"Setengah dari kemenanganku telah aku genggam. Kini, aku tidak takut pada apa pun dan siapa pun."
_____________________________________
ELFARA sempat merindukan perasaan ini. Perasaan indah saat semua orang bertepuk tangan untuk nyanyiannya. Elfara juga masih mendambakan semua senyuman itu. Setiap senyuman yang terpatri indah untuknya.
Dia tatap setiap pasang mata yang ada di sana. Tatapan hangat itu seakan mengiringi Elfara untuk menyudahi permainnya. Perempuan dengan surai cokelatnya berdiri di depan sebuah piano besar, lalu membungkuk sekilas pada orang-orang yang masih menyaksikannya.
"Terima kasih," ucapnya.
Sekali lagi, Elfara melabuhkan sorot indah dari manik cokelatnya pada deratan bangku penonton yang terisi beberapa. Meski tidak sebanyak penonton dari sebuah konser musik, tapi Elfara cukup senang dengan adanya orang-orang itu. Setidaknya, hari ini dia bermain piano tidak untuk dirinya sendiri.
"Bagus sekali, Elfara. Latihan hari ini benar-benar luar biasa. Sebagai penonton, saya begitu menikmati permainan piano anda. Semua rasa dari lagu yang anda mainkan, benar-benar bisa tersampaikan pada kita semua yang mendengarkan."
Dia Bu Nabil, seorang pelatih yang beberapa bulan ini membimbing setiap pasien RSJ Dharmawiguna agar bisa memainkan alat musik. Perempuan yang sepertinya sudah memasuki kepala empat itu bertepuk tangan dan merasa puas dengan hasil dari latihan Elfara hari ini.
"Saya tidak sabar untuk menantikan acaranya," tutur Bu Nabil.
Elfara hanya tersenyum kecil. Selain kondisi fisiknya yang mulai beranjak pulih, Elfara juga sudah terbiasa berbaur dengan orang-orang, meski hanya sekedar latihan musik seperti ini. Emosinya juga sudah jarang meluap-luap. Dia terbiasa menunggu dengan sabar dan tak jarang meminta maaf saat dirinya merasa telah melakukan kesalahan.
Entah karena dorongan dari orang-orang terdekat, atau mungkin tekad kuat dari Elfara untuk segera pulang ke rumah. Sampai detik ini, Elfara benar-benar jauh lebih dari sebelumnya.
Sebetulnya, bukan tanpa alasan akhir-akhir ini Elfara begitu serius berlatih piano. Perempuan cantik itu akan mempersembahkan sebuah lagu di acara rumah sakit nanti, sebuah lagu yang ingin dia persembahkan untuk semua orang.
"Apa sekarang aku boleh pergi ke taman?" tanya Elfara.
"Silakan. Latihan hari ini kita akhiri sampai di sini dulu, pekan depan kita lanjut lagi. Selamat menikmati hari anda," sahut Bu Nabil.
Bagaikan bocah kecil pulang sekolah, Elfara berjalan cepat menuju taman di samping rumah sakit. Perempuan cantik itu sudah tak bisa menahan dirinya lagi untuk duduk di bawah pohon dan menanti kedatangan Gesa hari ini.
Di bawah kanopi pohon kersen itu, Elfara kembali menghitung lalu lalang kendaraan di jalanan sana. Setiap kendaraan yang berlalu itu, membuatnya berkelana dalam pikirannya sendiri.
Elfara mengingat kembali saat pertama kali Gesa berlutut, meminta Elfara untuk menjadi wanita satu-satunya untuk Gesa. Elfara masih mengingat keteguhan sorot mata Gesa saat itu. Elfara juga masih mengingat bagaimana indah debar jantungnya sendiri.
Sampai akhirnya, keindahan demi keindahan itu berlabuh pada cinta dengan cara yang tak kalah indah, yaitu pernikahan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Elfara Keira binti ...."
Kalimat indah itu yang menyatukan cinta Gesa dan Elfara sampai sekarang. Elfara tak pernah mengira dia akan benar-benar terjatuh dalam sosok Gesa begitu dalam. Segala hal yang Gesa miliki seakan menerangi setiap jalan yang Elfara miliki. Setiap senyuman Gesa sekan menjadi penawar dari setiap kegundahan hati Elfara.
Elfara melipat beberapa jarinya, menghitung sudah berapa lama dia menyerahkan seluruh hidup dan hatinya untuk Gesa.
"Satu ... dua ... tiga."
Dalam hitungan semu milik Elfara, ternyata pernikahannya bersama Gesa belum genap empat tahun. Ternyata, hubungan indah mereka masih seumur jagung.
Perlahan, senyuman kecil dari wajah cantik itu kembali tercipta saat menyadari bahwa banyak sekali kenangan indah yang dia lalui bersama Gesa, banyak sekali cita-cita yang dia rajut bersama Gesa, dan tak sedikit pula tangis lara kecewa yang dia tumpahkan dalam rengkuh kokoh seorang Gesa.
