Kagak tahu dah menurut lo yang udah cinta modar sama Elfara,” ucap Mada.
Gesa makin mengkerutkan keningnya. “Hubungannya?” tanyanya.
Mada menunjuk-nunjuk Gesa. “Ini nih. Ini nih ... akibat dari kelamaan bersolo karir! Lo pengen punya anak, sedangkan Yasa itu istri lo. Gesa buka mata lo! Yasa itu bukan cuma cantik tapi juga sehat wal afiat. Ya ... daripada melalui peroses bayi tabung, mendingan lo hamilin aja secara langsung.” Mada mengacungkan jempolnya “Mantap gak tuh! Prosedurnya gak ribet, aman, dan tentunya sama-sama enak! Betul tidak, Pak Dokter?”
“Otak lo!” Diaz tak segan menoyor kepala Mada.
Mada tertawa kecil. Dia mengedikkan kedua bahunya. “Kagak salah dong! Yasa itu udah lo nikahin, Ges. Mau lo apain tuh istri lo, gak bakal ada yang larang. Malahan, kata Pak Ustadz, jadi ibadah kalau lo enak-enak sama istri sendiri. Gua aja tiap malam ibdah bareng istri gue! Nambah pahala.”
“Sianjir Mada! Bener-bener!” cibir Diaz. “Tapi, omongan si otak selangkangan ini gak salah juga, Ges. Bayi tabung juga ada risikonya. Meski, potensi kehamilannya terbilang tinggi.”
“Risiko? Apa?” tanya Gesa.
“Pertama, sindrom hipersyimulasi ovarium. Jadi, si ibu akan menghasilkan sel telur lebih banyak dari kondisi normal akibat pemberian obat penyubur. Biasanya, ditandai dengan sakit perut, kembung, dan berat badan naik. Sekitar dua persen perempuan yang melakukan proses bayi tabung mengalami sindrom ini. Kemudian, keguguran, kehamilan oktopik, dan cacat lahir—”
“Bayi tabung juga bisa gagal seperti itu? Apalagi risiko cacat lahir juga ada?” tanya Mada penasaran.
“Iya. Peluang bayi tabung yang lahir sehat tergantung pada beberapa hal. Mulai dari usia si Ibu. Kemudian, riwayat kehamilan. Ibu yang pernah melahirkan, jauh berpotensi melahirkan bayi yang sehat. Sebetulnya, cacat lahir gak hanya untuk bayi tabung aja. Kehamilan biasa juga bisa berpotensi cacat lahir, apalagi bila usia si ibu terlalu muda atau telalu tua.”
“Untuk Yasa gimana?” tanya Gesa.
“Dari segi usia dan kesehatan, Yasa siap untuk melakukan proses bayi tabung. Pola hidupnya juga baik sejauh ini. Paling, dukungan emosional yang Yasa butuhkan. Jangan sampai dia mengalami tekanan mental.”
“Tapi, setelah gua pertimbangkan nih, Ges.” Mada kembali bersuara. “Mending gak perlu bayi tabung-bayi tabungan. Mending lo tabung duit. Biaya bayi tabung juga mahal, ‘kan?” tanyanya.
“Sebenarnya, Yasa dan Gesa tinggal menunggu embrio mereka terbentuk sempurna. Yasa sudah melewati beberapa prosedur bayi tabung. Tinggal proses akhir penanaman embrio dalam rahim Yasa. Kalau Gesa setuju, prosedur itu akan dilakukan hari ini juga,” jelas Diaz.
Gesa melirik Diaz dan Mada secara bergantian.
“Gak usah aja, Ges. Lo sehat, Yasa juga sehat. Gak usah pake prosedur aneh begitu. Bikin ribet aja hidup lo. Ada yang gampang, kenapa pake cara ribet sih!” ucap Mada dengan menggebu-gebu.
“Ya, kalau tanpa proses bayi tabung, Yasa akan tahu kalau anak yang dia kandung adalah anaknya sendiri, Ges.” Diaz menimpali.
“Gak masalah dong!” sahut Mada.
“Masalah lah, Mada! Gua gak bisa menjamin Yasa rela ngasih anaknya untuk Elfara!” Diaz terus menimpali.
“Loh, buat Elfara?” tanya Mada bingung.
“Makanya, gua bilang kalau kagak tahu judul, jangan ikut komen!” sungut Diaz.
“Sebentar, jadi lo mau Yasa hamil buat Elfara?” tanya Mada memastikan. “Enggak-enggak. Gua kira, gak kitu konsepnya. Ya udah ... punya anak, ya punya anak aja. Kagak perlu dari siapa atau untuk siapa.”
“Lo dari tadi nyimak gak sih?” tanya Diaz.
“Dikit, hehehe.” Mada nyengir.
Saat Mada dan Diaz tak henti berselisih, Gesa masih bingung dengan keputusannya. Pria itu masih menatap selembar kertas atas nama Yasa di tangannya. “Gua gak mau mengkhianati Elfara,” gumamnya.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomanceKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
