YASA tak jauh berbeda dengan para pemimpi, dia bingung sekaligus kecewa pada kebenaran. Harusnya, Yasa tidak menangis seperti ini. Harusnya, kabar yang Yasa dengar menjadi kabar membahagiakan. Namun, bukan hal itu yang ada dalam mimpi Yasa.
“Selamat, Bu. Anda sedang mengandung.”
Kabar itu yang membangunkan Yasa dari mimpinya. Haruskah Yasa menangis dalam kebahagiaan atau haruskah Yasa tertawa dalam penderitaan.
Bukan niat hati Yasa untuk menyalahkan keadaan, tapi dia iba pada dirinya sendiri. Yasa tahu, bayi inilah yang sejak awal menjadi tujuannya bersama Gesa. Yasa juga tidak lupa, tujuan dari langkah kakinya bersama Gesa bukanlah sebuah kebahagiaan. Meski enggan, lembah rasa sakit itulah yang akan tetap menjadi akhir cerita. Harusnya, Yasa siap dengan akhir itu dan siap untuk mulai menghitung mundur atas segala utang yang harus dia lunasi.
Namun, Yasa terkadang lupa. Tanpa rasa sakit, dia tidak akan pernah menjadi kuat. Tanpa rasa kecewa, dia tidak akan pernah menjadi dewasa. Juga tanpa rasa kehilangan, dia tidak akan pernah tahu artinya sebuah kerelaan. Sekarang, Yasa ingin menjadi kuat, Yasa ingin menjadi dewasa dan Yasa juga ingin mengerti akan arti merelakan yang sesungguhnya.
Yasa menghela napas, menormalkan debar jantungnya, dan kembali menatap Mala yang berdiri di sana. Mereka berdua berpijak di depan sebuah kelinik kecil pinggiran kampung, menunggu seseorang yang mungkin akan membawa mereka pulang ke rumah. Rangkulan kecil dari Mala, kembali membuat Yasa terenyuh. Dia tatap sang adik tanpa mengatakan satu kata pun. Hanya ada sorot mata yang dipenuhi berbagai macam cerita di sana.
“Neng Mala, ojeknya udah ada.”
Ucapan pria berhelm hitam di sana memecah keheningan antara Mala dan Yasa. Anggukkan samar dari Mala seolah menyiratkan sebuah kalimat, Teh ... ayo kita pulang.
Langit malam, hawa dingin selepas hujan, juga perasaan yang tak kunjung surut, menjadi perpaduan yang sempurna atas tekanan jiwa melankolis. Yasa tak menghitung sudah berapa kali angin malam menerpa wajahnya. Yasa juga tak menghitung sudah berapa kali udara dingin menusuk hingga ke tulang-tulangnya. Dia hanya mengeratkan genggaman pada cardigan cokelat muda yang menyelimuti tubuhnya. Dengan sedikit bantuan dari Mala, Yasa akhirnya duduk di atas motor bebek berwarna merah.
“Mang, bawa motonya pelan-pelan. Teteh saya lagi hamil,” ucap Mala pada sang tukang ojek.
Bapak berjaket kulit itu mengangkat jempolnya. “Siap, Neng! Dijamin selamat sampai tujuan! Garansi uang kembali,” begitu katanya. Pria itu bahkan sempat terkekeh pelan. “Pegangan ya, Bumil cantik,” sambungnya.
Yasa hanya mengangguk samar. Alonnya laju motor yang Yasa naiki, seolah memberikan kesempatan Yasa untuk mengabsen setiap hal yang dia lalui. Deretan rumah dalam pandangan Yasa mulai bergerak menjauh. Beberapa rumah memiliki lampu berwarna kuning dan beberapa rumah memilih lampu berwarna putih. Baik kuning ataupun putih, mereka seakan memancarkan kehangatan bagi para penghuninya. Di salah satu rumah, Yasa bahkan bisa melihat bagaimana para penghuninya sedang berkumpul hangat di ruang tengah yang terbuka.
Saking banyaknya hal yang Yasa pandang sepanjang jalan, sampai-sampai Yasa tak menyadari bahwa dia sudah sampai di depan rumah. Tepat di beranda rumah, Mala sudah lebih dulu sampai dan langsung menyambut kedatangan Yasa. Gadis itu berlari kecil untuk kembali membopong Yasa masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah tak jauh berbeda. Di sana, Bapak juga sudah setia menunggu kedatangan Yasa. Pria paruh baya itu sejak tadi menahan kecemasannya sendirian. Kondisi Bapak yang belum sepenuhnya pulih, membuat Bapak hanya bisa menunggu dengan hati yang tak karuan. Namun, tak ada satu kabar pun yang Bapak lewatkan, termasuk kabar akan kehadiran calon bayi dalam rahim Yasa.
Bapak tak bisa manahan dirinya lagi saat melihat wajah Yasa. Senyumam kecil dari putrinya itu membuat Bapak berlari untuk memeluk tubuh rapuh putri kecilnya. Dia ciumi wajah itu dengan penuh kasih sayang.
“Semuanya akan baik-baik aja, Yas. Semuanya akan baik—” Bapak tercekat karena rasa sesak di dadanya. Pria itu membalas senyuman kecil Yasa dengan senyuman sendu dari bibirnya.
Sama seperti Bapak, Yasa juga berharap demikian. Yasa tak mengharapkan kebahagiaan. Yasa juga tak mengharapkan mimpi indah. Yasa hanya ingin baik-baik saja sampai transaksinya bersama Gesa usai.
“Aku mau tidur,” ucap Yasa. Perempuan itu berjalan mendekati tangga menuju kamarnya sendiri.
Satu demi satu anak tangga itu Yasa pandangi. Tiba-tiba, Yasa teringat sesuatu. Seorang pujangga pernah berkata kalau hidup itu bagaikan menaiki anak tangga. Untuk mencapai tempat yang tinggi, Yasa harus melewati beberapa anak tangga bahkan sampai ratusan anak tangga. Semakin tinggi puncak yang ingin Yasa tuju, semakin banyak pula anak tangga yang harus Yasa lewati.
Langkah pertama memang akan terasa berat. Baru saja satu anak tangga yang Yasa pijaki, tapi rasanya sudah begitu sulit. Namun, jika Yasa tidak melangkah ke anak tangga pertama, maka Yasa tidak akan sampai pada puncak yang dia tuju.
Bayi dalam rahimnya saat ini adalah langkah pertama bagi Yasa untuk menyelesaikan transaksinya bersama Gesa.
Ayolah Yasa ... hanya sembilan bulan dan semuanya selesai, batin Yasa bergumam.
Yasa pijaki satu demi satu anak tangga itu sampai akhirnya dia sampai di depan pintu kamar. Bayangan mengerikan akan malam kelam kala itu kembali terlintas dalam benak Yasa. Yasa mendundukkan kepala sebentar sebelum menguatkan hatinya lagi. Dia buka pintu itu dan kembali duduk di tempat yang sama seperti tadi pagi. Dia terduduk sambil bersandar di salah kaki dari ranjang besar miliknya.
Ternyata, di dalam kamar yang sama, Yasa masih menghabiskan malam yang begitu panjang. Matanya enggan untuk terpejam. Tak ada yang Yasa mimpikan kali ini. Tak ada yang Yasa harapkan saat ini. Perempuan itu begitu larut memandangi bagaimana jarum jam dinding yang menggantung di depannnya, terus bergerak. Sesekali, Yasa mengusap perutnya dengan begitu pelan. Dia tengah menerka akan sebesar apa perut itu nantinya. Terlintas rasa penasaran dalam hati Yasa. Dia ingin tahu, bayi dalam rahimnya ini akan tumbuh seperti apa, akankah indah seperti Gesa ataukah cantik layaknya Elfara.
Namun, sebanyak apapun Yasa menerka, jawabannya tetap pada jarum jam yang terus bergerak. Entah di angka berapa jarum jam itu akan berhenti. Entah di tempat seperti apa transaksi Yasa dan Gesa akan berakhir. Semuanya hanya tentang waktu dan menunggu.
Lelah menerka hal yang bukan miliknya, Yasa tersadar saat mendengar ayam berkokok. Ternyata, sudah pagi dan Yasa belum tertidur sama sekali.
Suara merdu dari tahrim subuh mulai berkumandang, tapi Yasa masih di sana. Duduk di tempat sama dengan hati yang masih sama.
“Teh, udah bangun belum?” suara Mala yang berbisik kembali terdengar di balik pintu. Perlahan-lahan, pintu itu terbuka. Bayangan tubuh Mala di ambang pintu hanya mampu Yasa tatap sekilas.
“Ada tamu,” sambung Mala. Ternyata, Mala tidak sendirian. Di sana, juga ada Diaz.
“Maaf, saya datang pagi-pagi seperti ini.” Diaz menatap Yasa. Pandangan pria berkemeja putih itu dipenuhi oleh hal-hal yang tak bisa Yasa terka. “Gesa minta saya untuk segera ke sini,” sambungnya.
Yasa hanya terdiam di tempatnya. Yasa memang tidak mengharapkan kedatangan Gesa. Namun, kedatangan Diaz membuat Yasa mengerti. Yasa mengerti posisinya ada di mana bagi Gesa.
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomantizmKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
