65

738 83 19
                                    

Senyum merekah dibibir semua orang. Jantung yang sendari tadi bergejolak hebat sudah kembali normal. Ada perasaan lega tersendiri yang tidak bisa mereka jelaskan. Seakan beban yang sendari tadi mereka pikul telah hilang entah kemana, benar-benar lega.

"Lalu, adik saya?" tanya Tenn pada dokter pria yang sudah cukup berumur itu.

"Begini, kondisi pasien masih harus selalu dipantau oleh para dokter. Pasien pada saat ini berada pada tahap menyesuaian organ baru, dan pada tahap ini pasien akan rentan terkena komplikasi. Tapi, semoga pasien tidak mengalami hal tersebut. Kami pastikan adik anda akan dipantau secara ketat untuk perkembangannya. Selain itu tak ada yang perlu dikhawatirkan," jelasnya.

"Bagaimana, bagaimana dengan asmanya?" tanya Tenn was-was.

"Kalau dengan asmanya, maaf kami tidak bisa menyembuhkannya. Asma berbeda dengan penyakit lainnya, asma...tak memiliki obat"

Degg

"Jadi, adik saya...masih harus menderita karena asmanya?" tanya Tenn sambil menundukkan kepalanya.

Apa ini?!! Tenn tak terima! Dia pikir...dia pikir dengan adanya donor paru-paru itu semuanya bisa teratasi. Tapi, apa ini?!! Adiknya, masih harus hidup menderita, karena asmanya?!

Emosi Tenn sudah memuncak, bahkan ia hampir meneteskan air mata karena emosinya. Kedua tangan putihnya pun sudah mengepal kuat, menunjukkan betapa berusahanya ia menjaga agar emosinya tak meledak.

"Tapi...."

Saat ia sedang diambang batas sabarnya, satu kata dari profesor itu membuatnya memiliki harapan.

"Tapi apa dokter?" tanya Yamato tak sabar.

Yang lain hanya dengan setia mendengar penjelasan dari dokter itu dan mempersiapkan mental mereka. Semoga lanjutan dari kata "tapi" tadi merupakan kabar baik.

"Aku mengatakan bahwa asma memang tak bisa disembuhkan, dan itu benar. Tapi yang kumaksud adalah menyembuhkan secara total. Jelas itu tidak bisa karena obatnya belum ditemukan, iie, lebih tepatnya sedang di diteliti para ahli. Tidak menutup kemungkinan akan ada obat untuk asma dimasa depan. Tapi, adikmu saat ini mempunyai kemungkinan yang kecil untuk asmanya kambuh. Bisa dibilang sembuh? Yah, tapi sekali lagi asmanya masih ada pada tubuhnya! Kekambuhannya saja yang relatif kecil dan jarang. Bukan berarti tidak bisa terkena asma lagi! Jika ia menjalani hidup yang tidak sehat, ia akan terkena asma lagi. Tolong hindari ia dari kelelahan dan kedinginan!"

Seketika penjelasan dari dokter itu membuat mata-mata yang awalnya ingin menumpahkan cairan bening berubah menjadi kilauan harapan.

"Be-benarkah itu dok? Adikku...sembuh?"

"Sudah kubilang itu tidak bisa di sebut sembuh, tapi paling tidak asmanya tak akan mudah kambuh. Ingat! Tetap jaga adikmu!"

"Ha'i! Tentu dokter! Tentu saya akan menjaga adik saya," kata Tenn sambil menunduk 90°. Dan jika dilihat lagi, ada tetesan air yang terjatuh ke ubin putih itu yang berasal dari mata sewarna bunga sakura.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di sisi lain, tak jauh dari sana. Terdapat sesosok Pria yang sedang bersandar di dinding belokan tak jauh dari para idol itu serta profesor yang memberi penjelasan. Sambil menyilangkan tangannya,  pria itu dengan cermat ikut mendengarkan penjelasan sang profesor.

Sesudah profesor itu menjelaskan keadaan pasien pada keluarganya, profesor itu pun mendekati pria itu yang ia sudah sadari keberadaannya sendari tadi.

"Sora, kau hebat dalam operasi tadi. Adikmu yang berharga telah selamat. Aku bangga padamu"

"Aku bahkan tak bisa mengurangi rasa sakitnya selama ini. Apakah aku termasuk dokter yang hebat?"

"Sora, kau tau kan kondisinya seperti apa sebelum kita operasi. Tanpa dokter yang hebat, mungkin dia sudah direnggut oleh maut. Sora, ingat kita ini dokter bukan dewa. Tugas kita membantu pasien untuk sembuh bukan menyembuhkannya"

Protect My Otouto [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang