22. Pengembalian

28K 1.9K 108
                                        

GESA memutuskan untuk pulang ke Bandung sore ini.  Pria itu mulai berkemas. Dia begitu telaten memasukkan setiap barang-barangnya dalam tas besar, mulai dari pakaian hingga kacamata dan jam tangan. Tak ada satu benda kecil pun milik Gesa yang tersisa di sana.

Sesekali, Gesa menghela napasnya begitu jemu. Dia pandangi kamar Yasa yang kini begitu sunyi. Dia ingat kembali saat Yasa memilih untuk memunggungi Gesa setiap malam. Dia juga tengah mengingat saat dirinya berakhir dengan tertidur di sofa karena Yasa yang enggan untuk berbagi kamar yang sama.

Mungkin, Yasa ada benarnya. Gesa tak perlu terus-terusan tinggal di rumah ini. Gesa juga tak perlu terus-terusan menunggu Yasa dengan segala penolakannya.

Sayang, aku pulang hari ini. Itu pesan yang sudah Gesa kirimkan untuk Elfara.

Sekali lagi, mungkin Yasa ada benarnya. Elfara masih menungguh Gesa untuk pulang dan Gesa tak bisa terlalu lama meninggalkan perempuan cantik itu bersama Ary di rumah.

Setelah memastikan semua benda miliknya tidak ada yang tertingggal, Gesa mulai beranjak. Tiba-tiba, suara ketukan pintu dari luar kamar, mengalihkan perhatian Gesa. Suara ketukan itu begitu samar dan terdengar sangat ragu. Gesa pandangi pintu besar itu dengan kesunyian.

“I-ini Mala.”

“Ada apa, La?” Gesa sedikit berteriak agar suaranya bisa terdengar hingga keluar kamar, tapi tak ada jawaban dari gadis itu.

“Masuk aja, La. Kenapa?” Gesa bertanya lagi.

Masih tak ada jawaban dari Mala. Gesa yang bingung segera beranjak. Dia buka pintu kamar dan memeriksa keadaan Mala secara langsung.

Sekarang, di sanalah Mala berdiri. Dengan seragam putih abu-abunya, gadis berambut pendek itu bertumpu pada kakinya sendiri sembari membawa tas besar di tangannya.

“Baru pulang sekolah, La? Kakak kamu man—”

Ucapan Gesa terpotong karena Mala lebih dulu memberikan tas besar dari tangannya. Entah apa isi dari tas berwarna cokelat muda itu, tapi Gesa yakin bobotnya bisa mencapai 2 atau mungkin 3 kilo.

“Ini apa, La?” tanya Gesa.

“Aku kembalikan,” ucap Mala pelan.

Gesa memeriksa setiap benda dalam tas itu. Di dalamnya ada barang-barang yang pernah Gesa berikan untuk Mala. Semua barang itu ada di sana, mulai dari sepatu olahraga hingga ponsel pintar yang baru tadi Gesa berikan.

“Ini kenapa?” tanya Gesa bingung.

“Aku kembalikan.” Untuk kedua kalinya, Mala mengucapkan kalimat yang sama. Gadis itu menundukkan kepalanya, tak berani menatap Gesa.

Hal itu sanggup membuat kedua alis Gesa terpaut sempurna. Gesa tak mengerti dengan sikap Mala yang berubah seperti ini. Padahal, awalnya Mala selalu menerima pemberian Gesa. Bahkan, gadis itu tak henti menunjukkan rasa sukanya pada setiap benda dari Gesa.

“Kenapa dikembalikan? Gak suka? Mau model baru?” tanya Gesa beruntun.

Mala menggelenggakan kepalanya samar. Dengan suara yang begitu bergetar, Mala berkata, “Aku gak mau terus-terusan nambah utang Bapak sama Teh Yasa.”

Gesa tercengang mendengar ucapan Mala. Pria itu bergeming dengan kerongkongan yang tiba-tiba terasa negitu kering. Gesa menelan salivanya dengan kasar. Dia tatap gadis kecil di depannya dengan perasaan yang mulai tak karuan. Entah siapa yang membuat Mala menaruh pemikiran seperti itu.

“Sekarang ... berapa utang Teh Yasa sama Bapak?” tanya Mala.

Gesa kembali memberikan barang-barang itu ke tangan Mala. “Mala ... Siapa bilang ini utang? Aa ngasih buat kamu,” ucapnya.

Di sana, Mala begitu enggan untuk kembali menyambut semua barang mewah itu dari Gesa. Tangannya mengepal tanpa mau untuk menerima. Sampai akhirnya, Gesa membawa Mala untuk duduk di tepi ranjang.

Keduanya duduk dengan keheningan satu sama lain. Di sana, Gesa membiarkan Mala untuk menangis. Gadis itu benar-benar terisak tanpa suara.

Perlahan, Gesa usap punggung Mala yang bergetar karena tangisan. Ada rasa iba dalam benak Gesa saat ini. Namum, Gesa kembali mengkerutkan keningnya saat menyadari baju seragam Mala begitu kotor. Entah apa yang Mala lakukan di sekolah. Mulai dari tanah, debu, hingga sarang laba-laba dengan jelas menempel pada seragam berwarna putih itu.

Meski dengan tangisan yang dia tahan, Mala kembali memberikan pertanyaannya. “Aku tahu ... A Gesa nikahin Teh Yasa untuk ba—bayar utang, 'kan?” tanyanya. Dia terisak sebentar, lalu menghela napasnya dengan kasar. “A Gesa juga udah punya istri di B—bandung, 'kan?” tanyanya lagi.

Mala tak bisa menahan dirinya lagi. “Aku juga tahu, A. Teh Yasa bakal diceraikan lagi. Cuman, kalau akhirnya begitu, kenapa Teh Yasa dinikahi? Bahkan sekarang Teh Yasa hamil,” ucapnya begitu parau.

“Mala ... itu urusan orang dewasa. Kamu—” ucapan Gesa terpotong karena Mala kembali memberikan suatu dari tangannya.

Kali ini, Mala memberikan beberapa lembar uang kertas. Entah berapa jumlahnya. Dia sana, ada uang pecahan seratus ribuan sampai pecahan dua ribuan.

Gesa tatap setiap lembar uang kertas itu.

“Setelah Bapak dirawat di rumah sakit, teh Yasa hamil, entah berapa besar utang Bapak sama Teh Yasa ke A Gesa sekarang.” Mala menjeda ucapannya. Dia memastikan agar uang dari tangannya benar-benar sampai di tangan Gesa. “Aku akan bantu untuk mencicil utang itu,” ucapnya pelan.

Gesa menggelengkan kepalanya. Mala benar-benar mencuri seluruh kata yang ada kepala Gesa. Pria itu tak tahu harus dengan cara apa membalas ucapan Mala.

“Mala—”

“A Gesa.” Mala kembali menimpali ucapan Gesa. “Boleh gak aku meminta sesuatu ... ini gak bisa dibeli atau mungkin gak ada harganya, tapi bisa gak ... seberapa besar pun utang kami ke A Gesa, tolong ... A Gesa jangan sakiti Teh Yasa.”

Lagi-lagi, ucapan Gesa terbungkam. Kini, dering ponsel Gesa yang menglaihkan perhatian dua orang itu. Isak tangis Mala sedikit mereda, sedangkan Gesa karena tertegun karena mendapat telpon dari Yasa. Keningnya ikut mengkerut heran karena tak biasanya Yasa menelpon lebih dulu.

“Halo, Yas,” ucap Gesa saat menerima panggilan telpon itu.

Halo, Pak.”

Lagi-lagi Gesa tertegun. Suara dari sebrang sana terdengar bukan suara Yasa. Meski suara perempuan, tapi Gesa begitu asing mendengarnya.

Pak, Bu Yasa jatuh pingsan saat ngajar. Sekarang, dibawa ke klinik depan sekolah. Bapak bisa ke sini?”

𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .

HARGA RAHIM YASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang