"Kekecewaan tidak dimiliki oleh hati yang kuat."
_____________________________________
YASA rasa hari ini jauh lebih biru. Langit di atas sana masih dengan congkak membentangkan warnanya. Putihnya awan masih dengan gemulai berarak mengikuti setiap langkah kaki Yasa. Hembusan manja dari angin kecil mampu menerbangkan helaian rambut Yasa yang terurai panjang nan indah.
Berpayung langit biru, berteman hati yang terasa biru, juga berkawan hari yang semakin biru, Yasa meneguhkan hatinya untuk mendekati Elfara. Dilangkahkannya kedua kaki jenjang itu dengan perlahan. Kerap kali, Yasa membenarkan rambutnya yang terus diterpa mesra oleh sang angin.
Dengan sandang seorang pasien, Elfara duduk sendirian di bangku taman rumah sakit. Perempuan cantik itu larut dalam dunianya sendiri. Sorot mata bermanik cokelat itu masih sekosong saat pertama kali Yasa lihat. Wajah anggun nan elok itu masih sepucat saat pertama kali Yasa temui.
"Boleh ikut duduk?" tanya Yasa.
Elfara sedikit menggeser posisi duduknya, memberikan tempat untuk Yasa. Kemudian, dia kembali tenggelam dalam pandangan kosong tanpa mengatakan sepatah kata pun. Entah apa yang ada dalam benaknya. Pandangannya hanya menerawang tanpa arah dan tuju.
Yasa ikut memandangi setiap hal yang mungkin tengah Elfara tatap. Namun, tak ada keagungan apapun di sana, tak ada keelokan apapun di sana. Hanya ada lalu lalang kendaraan yang hilir-mudik di depan mereka.
Yasa menarik napasnya teramat dalam. Dia tatap figur Elfara di sampingnya. Setiap garis wajah itu tak bisa Yasa pungkiri keindahannya. Jika seorang dewi nyata di dunia ini, mungkin Elfara adalah salah satunya. Matanya cantik dan besar, pipinya terkesan berisi, juga bibir penuh bagaikan kelopak mawar. Pesona jelita yang mendapat sentuhan darah Belanda itu terlampau laras dengan keindahan persona seorang Gesa.
Dengan sedikit keraguan, Yasa berani untuk bertanya, "Lagi ngapain di sini?"
"Menunggu," jawab Elfara.
Entah apa yang kini Elfara tunggu. Yasa mengalihkan pandangannya dan malah berakhir pada lengan Elfara yang penuh dengan luka sayatan. Setiap garis yang tercipta karena luka itu seakan mampu bercerita, sebuah cerita pilu pada rasa kecewa.
Entah sekecewa apa Elfara hingga tega menyakiti dirinya sendiri berulang kali. Yasa menutup matanya sebentar sambil mengusap perutnya dengan lembut.
"Berapa usianya?"
Yasa kembali menolehkam kepalanya karena pertanyaan Elfara. Dia membisu dengan bibir yang kini mengatup sempurna.
"Kandungan kamu." Elfara kembali menimpali ucapnnya sendiri.
"Eugh ... E-empat bulan," sahut Yasa terbata-bata.
"Kamu bahagia?" tanya Elfara.
Hati Yasa membuncah tak karuan. Apakah dia bahagia atau tidak? Tanpa sadar, Yasa menggelengkan kepalanya samar. "Aku takut," cicitnya pelan.
"Kehamilan itu bukan sesuatu yang harus ditakutkan, tapi disyukuri. Dulu, saat aku hamil ... aku juga kadang takut dengan kehamilanku. Takut ... kapan dia akan lahir dan apakah di dalam sana dia baik-baik saja atau tidak. Banyak sekali hal terpikirkan saat kita hamil. Mulai dari tak sabar menanti kelahiran sampai ketakutan saat melahirkan nantinya. Rasanya, benar-benar mendebarkan, tapi sangat membahagiakan."
Elfara tersenyum sekilas. Dia menepuk pundak Yasa. "Buktinya, aku bisa melewati semua itu, kamu juga pasti bisa. Percayalah," ucapnya.
Mata Yasa terasa memanas sekarang. Hatinya berdenyut perih. Dia tak sanggup untuk menahan rasa sesak di dadanya. Dengan beselindung di balik tangisannya sendiri, Yasa meremat kehampaan genggaman tangannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomanceKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
