Udara dingin menusuk hingga ke pori-pori kulit. Alfa memeluk kedua tangannya yang kedinginan. Meskipun AC telah di matikan di ruang ini, tetap saja udara dingin masih menyelinap dalam kulitnya.
Alfa melirik sekilas ke jam dinding yang lambat. Masih ada waktu setengah jam lagi agar bisa bebas dari ruangan ini. kertas lembar jawab yang dipegang Alfa sudah full terisi, dirinya ingin sekali keluar dari kelas dan pulang ke rumah untuk menghangatkan diri.
Bel pulang sekolah menyadarkan Alfa dari lamunannya. Ia segera membereskan barang-barangnya dan keluar dari kelas. Sebelum itu Alfa mengambil hodie yang berada di lorong lacinya untuk di kenakan.
"Buruan Al ke parkiran."
Sambil menggandeng tangan Vanes, Irvan mengajak temannya itu ke tempat parkir bersama. Meskipun sekarang Irvan sudah memiliki pacar, tetapi sikap setia kawannya kepada Alfa masih sama seperti dulu.
"Alfa."
Langkah Alfa terhenti saat melewati lapangan sekolah, disitu Naufal memanggil dirinya. Layaknya persahabatan bagai kepompong, Naufal selalu membawa Eki dimanapun dirinya berada.
Alfa melambaikannya tangannya pada mereka. Lalu melanjutkan langkahnya menuju ke parkiran. Di sampingnya, Alfa melihat Abel yang berjalan sendiri ke arah halte bus. Di dalam hati kecilnya, Alfa kasian melihat Abel yang akhir-akhir ini harus pulang sendiri, pasalnya teman-teman gadis itu lebih memilih pulang bersama pacar daripada temannya.
Dari arah belakang Abel, seorang wanita menggunakan hodie hitam dengan kupluk, wajahnya tertutup oleh masker. Wanita itu menyenggol keras kepada Abel. Karena kehilangan keseimbangan, Abel tersenggol kearah samping hingga membuat Alfa tersungkur ke bawah.
"Woyy siapa lu nggak ada akhlak." Irvan berteriak saat melihat temannya itu tersungkur karena ulah wanita misterius itu. Tidak terlihat jelas siapa sebenarnya wanita berhodie hitam itu.
"ALFAA..." Abel berteriak saat melihat darah keluar dari hidung Alfa.
Irvan panik, dirinya segera mengangkat Alfa dari jatuhnya. Lapangan menjadi riuh karena tragedi jatuhnya Alfa. Semua akan menjadi viral di sekolah ini jika ada kaitannya dengan Alfa. Pesona dan paras Alfa membuatnya dikagumi di sekolah. Mereka menatap tak suka pada Abel, seolah-olah Abel lah yang dengan sengaja membuat Alfa terjatuh.
"Sudah bubar-bubar. Kalau nggak mau nolongin setidaknya hargai perasaan Abel, kalian lihat sendiri kan ada yang dorong Abel." Naufal membentak kepada penonton yang melihat kejadian ini.
Pak Brian yang tak sengaja berpapasan, melihat Alfa yang sudah mengeluarkan banyak darah di hidungnya. Segera mungkin Pak Brian membawa Alfa ke UKS. Pak Brian berhasil mencegah perawat yang akan pulang, Pak Brian tau jika waktu kerja perawat di hari ini telah usai, tetapi sekarang ini keadaannya darurat. Muridnya ini perlu mendapatkan penanganan.
"Saya tidak apa-apa Pak, saya mau pulang," pinta Alfa pada Pak Brian.
Seharusnya Alfa bersyukur karena ada orang yang menolongnya, tetapi bukan begitu Alfa tetap saja merasa risih dan tidak enak karena telah direpotkan olehnya. Alfa menengok kearah Irvan memberikan kode kepada temannya, agar dirinya bisa cepat-cepat keluar dari ruangan ini. Temannya itu tidak peduli akan permintaan Alfa.
"Saya tidak apa-apa Pak, ini hanya kebetulan saja mimisan," sekali lagi Alfa memberontak. Pak Brian memperlakukannya seolah-oleh Alfa adalah pasien dalam kondisi kritis. Apa yang terjadi dengan gurunya ini, di dalam kelas saja Alfa selalu dapat omelan dari guru itu.
"Alfa maafin gue. Karena gue Lo jadi gini. Gue minta maaf Al."
Tak kuat menahan air matanya, Abel menangis melihat hidung Alfa yang diberikan sumpalan daun sirih untuk menghentikan mimisan. Abel merasa bersalah karena dirinyalah yang membuat Alfa seperti ini.
Alfa semakin marah dibuatnya, apa yang sebenarnya mereka inginkan? kenapa mereka menahan dirinya di dalam ruangan ini? Sudah dikatakan berkali-kali jika dirinya baik-baik saja. Hal ini hanya sebuah kebetulan yang menimpa Alfa. Sekarang ini Alfa sehat-sehat saja kok. Alfa juga tidak menyalahkan Abel atas kejadian yang menimpanya, Alfa tau persis ada orang yang sengaja mendorong Abel.
"Lo nggak usah merasa bersalah. Jelas-jelas tadi ada yang sengaja nge dorong Lo dari belakang. Siapa sih dia nggak tanggung jawab banget."
