YASA masih berjuang di dalam sana. Rintihannya masih mengalun pilu di pendengaran Gesa. Wajah ayunya masih terlukis sendu dalam penglihatan Gesa. Gesa menatap telapak tangannya yang kini terasa lebih kosong dan hampa. Tangan itu yang sempat Yasa genggam. Tangan itu pula yang sempat menjadi tempat Yasa menahan rasa sakitnya.
Kini, terbayang dengan jelas wajah Yasa yang begitu kesakitan. Terbayang begitu nyata bagaimana wajah Yasa kehilangan seluruh warnanya. Pucat pasi seakan tak ada satu tetes darah pun yang mengalir dalam tubuh Yasa.
Namun, perempuan yang hampir kehilangan kesadarannya itu sempat berpesan, "Jangan kabari Bapak ... dia masih sakit."
Jika malaikat menjelma jadi seorang manusia, mungkin Yasa adalah salah satunya. Di saat seperti ini sekalipun, perempuan itu masih sempat memikirkan keselamatan orang lain. Di sela tangis pilunya sekalipun, Yasa masih mendahulukan orang lain. Yasa tak pernah lupa dengan kondisi Bapak yang tak bisa menerima kabar mengejutkan. Jantung pria sepuh itu terlalu lemah.
Demi Tuhan, Gesa ingin menangis sekencang mungkin. Gesa ingin berteriak meluapkan seluruh perasaannya. Namun, Gesa bukanlah orang gila yang kehilangan akal sehat. Pria itu menundukkan kepalanya, menyadari betapa Yasa teramat indah untuk Gesa miliki dalam jurang keegoisannya. Yasa terlalu sempurna untuk Gesa cintai dengan hati yang terlampau rumpang.
Gesa mengepalkan tangannya. Dia menghantamkan kepalan itu pada dinding yang begitu kokoh di depannya.
Kenapa harus berakhir dengan seperti ini lagi? Kenapa Gesa harus menunggu di depan pintu ini lagi? Kenapa sagalanya seperti terulang kembali? Menunggu kabar yang tak pasti dengan pasrah. Gesa sudah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Bahkan, kekalutan saat menunggu Elfara kala itu, kini seakan menjadi pengulangan yang Gesa benci.
"Gak usah aral, A ...," ucap Mamah sambil mengusap punggung Gesa.
Mamah tak mengerti pada siapa Gesa marah. Mungkinkah Gesa marah pada keadaan atau mungkin pada dirinya sendiri.
Sejak tadi, Gesa tak henti menyakiti dirinya sendiri dengan terus melayangkan kepalan tangannya pada tembok. Sampai-sampai kepalan yang kokoh itu sudah mengalirkan darah karena hantaman yang begitu keras.
"Udah, A. Gak ada gunanya." Mamah menahan lengan Gesa. Dia genggam kepalan tengan itu dengan hati yang tak kalah rumpang.
Gesa tatap manik lelah milik Mamah. Kedua mata Gesa mulai terasa perih dengan pupil yang kian bergetar. "Tapi, Mah. Kenapa harus gini lagi? Kenapa aku lagi yang harus menunggu seperti ini? Waktu itu Elfara, sekarang Yasa. Apa Tuhan tidak cukup untuk menghukumku? Apa aku tidak cukup baik untuk Tuhan sayangi sedikit saja?"
"Sttt!" Mamah kembali mengusap punggung Gesa. "Jangan su'udzon sama Allah. Sekarang ambil wudhu, shalat hajat. Minta sama Allah. Pasrahkan segalanya."
Gesa kembali menatap pintu ruangan yang masih tertutup rapat di sana. Entah kapan pintu itu akan terbuka untuk Gesa.
"Yasa gimana, Mah?"
"Mamah yang akan tunggu Yasa di sini."
Sekali lagi, Gesa tatap pintu itu. Gesa tak bisa menerka apa yang terjadi di dalam sana. Dia hanya bisa berharap semuanya bisa baik-baik saja.
Meski dengan hati yang enggan, Gesa berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit yang kini terasa memilukan. Aroma obat itu seakan mengejek Gesa. Rintih pilu itu seakan mengingatkan Gesa tentang Yasa. Hati Gesa benar-benar hanyut terbawa derita.
Hingga tak terasa, Gesa sampai di sebuah mushola kecil.
Tak ada orang di sana. Semuanya begitu sunyi dan tenang. Gesa menggulung lengan kemejanya dan melipat celana panjang yang menutupi kaki jenjangnya. Lantas, pria itu berjalan ke tempat wudhu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
Storie d'amoreKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
