"Kita memiliki rasa yang sama, hanya angan kita yang berbeda."
_____________________________________
GESA akhirnya sampai di SMA Husada, tempat Yasa mengajar sekaligus tempat Mala belajar. Sejujurnya, ini pertama kalinya Gesa melihat secara langsung sekolah ini secara dekat. Selama ini, Gesa hanya melihat gedung sekolah dari kejauhan dan paling dekat hanya sampai gerbangnya saja. Ternyata, sekolah berlantai dua ini cukup luas dan besar dengan lapangan yang dijadikan sebagai parkiran.
Siang ini, di lapangan luas itu mobil mewah Gesa terparkir dengan apik. Hal itu sanggup menjadi pemandangan kontras antara mobil Gesa dan deretan motor sederhana di sana.
Gesa mulai berjalan menyusuri koridor sekolah. Beberapa kelas yang sibuk belajar juga dia lewati begitu saja. Beberapa siswa yang melihat keberadaan Gesa, menatap heran sekaligus kagum pada pria berbadan atletis itu.
"Eh itu siapa? Rasanya baru lihat. Guru baru?"
"Mungkin komite sekolah atau keluarga yayasan."
"Cakep ya. Mobilnya juga bagus loh. Kayaknya orang berada."
Seperti itu celotehan yang sayup-sayup terdengar di telinga Gesa. Pria itu membisukan pendengarannya. Dia memilih untuk berjalan menuju tujuannya hari ini.
Sambil membenarkan lengan kemejanya, Gesa mencari seseorang yang mungkin bisa dia tanya. Gesa menatap sekeliling sekolah, sampai akhirnya manik legam itu menangkap figur guru perempuan yang berjalan ke arahnya sambil menenteng buku pelajaran. Sebenarnya itu Bu Erna, perempuan paruh baya yang terbilang dekat dengan Yasa.
"Anu ... permisi, Bu. Ruang kepala sekolah di sebelah mana, ya?" tanya Gesa. Dia berdeham kecil, menutupi rasa canggungnya hari ini.
"Kepala sekolah?" Guru berkerudung cokelat itu menatap Gesa sekilas sebelum menatap setiap penjuru sekolah. "Pak Nuril!" panggilnya.
Gesa refleks menolehkan kepalanya dan ikut melabuhkan pandangannya pada sosok Nuril yang berjalan di pinggir lapang. Tanpa mereka sengaja, mata dua pria itu saling bertemu. Keduanya saling menatap dari kejauhan dengan beberapa asumsi dan pikiran masing-masing.
"Pak Nuril mau ke ruang Pak Kepala, 'kan?" tanya Bu Erna.
Dari tempatnya, Nuril mengguk samar. Dia mendekati Gesa dan Bu Erna. "Iya, kenapa, Bu?" tanyanya.
"Ini ...." Bu Erna melirik Gesa sebentar. "Ada tamu yang mau ketemu sama Pak Kepala, tapi saya gak bisa mengantarkan. Mumpung Pak Nuril mau ke sana, jadi bareng aja."
Mata Nuril tak bisa berbohong. Manik cokelat itu seakan mampu menusuk Gesa melalui pandangan. "Boleh ... silakan."
"Tolong, ya ... Pak Nuril."
Gesa mengekori Nuril dari belakang. Gesa pandangi figur pria itu diam-diam. Tingginya tak jauh berbeda dengan Gesa, hanya saja Nuril sedikit lebih kurus tanpa otot-otot yang mendominasi. Rambutnya selegam rambut Yasa dengan bola mata yanga tajam bulat nan besar. Namun, Gesa masih tak mengerti apa yang Yasa suka dari seorang Nuril, hal apa yang membuat Yasa sempat menjatuhkan hatinya pada pria itu. Nuril terlihat begitu sederhana, standar pria baik pada umumnya.
"Silakan, Pak. Ini ruangannya," ucap Nuril.
Gesa pandangi sebuah ruangan di depan mereka berdua. Pintu ruangan itu ternyata sudah terbuka. Ada seorang pria berkumis tebal yang duduk di dalamnya. Gesa yakin itu adalah sosok sang Kepala Sekolah.
Nuril melongok ke dalam ruangan itu. "Assalamu'alakum, Pak Kepala. Ini ada tamu," ucapnya.
"Oh, iya." Kepala sekolah bangkit dari duduknya. "Masuk, Pak. Silakan duduk," serunya penuh sopan santun.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomanceKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