Naufal masih merasa kesal dengan kenyataan yang ia lihat di lapangan tadi. Kenapa masih ada saja orang yang tidak sopan dan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Vanes berusaha menenangkan Abel yang sudah menagis itu. Vanes tau jika Abel syok melihat Alfa yang tiba-tiba mimisan karena tersungkur olehnya. Tetapi ini bukan salah Abel, Alfa juga tidak menyalahkan Abel.
"Alfa dalam kondisi mu yang seperti ini apakah kamu bisa pulang sendiri?"
Alfa melotot tak percaya atas apa yang ditanyakan oleh gurunya. Sudah berkali-kali dirinya jelaskan jika dia baik-baik saja tetapi kenapa semua orang sangat khawatir padanya, seakan-akan Alfa sendang berada dalam perawatan kritis.
"Pak Terimakasih atas bantuannya. Saya tidak apa-apa dan ini bukan pertama kalinya saya terjatuh sampai mengeluarkan darah."
Alfa mengambil tasnya, tak lupa ia bersalaman kepada Pak Brian dan perawat yang telah menolongnya. Segera mungkin Alfa berlari dari ruangan menyebalkan. Tanpa diaba-aba, Irvan dan Naufal menyusul dan menjaga Alfa layaknya bodyguard.
Bersama Vanes Abel mengikuti langkah Alfa dan temannya. Abel masih merasakan bersalah jika Alfa belum berbicara dan memaafkannya.
"Alfa," panggil Abel.
Alfa medenguskan napasnya kesal, lagi-lagi dirinya ditahan oleh seseorang. Alfa menolehkan pandang ke sumber suara, dilihatnya mata Abel yang sudah sembab.
"G-gue minta maaf."
Alfa tersenyum kecil, berusaha meyakinkannya gadis itu jika dirinya baik-baik saja. "Gue tau Lo nggak salah."
Alfa berjalan cepat meninggalkan mereka. Sesampainya di parkiran, Alfa menaikan motornya dengan laju keluar dari gedung sekolah.
Irvan tersenyum kecil melihat peningkatan temannya. Sedikit demi sedikit Alfa memperlihatkan kepeduliannya kepada Abel.
***
Suasana di halte sore ini begitu ramai. Rata-rata di penuhi oleh siswa sekolah. Kini Abel duduk sendiri di kursi tunggu. Mata Abel menyipit saat melihat cewek berhodie hitam melintas di depannya. Bukankah itu cewek yang sengaja menyenggol dirinya? Buru-buru Abel mengikuti langkah cewek itu dari belakang. Dengan penuh hati-hati Abel berhasil membututinya.
"Lo gimana sih, gue nyuruh Lo supaya Abel terlihat serba salah di mata Alfa. Bukan malah mencelakakan Alfa? Gara-gara Lo kan Alfa jadi berdarah. Duhh doi gue Alfa."
Wanita di hadapan hodie hitam mengomel marah. Abel membulatkan matanya kaget saat melihat cewek yang mengajak berhodie hitam berbicara. Bukankan itu Monic? Apakah Moniclah yang membuat dirinya terusngkur sehingga membahayakan Alfa?
Abel semakin teringat akan ancaman yang diberikan oleh Monic siang kemarin. Mengapa cewek itu menganggu dirinya? Seharusnya Monic berada di rumah karena sekolah meliburkan kelas 12, untuk belajar mempersiapkan SBMPTN.
Memberanikan diri, Abel keluar dari tempat persembunyiannya, menemui biang kerok yang terus menganggunya.
"Oh jadi ini semua kerjaan Lo. Lo cewek murahan banget sih ngejar cowok sampai bawa ancaman segala. Lo pikir dengan semua ini Alfa mau sama Lo?"
Abel berbicara dengan lantangnya. Dirinya sudah tak kuat tertindas oleh ketidakadilan ini. Abel harus membiasakan suaranya agar tidak dianggap lemah oleh musuhnya.
"Lo bocil nggak usah ikut campur. Ikutin aja kemauan gue, atau Lo tau sendiri akibatnya. Awal tadi baru permulaan, masih banyak ancaman lainnya jika Lo nggak ngejauhi Alfa. Alfa milik gue."
Abel geram dengan kelakuan setan kakak kelasnya. Hak asasinya sekarang ini sedang direbut. Melihat orang-orang yang menyalahkan Abel saat di lapangan tadi, membuat hatinya sakit. Abel sendirian saat ini, ia tidak mungkin melawan kakak kelas yang sangat diagungkan di sekolahnya.
Sebuah bus melintas di hadapan Abel. Buru-buru Abel melangkah masuk ke bus saat penumpang dari dalam bus keluar. Abel menatap dari balik jendela kaca, sosok Monic yang di bencinya. Sekitar dua menit berlalu, pintu bus kota itu tertutup. Perlahan bus mulai meninggalkan halte.
KAMU SEDANG MEMBACA
AlfAbel [END]
TienerfictieDi kursi panjang ini ku dudukan badanku Menatap kerinduan bintang malam Angin malam megingatkanku Akan lembaran kecil puisi kenangan Tentang tawa yang menggetarkan hatiku Tentang senyum yang menenagkan Dimana rembulan tersenyum padaku Membisikan ray...
![AlfAbel [END]](https://img.wattpad.com/cover/99061604-64-k186211.jpg)