66

801 87 39
                                    

Saat ini Riku sedang menjalani perawatan pasca operasi di ruang ICU. Dokter dokter yang mengawasi Riku pun selalu hilir mudik tanpa henti untuk memastikan bocah Crimson itu sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Tenn juga dengan setia menemani adiknya dalam pemeriksaan. Sebenarnya idol yang lain juga ingin menjenguk si manis, tapi apa boleh buat, ruang ICU membatasi kunjungan untuk pasien dan hanya anggota keluarga kandung yang boleh menjenguknya karena kondisi pasien yang masih rentan. Dan itu membuat para idol yang lain merasa sedih karena tak bisa melihat si kecil kesayangan mereka.

Mereka pun memutuskan kembali dan akan sering berkunjung ke rumah sakit walaupun tak diperbolehkan masuk dan melihat Riku. Bagi mereka, mengetahui Riku sudah aman itu saja sudah cukup. Biarlah si kembar itu mempunyai waktu mereka sendiri.

Riku terbangun setelah 6 jam dalam kendali obat bius. Dan mata seindah daun mapel di musim gugur itu pun akhirnya menunjukkan eksistensinya. Mata yang... dirindukan Tenn. Mata indah adiknya.

Tenn yang saat itu sedang duduk di kursi kecil samping ranjang adiknya terlonjak kaget. Tangan yang sendari tadi dengan hati-hati mengenggam tangan adiknya kini semakin mengeratkan genggamannya.

"Tenn...nii...." mulut yang dipasang masker oksigen itu dengan pelan dan lirih memanggil nama sang kakak. Sedangkan yang terpanggil kini diam mencerna apa yang terjadi.

Adiknya...Riku.... akhirnya....bangun!!

"Riku!!!"

Tenn tanpa basa-basi menghambur memeluk adik kecilnya yang sangat ia nanti kesadarannya. Adiknya telah kembali padanya....

Dan saat Tenn sudah bisa mencerna setiap kejadian ini, dengan sigap Tenn menekan tombol samping ranjang Riku guna memanggil dokter. Ya walaupun tanpa dipanggil mungkin sebentar lagi dokter akan segera datang. Dokter di sini benar-benar mengawasi Riku dengan ketat. Mereka juga cekatan saat menangani Riku, membuat Tenn sedikit lebih lega.

"Riku, apa yang kau rasakan hmm? Sakit kah?" tanya Tenn dengan nada selembut mungkin.

Riku hanya menggeleng. Ia sebenarnya bingung ingin merespon kakaknya seperti apa. Dibilang sakit, tentu saja! Tapi bagaimana bilangnya disaat untuk mengucapkan dua kata saja membutuhkan tenaga ekstra.

Tenn juga meruntuki kebodohannya. Kenapa ia menanyai pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Dasar Tenn bakka!

Tak lama, dokter pun datang. Dan di sini yang memimpin pemeriksaan adalah dokter Sora. Ya, sementara dokter Sora bekerja di sini, tentu khusus untuk pasien imutnya ini. Mana mau dia merawat pasien lain di saat adiknya sendiri harus melakukan perawatan ekstra. Ya... walaupun banyak dokter di sana yang berusaha "memanfaatkan" kinerja dokter Sora.

"Riku, akhirnya kau sadar! Kami benar-benar mencemaskan mu!" ujar dokter Sora tersenyum sambil menyiapkan peralatan medisnya.

Dan Riku hanya meresponnya dengan ikut tersenyum. Dokter Sora memakluminya, tentu saja Riku tak bisa merespon lebih karena dia pasti masih sangat lemah mengingat ia baru saja sadar.

"Aku periksa dulu ya," ucapnya seakan membujuk seorang anak kecil untuk menjalani pemeriksaan.

Dokter Sora pun segera memasang stetoskop dan menempelkan ujungnya yang berbentuk bulat itu di dada dan perut Riku. Sedangkan suster yang mengikuti dokter Sora dengan setia mencatat hasil periksaan yang dokter Sora lakukan. Tak sampai di situ, baik dokter Sora atau pun suster itu, dengan teliti mengecek infus ataupun alat lainnya yang terhubung pada tubuh Riku. Semuanya, bahkan detail terkecil. Tidak boleh ada kesalahan atau keabnormalan yang lain. Semua harus dalam pengawasan dan dalam keadaan normal.

"Apakah Riku baik-baik saja?" tanya Tenn.

"Riku baik-baik saja, tapi kita masih harus memantaunya. Mungkin Riku akan berada di sini sekitar 5 hari untuk pengawasan yang menyeluruh. Riku baru saja menjalani operasi yang tidak ringan dan resiko pasca operasinya juga besar. Kami harus ekstra hati-hati"

Protect My Otouto [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang