"Kita bisa menutup mata pada apa yang tidak ingin kita lihat, tapi kita tidak bisa menutup hati pada apa yang tidak ingin kita rasakan."
_____________________________________
GESA sengaja memarkirkan mobil hitamnya tepat di depan butik sang Mamah. Bangunan mungil bertuliskan Singgih Butik itu bagaikan rumah kedua bagi Mamah dan Gesa. Bahkan, butik itu lahir lebih dulu dibanding Gesa, karena memang peninggalan dari mendiang nenek terdahulu.
Hari ini, butik bernuansa putih itu sudah dihias begitu mewah dan megah. Beberapa tamu juga sudah berbondong-bondong untuk datang. Ternyata, tak hanya relasi Mamah di dunia perjahitan, beberapa aktor, aktris, dan designer fashion kondang di Indonesia juga ikut berdatangan. Salah satunya Ryanti, rekan kerja sekaligus perancang busana langganan Elfara.
"Emangnya enggak apa kalau aku datang ke sana juga?" tanya Yasa.
Perempuan itu menatap canggung kedua manik legam Gesa. Yasa begitu takut. Dia takut jika tempat cantik itu tidak terbuka untuk perempuan dusun sepertinya. Banyak sekali kemewahan di sana. Banyak sekali kerlap-kerlip kilatan kamera di sana. Tak sedikit pula perempuan glamor yang berlalu-lalang di sana.
"Emangnya kenapa?" tanya Gesa. Dia usap surai legam Yasa. Dia sentuh pipi itu dengan lembut. "Kamu datang bareng aku, Mamah juga yang minta kamu datang, 'kan?" tanyanya.
"Karena itu ... karena aku datang sama kamu, makanya aku takut. Akan seperti apa pandangan orang-orang jika kita keluar dari mobil yang sama." Yasa menatap perut buncitnya. Dia usap perut itu sekilas. "Apalagi ... dengan perut besar ini," cicitnya.
Gesa ikut mengusap perut besar Yasa. Jemarinya menyusuri bagaimana keajaiban mereka mulai terlihat indah. "Kacang polong kita udah sebesar ini, masa gak dipamerin?" guraunya.
"Seriusan ih!" Yasa mendengus kesal.
"Ini serius, Yasa." Gesa kecup perut bulat Yasa. "Biarkan mereka tahu, Yas. Biarkan mereka tahu, kalau kamu punya aku."
Gesa kembali menatap Yasa. Dia pandangi Yasa dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Ngomong-ngomong ... hari ini, kok kamu cantik banget sih. Rambutnya, riasannya ... semuanya cantik. Bajunya juga cocok. Manis saat kamu pake."
Wajah Yasa seketika merekah. "Baju ini Mamah kamu yang buat loh," ucapnya.
"Oh ya? Kok gak bilang-bilang."
"Ini, aku lagi bilang."
"Mamah curang, nih! Kamu dibuatin baju, aku enggak."
Yasa menepok jidatnya sendiri. "Itu, baju yang kamu pakai sekarang juga buatan Mamah kamu. Mereka sepasang."
"Oalah, pantesan hari ini baju kita cocok banget." Gesa tertawa kecil. Dia segera buka seat belt yang melintang di tubuhnya. "Yuk, keluar sekarang. Nanti, acaranya keburu mulai."
Tak disangka, acaranya akan seramai ini. Banyak sekali senyumam di sana. Tak sedikit gurauan yang terdengar dari tempat itu. Deretan pasang mata langsung tertuju pada Gesa dan Yasa. Gesa terkejut saat Yasa tiba-tiba melepaskan genggaman tangan mereka.
"Kenapa?" tanya Gesa.
"Enggak apa. Akan lebih baik jika begini," bisik Yasa.
Sungguh, Yasa tak nyaman dengan tatapan-tatapan itu. Rasanya, dia ingin menjadi manusia tembus pandang tanpa harus mengkhawatirkan pandangan orang lain. Entah apa yang ada di kepala orang-orang itu saat memandang Yasa dan Gesa. Entah apa yang mereka gumamkan saat menatap Yasa dan Gesa.
"Jangan didengerin. Mereka boleh berkomentar, kita berhak gak peduli," ucap Gesa.
Untuk kali ini, ucapan Gesa tidak bisa menenangkan hati Yasa sedikit pun. Yasa tak tahu sampai kapan dia bisa bertahan di tempat ini. Jika bukan Mamah yang meminta Yasa untuk datang, enggan bagi Yasa untuk berbaur dalam gemerlap kemewahan seperti ini. Apalagi, berakhir dengan tersesat dalam setiap pandangan yang seakan menghakiminya seperti sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomanceKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
