ELFARA merekahkan senyuman saat kembali pulang ke rumah. Matanya berbinar, memandang setiap sudut kenangan yang dia tinggalkan. Jantungnya berdebar, menuai kembali rasa rindu akan pulang. Setiap langkah dia pijaki dengan angan yang menggebu-gebu. Sampai-sampai, perempuan cantik itu tak bisa membedakan mana nyata dan mana hayalan.
Dengan kedua telapak tangannya, Elfara menepuk pipinya sendiri, memastikan bahwa hari ini bukanlah mimpi yang selalu dia damba setiap malam, bahwa hari ini bukanlah kepalsuan yang selalu dia puja di balik jendela.
Lepas, bebas, dan mendebarkan.
Elfara sungguh tak mengira akan keluar dari penjara pengerikan yang terus mengurungnya. Pandangan dari manik cokelat itu tak henti menatap rumah besar di hadapannya. Ternyata, rumahnya bersama Gesa masih berdiri di tempat yang sama, percis seperti saat dia tinggalkan.
"Nyonya cantik masih mau berdiri di sana?!"
Di depan pintu rumah, Bi Narti sedikit meninggikan nada bicaranya. Sudah beberapa kali seruan perempuan paruh baya itu diabaikan Elfara. Padahal, langit sudah gelap, tapi Elfara masih enggan untuk masuk rumah.
Bi Narti yang masih berdiri dengan koper besar milik Elfara, hanya bisa menunggu nyonya cantiknya itu sadar dari lamunan.
Di sana, Elfara malah tertawa kecil. Dia berjalan cepat dan menuggu Bi Narti membukakan pintu rumah untuknya. "Berapa lama aku meninggalkan rumah ini?" tanyanya.
"Tidak lama, tapi tidak sebentar juga, Nyonya," sahut Bi Narti.
Saat pintu besar itu terbuka, Elfara kembali tertegun. Matanya berkaca-kaca dengan degup jantung yang kian menjadi. Elfara sungguh tak bisa menahan debar jantungnya lagi saat semerbak aroma khas bayi masuk ke dalam indera penciumannya.
Elfara bergeming dalam hening. Dia mematung. Namun, manik cokelatnya perlahan mulai menyusuri setiap sudut rumah. Sayup-sayup, terdengar suara tangisan bayi.
"Bi, bayiku di mana?" tanyanya.
Elfara berlari. Dia buka setiap pintu kamar, mengejar suara tangisan itu. Elfara mencari. Dia lebarkan setiap pandangannya, menanti figur mungil beroma tenang itu.
"Bayiku di mana?" tanyanya lagi.
Sampai akhirnya, pencarian Elfara berhenti kala dia melihat Mamah menuruni tangga dengan tangisan kecil yang belum mereda.
"A, kamu udah pulang? Gimana Yasa? Ini ... si cantik udah kehausan—" Mamah berhenti tepat di tengah tangga. Perempuan sepuh itu mengatupkan bibirnya dengan Yasa kecil dalam pangkuannya. Ternyata, bukan Gesa yang pulang, tapi Elfara dengan tatapan indahnya.
Mamah cukup terkejut sekaligus heran. Padahal, tadi pagi Gesa pamit untuk menjemput Yasa di rumah sakit. Namun, bukan Yasa, bukan pula Gesa. Langit malam di luar sana malah membawa Elfara pulang.
Bukan niat hati Mamah untuk menampik kehadiran Elfara. Dia hanya terkejut. Dia mematung dengan tangisan kecil yang belum mereda dalam pangkuannya.
"Mamah," panggil Elfara. Dia berjalan cepat menaiki tangga untuk mendekati Mamah. Matanya tak lepas menatap figur kecil dalam pangkuan perempuan sepuh itu. Elfara sungguh takjub pada figur mungil itu.
Sekarang, Elfara tahu dari mana aroma indah yang semerbak tadi berasal. Sekarang, Elfara juga bisa mendengar dengan jelas tangisan yang tadinya hanya mengalun samar.
Namun, pukauan cantik itu seketika berubah saat Elfara menatap wajah bayi itu. Kerutan di kening Elfafa benar-benar tergambar sempurna dalam wajah eloknya.
"Dia bukan Gesa kecil." Elfara bergumam. Dia pandangi sekali lagi wajah mungil itu. Samar-samar, dia menggelengkan kepalanya. "Dia bukan Gesa. Dia cantik," gumamnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomansKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
