"Kata orang, gak semua pengulangan akan sama indahnya. Nyatanya, kita selalu terjatuh di tempat yang sama."
_____________________________________
YASA masih kedatangan beberapa tamu hari ini. Padahal, acaranya syukurannya tidak diniatkan besar-besaran, apalagi sampai menerima tamu yang memberikan amplop. Rencana awal Bapak hanya menggelar pengajian Bapak-bapak, kemudian membagikan sedikit makanan. Tenyata, tak hanya amplop yang Yasa terima, ada beberapa ibu-ibu yang datang membawa kue-kue, pisang, juga sayur-mayur. Bahkan ada juga yang membawa beras.
"Rezeki si utun, Yas ... jangan ditolak." Bapak berbisik pelan. Sebetulnya, Bapak juga kaget dengan orang-orang yang tak henti berdatangan ke rumah, tapi mungkin memang sudah menjadi rezeki bayi yang Yasa kandung. Semua orang datang pasti dengan do'a yang baik untuk ibu dan calon bayinya.
"Tapi, Pak ... makanannya cukup gak? Harus di-pulang atuh mereun ibu-ibu yang kondangan?" tanya Yasa bingung.
"Di-pulang tuh apa, Yas?" Gesa masih belum mengerti dengan tradisi dan kebiasaan yang dilakuakn di daerah tempat tinggal Yasa. Sejak kemarin, pria rupawan itu tak henti bertanya ini dan itu.
Yasa menoleh, melirik Gesa yang berdiri di sampingnya. "Dikasih makanan. 'Kan mereka kondangan tuh ... ngasih amplop, kita ngasih balik mereka makanan, olahan gitu," jelasnya.
"Gak cukup makannnya?" tanya Gesa.
"Kemarin, Bapak nyiapin makanannya buat pengajian aja. Sekarang, harus masak lagi buat pengajian nanti." Yasa sungguh bingung. Dia tak mungkin menutup pintu untuk orang-orang yang datang. Perempuan hamil itu memijat pangkal hidungnya dengan frustasi.
"Keburu gak kalau masak lagi?" tanya Gesa.
"Enggak tahu."
"Beli catering aja gimana?"
"Harus pesen dari kemarin-kemarin. Kalau masak dari sekarang, bakalan bisa sih kayaknya. Cuman, kasian Ibu-ibu sama Bapak-bapak udah bantuin masak dari kemarin."
Jujur, Gesa sama bingungnya. Dia belum pernah mengadakan acara seperti ini. Apalagi, acara yang asing dan terkesan dadakan begini. "Ya ... gimana? Nanti, aku kasih mereka upah deh. Senggaknya uang lelah," ucapnya.
Yasa mendelikkan matanya. Dia usap wajahnya makin frustasi "Bukan soal uang, Pak Gesa!" cecarnya kesal.
Kenapa harus uang dan uang. Yasa tak mengerti, entah kenapa pria itu seakan menjadikan uang sebagai jalan termudah untuk menyelesaikan masalah.
Gesa hampir saja ikut tersulut emosi. Dia menghela napasnya sebentar. "Terus mau gimana? Kamu mau masak sendiri? 'Kan gak mungkin. Nanti kita bilang aja, minta tolong ke Ibu-ibu sama Bapak-bapak. Semoga aja, mereka pada gak keberatan. Ya?"
Kalau bukan karena melihat kedatangan Bu RT dari arah dapur, Yasa mungkin saja akan berteriak jengkel. Dia terdiam sejenak, meredakan emosinya untuk menyambut kedatangan perempuan berdaster batik itu.
"Bu Guru Yasa ... kalau mau masak lagi, enggak apa. Ibu-ibu sama bapak-bapak di dapur masih pada semangat. Tenang aja. Cuman ... bahan-bahannya doang yang kurang," ucap Bu RT. Perempuan berbadan sintal itu memang terkenal ramah meski cerewet. Sejak kemarin, dia ada di rumah Yasa untuk bantu-bantu. Bahkan, dia juga yang membawa ibu-ibu dan bapak-bapak.
"Beli lagi, Bu. Apapun yang perlu dibeli, beli lagi aja. Bilang aja ke saya atau Yasa." Itu Gesa yang menyahuti.
Bu RT tersenyum canggung. "Dagingnya sih, Pak Gesa ... Udah mau habis. Kalau mau beli lagi, mau kambing lagi atau ayam aja? Kayaknya ayam aja deh ya, biar gampang masaknya. Buat tambahan doang ini," tuturnya
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
Storie d'amoreKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
