The Truth

1.2K 34 5
                                        

"Jadi aku orangnya?" Tanya Gisel dengan perasaan yang masih shock dan malu-malu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Jadi aku orangnya?" Tanya Gisel dengan perasaan yang masih shock dan malu-malu.

"Aku orang yang udah buat kamu bolak-balik Paris - Jakarta? Cuma buat liat aku doang?"

Arga hanya mengangguk, malu. Akhirnya terbongkar sudah sebuah rahasia memalukan yang dia simpan selama hampir sepuluh tahun. Tapi bersamaan dengan itu, ada perasaan bangga dan lega juga. Ternyata, dia pernah mencintai Gisel dengan sangat baik, dulu.

"Aku hampir lupa kalau kita pernah punya momen itu di Paris."

"Bagi lo mungkin itu momen yang biasa aja, tapi bagi gw itu momen ulangtahun gw yang paling spesial! Ulangtahun gw yang paling bahagia!"

Keduanya sama-sama malu dan canggung saat membahas hal-hal manis seperti kenangan mereka. "Kamu kenapa bisa sampe nyusulin aku ke Paris?"

"Masa musti ditanya lagi sih alasannya? Bukannya udah jelas? Kan tadi gw udah bilang waktu di atas."

Sekarang mereka berada di basement dari hotel tempat mereka merayakan ulang tahun Dinda. Lebih tepatnya, mereka sedang berada di dalam mobil Rolls Royce Cullinan berwarna hitam, milik Arga yang masih terparkir di sana.

"Ya aku pengen denger aja lagi!"

Terpaksa Arga telan bulat-bulat kembali egonya, demi Gisel. "Karena gw kangen Sel! Kurang jelas apa lagi?" Wajahnya memerah, begitu pun dengan Gisel.

"Iya kangennya karena apa?"

"Ya kalo cowok kangen sama seorang cewek tuh kira-kira apa?"

Gisel jelas tahu apa sebenarnya alasan dari Arga sampai rela terbang 34 jam bolak balik Jakarta - Paris, tapi dia ragu. Apakah benar karena perasaan 'suka'? Kalau benar, mengapa dia tidak bisa merasakannya sama sekali dulu.

"Sejak kapan?" Tanya Gisel langsung ke inti pertanyaan.

"Apanya?" Arga benar-benar gugup, karena sepertinya dia harus mengungkapkan semua isi hatinya yang terpendam selama bertahun-tahun.

Gisel menghela nafas panjang, dia ingin mengomeli lelaki ini karena terus memaksanya menyebutkan satu kata yang sulit sekali dia sebutkan.

"Sejak kapan suka sama aku?" Nada gadis itu kian meninggi.

"Dih kepedean! Siapa yang suka?"

"YA TERUS APA DONG NAMANYA KALO BUKAN SUKA?" Gadis itu benar-benar kehilangan kesabarannya. Suaranya hampir terdengar seperti orang marah.

FIRECRACKERS (II) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang