The Circle of Happiness

610 25 2
                                    

Mobil yang dikendarai Arga mulai memasuki area rumah Opa yang berhalaman sangat luas. Dari kejauhan terlihat Gisel yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang resah. Matanya seperti mencari-cari keberadaan Arga dan Opanya. Tak hanya itu mata berwarna coklat itu juga sudah sembab akibat menangis. Di sebelahnya ada Oma yang duduk di kursi rodanyanya sambil menggenggam tangan gadis itu. Saat dilihatnya Pak satpam membukakan pintu pagar dan mobil Arga terlihat memasuki pekarangan rumah, gadis itu berlari menghampiri mobil tersebut.

Arga keluar dari mobil dengan senyum yang dipaksakan dan mata yang sembab. Wajah Gisel penuh pertanyaan, tapi Arga hanya diam sambil membukakan pintu untuk Opa.

Setelah Opa turun dari mobil, Gisel langsung memeluknya dengan erat.

"Opaaa...Opa Marah ya sama Gisel? Gisel minta maaf ya. Gisel gak akan ngelawan Opa lagi, tapi Opa jangan marah. Gisel sedih sekali dimarahi Opa seperti tadi. Opa apakah Gisel sudah membuat perasaan Opa tersinggung? Atau ada perbuatan Gisel yang salah Opa? Tolong beritahu Gisel. Nanti Gisel janji gak akan ulangin lagi" Dengan suara yang tak jelas Gisel merengek sambil terisak-isak. Dia shock dan juga sedih karena baru itu Opanya bersikap sangat galak padanya.

"Opaa.. Kalau Arga ada salah tolong dimaafin juga. Kalau Opa belum bisa kasih restu buat Arga dan Gisel, tenang aja, Gisel akan dengan sabar menunggu sampe Opa percaya sama Arga dan kasih kita restu. Gisel gak akan melawan Opa, kalau Opa mau Gisel mejauh dulu dari Arga, Gisel akan turutin. Tapi Opa juga pelan-pelan buka hati untuk Arga ya?"

Arga yang mendengar itu hanya diam, dia biarkan Gisel mengungkapkan apapun yang ingin dia utarakan.

"Gisel yakin Opa pasti akan seneng punya cucu baru kayak Arga. Dia memang nyebelin tapi dia lucu Opa. Dia pasti akan bisa hibur Opa terus. Makanya Opa kasih dia kesempatan dulu ya? Gak papa Gisel bisa nunggu. Pokoknya Gisel maunya nikah direstuin Opa"

"Ssssttt sudah.. Jangan menangis seperti ini, malu! Katanya sudah tmau menikah? Tetapi kenapa masih cengeng begini? Bagaimana Opa mau yakin melepaskan kamu?"

"Enggak Opa, Gisel gak akan lepas ke mana-mana. Gisel tetap selamanya akan manja ke Opa! Akan ngerepotin Opa terus! Kita cuma tambah satu personil di keluarga kita, harusnya gak papa kan?"

Opa tersenyum geli tapi matanya masih berkaca-kaca, sambil membelai lembut rambut panjang Gisel yang masih sama rasanya dengan saat dia masih bayi.

Opa mmeberikan isyarat pada Arga untuk mendekat, yang langsung dituruti oleh lelaki itu. Kemudian dengan perlahan, Opa melepaskan pelukannya dari cucu kesayangannya itu. Dengan perlahan beliau hapus air mata Gisel yang tak berhenti mengalir di pipinya.

"Udah jangan nangis lagi, Opa minta maaf karena tadi udah bentak kamu. Opa cuma cemburu dan belum rela melepas kamu. Opa takut kalah saing sama calon suami kamu ini" Opa mengambil telapak tangan Gisel dan meletakkannya di atas telapak tangan Arga.

Melihat itu tangisan Gisel langsung berhenti dan berganti sesenggukan. Dia menatap Arga dengan penuh pertanyaan yang dibalas Arga dengan senyuman dan anggukan.

"Maksudnya apa Opa?"

"Dengan berat hati, Opa merestui hubungan kamu dengan Arga"

"Yang bener Opa??"

Opa mengangguk sambil tersenyum

"Beneran Ga? Opa kasih kita restu?"

Arga mengangguk dengan senyuman haru. Hal itu membuat Gisel langsung memeluk Opanya kembali.

"Makasih Opa... Makasih banyak! Opa memang Opa nomor satu di dunia! Gisel sayang banget sama Opa!"

Mendapatkan perlakuan seperti itu dari cucunya jelas membuat Opa dan Oma menangis terharu. Gisel mereka kini sudah dewasa dan akan memulai kehidupan baru dengan lelaki pilihannya.

FIRECRACKERS (II) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang