"Tenyata, aku yang terlalu cepat jatuh cinta."
_____________________________________
GESA menggenggam sebuah neraca yang tak pernah seimbang. Entah ke mana tujuan dari arah langkah Gesa sekarang. Entah sisi neraca mana yang akan dia seimbangkan. Semuanya begitu membingungkan bagi Gesa.
Di sana, ada Elfara yang sudah lama bertakhta dalam hati Gesa. Perempuan cantik itu yang sempat menjadi kawan saat Gesa dihancurkan oleh dunia. Perempuan sama yang kini tengah Gesa perjuangkan untuk sebuah kesembuhan.
Di sisi lain, ada Yasa yang kini mengambil alih hati Gesa. Wajah ayunya yang kini Gesa puja dalam kelamnya malam juga dalam teriknya sengat mentari pagi. Perempuan sama yang kini tengah berjuang demi buah hati Gesa.
Sisi mana yang harus Gesa pilih?
Dunia pernah berkata, jika mencinta dua orang sekaligus, maka pilihlah yang kedua. Namun, Gesa ragu. Standar dunia tak selamanya benar. Gesa menginginkan keduanya. Dia menginginkan Elfara dan Yasa di waktu yang sama.
Gesa tatap manik cokelat Elfara di sana. Tersirat beribu kenangan yang telah Gesa lalui bersama indahnya manik itu. Perlahan, Gesa melabuhkan pandangan pada legamnya manik Yasa di sana. Banyak sekali cita dan cinta yang ingin Gesa rengkuh bersama cantiknya manik itu.
"Sayang, Yasa minta kita untuk menemui suaminya," ucap Elfara.
Gesa menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali menatap Yasa. Lagi dan lagi, legamnya kedua bola mata itu meminta Gesa untuk bertekuk lutut. Padahal, tak ada yang Yasa ucapkan, tapi Gesa bisa mendengar bagaimana ayunya wajah cantik itu berbicara.
Samar-samar, Gesa menggelengkan kepalanya. Tidak Yasa ... tidak untuk saat ini dan tidak untuk hal ini.
Kebisingan lalu lalang kendaraan menyamarkan denyut jantung Yasa. Perempuan itu tersenyum tipis. Yasa mengerti maksud Gesa. Namun, manik legamnya makin tajam menatap Gesa di sana.
"Pengecut!"
Jantung Yasa benar-benar akan meledak saat ini juga. Dia membenamkan kuku jarinya pada genggaman tangannya sendiri. Tanpa sadar, genggaman tangan itu benar-benar melukai tangannya sendiri. Namun lagi, senyumannya tetap Yasa pamerkan dengan begitu bangga.
"Suamiku ... dia benar-benar pengecut. Dia tidak berani untuk sekedar menemui kalian berdua."
Yasa memalingkan wajahnya, menyembunyikan kekecewaan yang terpancar dari raut sempurna. "Padahal, tadi ... Mbak Elfara sangat ingin bertemu dengannya," paraunya.
Akhirnya, air mata itu terjatuh dari pelupuk mata Yasa. Yasa sungguh tak mau terlihat lemah, tapi rasanya kenapa bisa sesakit ini. Dia buru-buru menepis jauh tangisannya. Diam-diam dia usap air matanya sendiri. Dia hirup udaranya dalam-dalam.
"Mungkin lain kali." Bibir Yasa terlihat bergetar saat berucap. Dia tatap Elfara yang masih berdiri di samping Gesa. "Lain kali, kita bertemu dengan posisi yang berbeda. Sekarang, aku benar-benar pamit. Terima kasih atas undangannya. Aku pasti datang. Semoga kalian berdua selalu bahagia."
Yasa ingin pergi sejauh mungkin, begitu jauh hingga dia lupa untuk kembali pada kesakitan ini. Perempuan itu berjalan gontai, meninggalkan Gesa dan Elfara di sana.
"Sepertinya, Yasa menangis." ucap Elfara. Dia ikut menatap punggung kecil Yasa yang terus menjauh pergi. "Tapi, kenapa dia nangis?" tanyanya.
"Dia kecewa." Entah kenapa hati Gesa ikut perih, tapi dia tak bisa membayangkan akan sehancur apa hati Elfara saat Gesa datang sebagai pengkhianat.
"Hari ini, aku gak bisa lama menemani kamu di sini," ucap Gesa.
"Kenapa?" tanya Elfara.
"Ada pekerjaan ... aku harus ... bukan."
Sekarang, Gesa bahkan bingung. Kebohongan apa yang harus dia ucapkan untuk Elfara. Dia gelagapan dengan terus menghindari tatapan Elafra. "Ada hal yang aku tinggalkan di rumah. Aku gak bisa lama-lama di sini," ucapnya.
"Tapi, kamu akan kembali, 'kan?"
"Pasti, tapi tidak hari ini .... aku pamit."
Elfara tak mengerti kenapa Gesa begitu terburu-buru. Saat Gesa mulai pergi, Elfara masih mematung di tempatnya
"Gesa!" panggilnya.
Gesa hanya menoleh. Dia menghentikan langkahnya untuk kembali menatap Elfara yang akan dia tinggalkan.
"Kamu melupakan sesuatu! Aku marah!"
Gesa tersenyum tipis. Dia kembali mendekati Elfara. Dia usak pucuk kepala istrinya itu sekilas, lalu mengecup keningnya sebentar. "Aku pergi, ya."
Kali ini, Gesa benar-benar meninggalkan Elfara. Dia berlari ke parkiran rumah sakit. Dia segera melajukan mobilnya dengan tergesa. Bahkan, Gesa tak sempat memakai sabuk pengaman. Dia lebih khawatir dengan keadaan Yasa sekarang. Gesa tak tahu ke mana Yasa pergi kali ini.
Dengan hati dan pikiran yang berkecamuk tak tentu arah, Gesa terus membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia terus menengokkan kepalanya ke sana dan kemari, berharap bisa menemukan figur Yasa.
Gesa yakin, Yasa belum jauh. Karena, akan sejauh apa langkah kaki dari seorang perempuan hamil?
Baru beberapa meter mobil Gesa bergerak menjauhi rumah sakit, Gesa bisa melihat figur Yasa yang kini duduk di pinggir jalan. Perempuan itu sepertinya tengah melamun sambil mengusap perut besarnya.
Gesa buru-buru keluar dari mobilnya. Dia berlari ke seberang jalan, mendekati Yasa yang masih setia duduk di atas bangku panjang itu.
Langkah Gesa kian berat saat dengan samar dia mendengar isak tangis Yasa. Gesa juga bisa melihat bagaimana air mata itu terus mengalir dengan tidak sopan dari manik indah Yasa.
"Maaf," ucap Gesa. Dia ikut duduk di sana. Dia tatap wajah Yasa dari samping.
"Yas ... Elfara baru aja akan pulih. Dia akan sembuh. Aku gak bisa membayangkan kalau Elfara tahu tentang kita saat ini juga. Berikan hubungan kita sedikit waktu. Setidaknya, sampai Elfara pulih lagi."
Gesa raih tangan Yasa. Kini, dia bisa merasakan bagaimana itu terasa begitu panas dan bergetar. Gesa juga bisa merasakan beberapa luka kecil yang menghiasi tangan lentik itu.
"Aku yakin ... kamu pasti ngerti maksud aku, Yas."
Yasa malah menjauhkan tangan Gesa dari tanganya. Dia memilih untuk menggenggam tangannya sendiri dengan hati yang kian getir. "Aku ngerti dan akan selalu ngerti," ucapnya.
Yasa menutup matanya sebentar, meneguh hatinya untuk tidak menangis di depan Gesa. "Aku ngerti kalau posisi aku ada di mana. Aku ngerti kalau aku gak sepenting Mbak Elfara. Aku juga ngerti ... kalau kamu lebih memilih istri kamu."
"Kamu juga istri aku, Yas."
Yasa menggelengkan kepalanya. "Tadinya, aku juga sempat merasa begitu. Tadinya, aku percaya kalau aku juga sama berharganya seperti Mbak Elfara. Sampai-sampai aku sempat bingung sekaligus ragu. Benarkah aku seorang istri untuk kamu, tapi ... sekarang aku sudah menemukan jawabannya."
Yasa balas menatap Gesa di sana. "Terima kasih karena sudah menghilangkan keraguan itu. Sekarang, aku benar-benar mengerti."
"Yas—"
"Aku belum selesai." Yasa menyela ucapan Gesa dengan cepat.
"Kamu gak ngerti, Yasa Sabrina! Di sana, Elfara sakit. Kita gak mungkin menghancurkannya dengan fakta dari hubungan kita!"
"Fakta dan hubungan?" tanya Yasa. Sekarang, tatapannya mulai membara. "Saya sudah muak dengan semua itu, Pak Gesa! Tolong, mulai sekarang jangan lagi! Apapun yang terjadi, jangan lagi anda mengakui saya sebagai seorang istri. Baik di depan orang-orang atau pun di depan istri anda! Jangan lagi ...."
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
Roman d'amourKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
