Special song recommendation for this part
♪ ♬〃TABUN - YOASOBI〃♬ ♪
_____________________________________
YASA dibangunkan oleh tangisan kecil di samping telinganya. Sayup-sayup, terungu bagaimana rengekan itu seolah taksa bercampur sangsi. Samar terbias redam. Yasa masih menerka bahwa suara mungil itu hanyalah bagian kecil dari bunga tidurnya yang belum usai. Namun, semakin lama, tangisan menggemaskan itu semakin terdengar nyaring. Bahkan, Yasa hapal dengan suara tangisan itu, tangisan yang dia dengar di hari sempurnanya.
Perlahan-lahan, Yasa membuka kelopak matanya, lalu menanggang cahaya lampu kamar yang seakan mampu menusuk netranya.
Sambil memincingkan matanyaa, Yasa mentap seisi kamar. Manik legam yang semula sayu itu seketika membola. Dia terkejut mendapati Ayas masih berbaring di sampingnya. Bayi mungil itu terisak kehausan. Badan kecilnya meronta dengan wajah yang memerah.
Yasa terpegun karena bingung. Keningnya mengkerut sambil memperhatikan tangisan Ayas di sana. Bukannya, segera meredakan tangisan putrinya, Yasa malah menggelengkan kepalanya.
Dia sungguh tak mengerti.
Harusnya, tangisan itu tak Yasa dengar lagi. Harusnya, mimpi indah itu berakhir saat Yasa membuka matanya. Harusnya, keindahan wajah Ayas tak menyambut pagi sepi yang Yasa miliki.
Sampai akhirnya, tangisan nyaring dari Ayas seakan menjadi bukti kalau pagi ini bukanlah bagian dari mimpi. Semuanya nyata dan sangat nyata.
Yasa buru-buru angkat tubuh mungil putrikonya. Dia tempelkan figur itu di depan dadanya. "Uluuuh ... sayang Bunda. Jangan nangis, Baby," gumamnya.
Dengan Ayas dalam dekapannya, Yasa mulai beranjak. Ditimangnya bayi cantik itu penuh perasaan. Kakinya tak henti melangkah ke setiap sudut kamar, mencari ketenangan untuk mereka berdua. Tangannya juga tak henti menepuk-nepuk tubuh Ayas, berharap bisa memberikan sedikit kenyamanan.
Jujur, meski tangisan Ayas begitu nyata, Yasa masih tak mengerti kenapa putrinya masih ada di dalam peluk pagi ini.
Tanpa sengaja, pandangan Yasa berlabuh pada jendela kamar. Di balik goden yang tersingkab, Yasa bisa melihat lembayung fajar berwarna merah bercampur kuning. Dia yakin hari sudah berganti dan mimpi indah itu telah usai. Bahkan nyanyian dari kokok ayam dan merdunya tahrim subuh sudah tidak terdengar lagi.
Kini, satu pertanyaan yang ada dalam benak Yasa, di mana Gesa.
Yasa buru-buru memeriksa seluruh isi kamarnya. Dia tengah mencari figur indah berbadan tegap di sana. Namun, sejauh mata Yasa memandang, tak ada figur Gesa yang dicarinya.
Tak cukup mencari di dalam kamar. Yasa mulai mendekati jendela kamar yang mengarah langsung ke pekarangan rumah. Dia buka gorden jendela itu lebar-lebar. Udara dingin dan sejuknya embun pagi seolah bisa terasa di balik jendela itu.
Tenyata, bukan malam yang sudah pergi, mobil hitam Gesa sudah tidak ada.
Masih dengan Ayas dalam pangkuannya, Yasa tergesa melangkah untuk keluar kamar. Benaknya masih dengan kukuh mencari sosok Gesa. Namun, Yasa lebih dulu terganggu oleh beberapa lembar kertas asing di atas meja samping pintu.
Yasa ambil kertas-kertas itu. Matanya tiba-tiba memanas saat membaca sekilas kalimat yang tertulis di sana.
Ternyata, sebuah surat talak.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomanceKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