Kini, Elfara yakin, setajam apapun liku jalan yang akan dilalui, semuanya akan lebih mudah jika dijalani bersama Gesa di sampingnya.
Tanpa dia sadari, Elfara mengingat kembali ucapan Gesa yang begitu manis. Pria itu sempat berkata, "Bagaimanapun jalan yang akan kita lalui nantinya, tolong ... tetaplah besamaku."
Mungkin hanya sekedar bualan, tapi hal itu terlalu indah untuk menjadi sebuah kebohongan.
"Mbak Elfara."
Mendengar namanya disebut, perempuan cantik itu menolehkan kepala, lantar tersadar dari lamunannya. Namun, bukan Gesa di sana. Tepat di bawah bayangan pohon kersen yang sama, seorang perempuan hamil berdiri dengan begitu anggun.
"Yasa," panggilnya.
Senyuman berhiaskan sepasang lesung pipi itu sungguh tidak asing bagi Elfara. Dia balas senyuman itu dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Boleh aku ikut duduk lagi?" tanya Yasa.
"Kenapa bertanya? Aku kira, kamu gak akan datang ke sini lagi," sahut Elfara.
Yasa mengulum sebuah senyuman. Dia duduk di samping Elfara dan ikut menatap lalu lalang kendaraan di hadapan mereka yang ternyata tak surut memamerkan semangatnya.
Tiba-tiba, Elfara menyodorkan sebuah pamflet kecil. "Datang, kalau sempat," ucapnya.
Yasa baca kertas kecil itu. Di sana tercetak dengan jelas acara konser amal bertajuk Berbagi untuk Cinta. "Ini apa?" tanyanya.
"Nanti, aku akan membawakan satu lagu di sana. Acaranya cukup panjang dan beragam, tapi dilaksanakan di sini. Waktunya dua bulan lagi dari sekarang. Aku akan senang, kalau kamu juga datang," jelas Elfara.
Yasa hanya terdiam, meski tangannya tetap menerima pamflet itu. Dia malah melamunkan permintaan Elfara yang begitu sederhana itu.
"Kenapa baru datang lagi? Aku suka saat kita ngobrol berdua. Aku juga penasaran, sudah sebesar apa kandungan kamu?"
Yasa antara mendengar dan tak mendengar ucapan Elfara. Pikiran perempuan berwajah ayu itu masih terganggu oleh hal-hal yang terus bertabrakan antara naluri dan logikanya. Padahal, Elfara tak henti beceloteh, meski hanya dibalas oleh kebisuan dari Yasa.
"Apa sekarang kamu bahagia?" tanya Elfara.
Yasa menolehkan kepalanya. Dia tatap wajah cantik Elfara melalui sudut matanya. Tiba-tiba, perasaannya membuncah. Tangannya kembali bergetar dengan debar jantung yang seakan terdengar oleh telinganya sendiri.
"Ya ... sekarang aku bahagia ... sangat bahagia," sahut Yasa.
Kali ini, Elfara yang mengulum sebuah senyuman kecil. Perlahan, tangannya bergerak untuk menyentuh perut besar Yasa. "Boleh aku menyentuhnya lagi?" tanyanya.
Baru saja jemari lentik itu akan sampai di perut Yasa, tangan Elfara lebih dulu Yasa tepis dengan kasar. Yasa buru-buru menutupi perut besarnya dengan cardigan tebal yang dia pakai hari ini.
"Aku gak suka saat orang lain menyentuhnya." Kalimat itu yang tiba-tiba terdengar dari bibir indah Yasa.
"Oh ... maaf ...." Elfara kembali menurunkan tangannya. Dia sembunyikan sepasang tangan itu di balik baju pasiennya. "Aku sangat suka melihat ibu hamil. Mereka sangat cantik. Perut besarnya sungguh indah. Mungkin, karena ada malaikat kecil di dalam perutnya, setiap wajah yang dimiliki ibu hamil selalu terlihat berkilauan," tuturnya.
"Mbak Elfara," panggil Yasa.
"Ya ...." Elfara menoleh. Dia pandangi wajah Yasa yang kini begitu bercahaya. Bahkan, sorot mata dari legamnya manik itu terasa jauh lebih indah dan kuat penuh keyakinan.
"Aku punya suami," ucap Yasa.
Bersama perut besarnya, Yasa beranjak dari tempat duduknya. Dia tatap sekali lagi wajah Elfara di sana. "Suamiku ada dan dia belum tiada. Kamu ingin mengenalnya, bukan?"
𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰 . . .
KAMU SEDANG MEMBACA
HARGA RAHIM YASA
RomanceKarena utang dan himpitan ekonomi yang terus mencekik keluarganya, Yasa rela menjual rahimnya pada sepasang suami-istri. Semuanya berawal dari Elfara yang sakit dan divonis tidak dapat mengandung. Akhirnya, Gesa memutuskan untuk membeli rahim Yasa d...
