GESA merasa asing dengan orang-orang yang tengah mengelilinginya saat ini. Dia tatap setiap wajah yang ada di sana. Banyak sekali raut yang tergambar dari wajah-wajah itu, tapi tak ada satu wajah pun yang Gesa kenali. Semuanya begitu asing. Sampai akhirnya, tatapan Gesa berakhir pada pria sepuh yang hari ini akan menjadi mertuanya. Dengan wajah yang hampir lekang oleh masa, Bapak memberikan senyuman kecil untuk Gesa. Senyuman tipis itu hanya mampu Gesa balas dengan anggukan samar.
Bismillah, batin Gesa bergumam.
Hari ini, pernikahan antara Gesa dan Yasa akan dilaksanakan. Sebuah pernikahan yang mereka yakini hanyalah sebuah transaksi. Gesa tatap setiap sudut dari tempat pernikahannya yang begitu sederhana. Ternyata, tak ada hiasan megah di sana. Tak ada hidangan mewah di sana. Hanya sebuah masjid kecil di tengah kampung yang didatangi oleh beberapa orang.
Suara pintu masjid yang terbuka lantas meredam keriuhan di tempat itu. Gesa terdiam melihat kedatangan Yasa dari balik pintu masjid. Saat ini, Yasa sudah cantik dengan kebaya putih layaknya seorang pengantin. Rambut legam Yasa disanggul sederhana. Wajah Yasa kian ayu saat mendapat sentuhan kecil dari riasan. Langkah kaki Yasa juga terlihat begitu anggun saat mendekati Gesa.
Gesa makin terpaku. Seakan mengulang kembali hal yang sama, Gesa teringat saat dirinya menunggu Elfara di hari pernikahan mereka. Kala itu, Elfara juga mengenakan kebaya berwarna putih. Rambut Elfara juga disanggul dengan indah. Wajah cantik Elfara juga dirias begitu elok. Bedanya, saat itu, banyak sekali raut kebahagiaan dari setiap wajah yang Gesa lihat. Banyak sekali senyuman indah yang Gesa kenali. Dan kala itu, perasaan Gesa begitu membuncah. Kebahagiaan di hatinya seakan bisa meledak keluar.
Tanpa sadar, jantung Gesa terasa berdebar tak karuan. Matanya mengerjap beberapa kali, hingga dia sadar dari lamunanya sendiri. Gesa sadar, bukan Elfara yang ada di depannya saat ini. Bukan Elfara yang menjadi perngantinnya hari ini. Bukan kebahagiaan pula yang Gesa rasakan kali ini. Namun, Yasa dengan angan Gesa yang masih sukar untuk diinginkan.
Dengan pikiran yang terus berkecamuk tak tentu arah, Gesa bersama Yasa duduk di depan Bapak dan seorang penghulu.
“Semuanya sudah siap?”
Gesa tergugup mendengar pertanyaan dari sang penghulu. Diam-diam, Gesa remat tangannya sendiri. Kecanggungan dan perasaan asing kala sebuah selendang dipasangkan untuknya dan Yasa, membuat Gesa makin ragu. Gesa ragu. Apakah ini benar sebuah transaksi ataukah benar sebuah pernikahan?
Gesa tatap sekali lagi wajah Bapak yang duduk di depannya. Anggukan samar dari Bapak seakan memberi isyarat bahwa apa pun yang akan terjadi hari ini, semuanya akan tetap terjadi. Entah itu sebuah pernikahan ataupun sebuah transaksi di depan para saksi.
“A Gesa dan Neng Yasa?” Pak Penghulu kembali bertanya, memastikan dengan benar nama dari kedua mempelai yang akan dia nikahkan hari ini. Setelah mendapat anggukan dari Gesa dan Yasa, pria berkumis tebal itu membuka beberapa lembar kertas di depannya. Tiba-tiba, dia telihat terdiam ketika membaca kembali berkas milik Gesa dan Yasa. “Jadi, ini pernikahan kedua untuk A Gesa?” tanyanya.
“I—iya.” Gesa begitu gugup saat menjawab pertanyaan itu. Dia melirik Yasa sekilas. Gesa hanya bisa melihat keterpakuan dari perempuan cantik itu. Di sana, Yasa hanya terdiam tanpa memberikan apa pun.
“Istri pertama sudah—” Ucapan Pak Penghulu terpotong saat mendapat tepukan kecil dari Bapak. Tatapan dari Bapak membuat Pak Penghulu mengerti untuk tidak melanjutkan ucapannya.
Lain hal dengan Gesa, ucapan Pak Penghulu seakan mengingatkan Gesa. Gesa mengingat kembali wajah Elfara yang dia tinggalkan di rumah. Sangat jelas wajah pucat itu berada di penglihatan Gesa saat ini.
“Aku ada kerjaan di Sukabumi. Kamu gak apa ‘kan, kalau aku tinggal beberapa hari?”
Itu pertanyaan yang Gesa berikan pada Elfara sebelum dia pergi ke tempat ini. Saat itu, Elfara menganggukkan kepalanya. Perempuan cantik itu hanya berpesan, “Jangan lama-lama di sana.”
Gesa menghela napasnya dengan kasar. Untuk kesekian kalinya, terbersit parasaan ragu dalam hati Gesa. Sorot mata Gesa perlahan menurun. Dengan tak sengaja, sorot mata itu berakhir pada cincin penikahannya dengan Elfara. Cincin berwarna silver itu masih terpasang indah di jari manis Gesa sampai saat ini.
Jujur, jika Gesa tidak melihat akan keberadaan norma dan masa depan keluarganya, bisa saja Gesa mencari wanita tuna susila yang siap untuk memberikan rahimnya. Namun, bukan itu yang Gesa cari. Bukan itu yang ingin Gesa berikan untuk Elfara. Sambil menguatkan perasannya, Gesa menyembunyikan kedua tangannya. Dengan hati-hati, dia lepaskan cincin pernikahannya bersama Elfara.
Ini semua untuk Elfara, batin Gesa bergumam.
Dengan berpegang pada keyakinan itu, Gesa terus meneguhkan hatinya. Sekali lagi, Gesa memandang Yasa yang duduk di sampingnya. Lagi-lagi, Yasa tak memberikan apa pun untuk Gesa. Tidak sebuah senyuman kecil, tidak pula sorot harapan dari kedua manik legam perempuan itu.
“Ya sudah, kita langsungkan saja prosesi ijab kabulnya.”
Ucapan sang penghulu memecah keheningan di sana. 'Lantunan do'a mulai diperdengarkan. Semuanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Indahnya suara yang terdengar seakan membiaskan keasingan dan keraguan yang Gesa rasakan saat ini.
Dengan hati yang mulai penuh akan keyakinan, Gesa jabat tangan Bapak dengan erat. Saking eratnya jabatan tangan itu, membuat Gesa mampu merasakan setiap garis tangan Bapak. Setiap lekuk dari garis itu seakan menceritakan banyak hal yang telah Bapak lalui di dunia ini. Melalui tangan Bapak pula, Gesa seakan mendapat bisikan kerasnya hidup yang telah Bapak lalui.
“Gesa Putra Singgih, Bapak nikahkan dan Bapak kawinkan engkau dengan putri Bapak bernama Yasa Sabrina dengan maskawin mushaf Al-Qur'an dan perhiasan emas seberat 22 gram, dibayar tunai,” ucap Bapak tak kalah sungguh.
Setelah mendapat tepukan kecil dari sang penghulu, Gesa menganggukkan kepalannya. “Saya terima nikah dan kawinnya ... Yasa ... Yas—”
Ucapan Gesa terpotong begitu saja. Entah kenapa sangat sulit bagi Gesa menyebut nama Yasa Sabrina. Bibirnya seakan kelu. Padahal, hati Gesa sudah begitu yakin. Gesa kembali melirik Yasa. Kali ini, Yasa tertunduk sempurna. Yasa dengan sempurna menyembunyikan wajahnya. Namun, Gesa masih bisa melihat air mata Yasa yang mulai berjatuhan.
“Maaf,” bisik Gesa.
“Gak perlu terburu-buru. Kita ulangi lagi … A Gesa gak perlu gugup,” ucap Pak Penghulu.
Kali ini, Bapak yang mengeratkan jabatan tangannya dengan Gesa. Sekali lagi, Bapak ucapkan ijabnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Yasa Sabrina binti Bapak Surya dengan maskawin mushaf Al-Qur'an dan perhiasan emas seberat 22 gram dibayar tunai.”
Tangisan Yasa seketika pecah saat mendengar ucapan Gesa yang begitu lantang dan lugas. Sakarang, Yasa bukan lagi milik Bapak. Entah karena sebuah pernikahan atau sebuah transaksi. Namun, ikatan itu sudah terucap dari bibir Gesa.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomanceKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
