D-Day!

2.1K 76 5
                                        

Arga menunggu resah di kursi restaurant yang khusus dia booked hanya untuk dirinya dan tamu kehormatannya hari ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Arga menunggu resah di kursi restaurant yang khusus dia booked hanya untuk dirinya dan tamu kehormatannya hari ini. Empuk dan mewah nya kursi yang dia duduki saat ini, tak mampu membuatnya merasa nyaman sama sekali. Hatinya resah, matanya dari tadi tak berhenti menatap ke arah pintu masuk kalau-kalau orang yang dia tunggu datang. Dia benar-benar tidak tau apa yang harus dia ucapkan ke Gisel kalau bertemu nanti? Ratusan skenario telah dia buat di otaknya dari semalam, tapi sekarang mendadak semuanya gelap. Bahkan dia sudah lupa dengan rasa kesal nya pada gadis itu, karena sangking gugupnya. Bagaimana pun, Gisel pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah masa sekolah dan kuliahnya.

Di lain sisi Gisel sedang berdiri di depan pintu restaurant The Heritage dari 10 menit yang lalu. Sudah tiga kali dia bolak balik di depan pintu, memilih antara ke masuk ke dalam atau kabur saja? Jantungnya berdegup begitu kencang hingga membuat langkahnya diatas hills 7 cm berwarna hitam itu, semakin gontai. Entah bagaimana Arga sekarang? Apakah wajahnya masih menyeramkan seperti dulu? Lalu ketika mereka bertemu nanti apa yang akan dia lakukan pada Arga? Menyapanya seperti baru kenal? Atau memeluknya seperti teman lama yang sudah lama berpisah? Oh rasanya Gisel tidak pernah begitu gugup dan takut begini! Bagaimana nanti kalau sikap Arga begitu dingin seperti terakhir mereka bertemu? Bagaimana bila Arga mengusir nya lagi? Seketika perasaan takut menjadi begitu dominan di benak gadis itu.

Tiba-tiba Ada seorang laki-laki yang menghampiri gadis bingung itu, pakaian nya sangat rapih dan terlihat mahal.

"Permisi Nona Gisella Wiratama, Saya Bobby asistennya Tuan Arga Winata. Silahkan masuk Nona, Tuan Arga sudah menunggu di dalam!" Laki-laki itu terdengar sangat sopan.

"Oh... baik.." Jawab Gisel dengan hati yang semakin tak karuan. Wajahnya kikuk dan senyumannya canggung. Niatnya untuk kabur pupus sudah, kalau sudah begini bagaimana bisa dia kabur?

"Mari saya antar, Nona."

Gisel yang masih terdiam mengangguk lalu mengikuti langkah lelaki itu menuju meja dimana Arga berada. Tak lupa dia berdoa kepada Tuhan agar semuanya baik-baik saja. Atau setidaknya dirinya tidak bertingkah memalukan saja sudah cukup ya Tuhan..

Langkah demi langkah yang wanita itu ambil membawanya lebih dekat kepada sosok laki-laki yang paling dia hindari sekaligus dia rindukan di dunia ini. Sosok laki-laki yang dulu begitu lekat dengan kesehariannya, mengacaukan hari-hari nya dan menjadi pengalaman pertama bagi nya untuk banyak hal yang mendebarkan.

Dan, itu dia!

Sesosok laki-laki berwajah angkuh yang berhasil menjungkirbalikkan dunianya itu, kini mulai terlihat dari tempatnya berdiri. Jantung sang gadis yang amatir, semakin keras berdetak! Kakinya lemas dan telapak tangan nya semakin dingin. Kalau saja dia tidak memakai lipstik, pasti wajahnya akan terlihat pucat. Gisel masih tak berani menatap lelaki itu secara terang-terangan. Di tundukkan pandangan nya karena kini air mata sudah menumpuk di kelopak matanya. Sialan! Kenapa dia harus menangis di saat seperti ini? Bukan kah dia sudah mengutkan hatinya dari jauh-jauh hari? Tapi mengapa malah begini? Hatinya tetap saja lemah kalau berhadapan dengan Arga!

FIRECRACKERS (II) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang