Di ruang tamu rumah Abel, Alfa mengajarkan Abel mapel geografi. Abel bercerita jika dirinya sangat bangga saat mendapatkan nilai geografi UKK nya 100, tetapi dirinya bingung dan takut jika sewaktu-waktu Pak Ale menjadikan dirinya sebagai sasaran untuk mengerjakan soal di depan kelas. Abel tahu dirinya mendapatkan nilai sempurna berkat contekan dari si suhu Alfa.
Tak hanya ada Abel dan Alfa saja, mamah Abel dan kakaknya Gilang juga ada di ruang tamu. Mamah Abel sangat senang melihat Alfa yang begitu serius mengajarkan putrinya, mamah Abel juga berharap jika Alfa bisa dijadikan mantunya.
"Aduh duhh... Romantis sekali. Dek Abel kamu tiap hari dong bawa Alfa ke rumah, biar rumah kita ada pemandangannya. Alfa kamu kok bisa mirip oppa Korea? Jangan-jangan kamu saudaraan sama D.O kyung-soo ya?"
Gilang yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Abel yang mendengar perkataan mamahnya itu hanya bisa menutup muka di balik buku-buku geografi. Abel masih membaca fokus ringkasan materi yang diberikan oleh Alfa, mencoba tidak mendengarkan ocehan mamahnya.
"Tidak Tante. Mamah saya asli dari Bandung, kalau blasteran sih ada dari papah kebetulan kakek saya berasal dari Australia."
Mereka melongo mendengar pengakuan yang dilontarkan oleh Alfa. Pantes saja wajah anak ini sangat mewah, ternyata perpaduan gen antara kedua orangtuanya begitu membantu tampang Alfa. Abel baru tau jika temanya ini memiliki darah Australia, Abel hanya tau jika nenek Alfa tinggal di Australia karena mendapatkan beasiswa prestasi waktu kuliah dulu.
"Gilang meskipun tampang kamu nggak ada blasterannya dan biasa-biasa saja, jangan menyerah. Zaman sekarang nih banyak skincare yang dapat membantu merubah nasib wajah kita, kamu bisa manfaatin skincare itu."
Gilang mendengus kesal saat mamahnya membandingkan wajahnya dengan Alfa. Jelas perbedaan yang sangat monohok. Alfa yang memiliki tampang model papan atas dibandingkan dengan dirinya rakyat jelata.
"Mamah bisa nggak sih diam sebentar saja. Aku lagi fokus ngerjain tugas nih, matematika susah banget."
Abel tertawa terbahak saat melihat abangnya mendapatkan perkataan monohok dari mamahnya. Abangnya yang selalu saja menganggu dirinya akhirnya terbalaskan juga.
"Alfa boleh nih ngajarin anak sulung saya supaya bermode cool dan gagah. Udah mau semester akhir masa belum dapat pacar juga, masa iya harus mamah jodohin, kayak jaman baheula aja."
Gilang mengeluarkan dadanya, cukup hari ini saja dirinya bertemu dengan Alfa di hadapan mamahnya. Gilang sudah sangat kena mental.
"Mamah Alfa juga pinter matematika loh. Dari SMP dia sering menang olimpiade matematika."
"Apakah itu benar Alfa? Paket komplit sekali kamu nak."
Alfa tertawa kecil mendengar pujian yang dilontarkan oleh mamah Abel. Alfa sangat tidak nyaman jika dirinya terus saja di puji seperti ini, ingin rasanya Alfa pulang dari rumah Abel.
"Kalau begitu Lo bisa bantuin gue dong menyelesaikan tugas gue."
Gilang mendapat jitakan dari mamahnya. Bagiamana bisa terpikirkan di otak Gilang untuk menyuruh anak SMA mengerjakan tugas kuliahnya.
"Huss nggak sopan, masa tamu kamu suruh-suruh. Ingat jenjang, kamu itu udah kuliah masa nyuruh anak SMA jurusan IPS mengerjakan tugas kamu."
Alfa tertawa kecil saat melihat keluarga Abel yang begitu humoris dan harmonis. Jarang sekali dirinya melihat keharmonisan keluarga seperti ini.
"Materi apa kak?" Alfa mencoba membuka suara, menurutnya tidak ada matematika yang susah jika kita memahami garis besarnya. Semua pelajaran matematika sama saja hanya beberapa rumus yang di bolak-balikan.
Alfa melihat dengan serius materi matematika yang berada di layar laptop. Alfa membaca rumus dan contoh soal yang berada di layar tersebut.
"Pencerminan garis y= -x+2y terhadap garis y=3 menghasilkan garis..."
Alfa menatap heran kearah Gilang yang tengah memainkan ponselnya. Apa ini benar-benar materi kuliah? Bahkan di kelas 11 saja Alfa sudah mendapatkan materi ini di semester 1.
"Kak ini kan pengulangan materi waktu SMA, apa kak Gilang tidak tau?"
Mamah Abel dan Abel tertawa saat Alfa bertanya untuk meyakinkan Gilang. Kali ini Gilang benar-benar overthinking.
"Maksud Lo ini materi SMA?"
"Heem ini materi refleksi garis."
Alfa menuliskan rumus di buku coret-coretan Gilang, membiarkan cowok itu untuk menyelesaikan sendiri tugasnya.
"Di soal ini refleksi garis y adalah 3. Sekarang tinggal tentukan bayangan dari y aksen."
Buru-buru Gilang menyelesaikan tugas yang sedari tadi tidak kelar. Dirinya merasa sangat malu karena kalah pintar dengan anak siswa SMA. Sementara itu Abel terus saja meledek kakaknya yang tidak becus
***
Malam ini mamah Abel mengajak Alfa ke restoran terdekat untuk makan malam bersama. Karena keasyikan berbincang mamah Abel tidak memiliki waktu untuk memasak masakan makan malam. Abel duduk di bangku tengah mobil bersebelahan dengan mamahnya, sementara Alfa duduk di depan menemani Kak Gilang yang tengah menyipit. Abel melihat suasana malam Jakarta yang sangat ramai, bahkan lebih ramai dari siang hari.
"Mamah yang pojok itu rumah Alfa."
Abel menunjukkan telunjuknya ke gerbang masuk perumahan rumah Alfa. Mamah Abel melongo saat tahu jika teman anaknya ini tinggal di salah satu perumahan elite di Jakarta.
"Alfa beneran rumah kamu di sana?"
Alfa mengangguk canggung, dirinya sangat benci jika ada seseorang yang membongkar kediamannya. Dulu di kelasnya hanya Irvan yang mengetahui rumahnya, lalu setelah itu Irvan mengajak Satya dan teman-temannya untuk main kerumah Alfa dengan alasan menemaninya agar tidak kesepian. Setelah kejadian yang menimpa Alfa jatuh dari motor, sekarang banyak sekali temannya mengetahui rumah Alfa.
"Kamu sudah izin ke orang tuamu jika kamu pulang malam?" tanya mamah Abel pada Alfa.
Alfa terdiam ntah apa yang harus ia katakan. Izin? Kepada siapa ia harus izin di rumah mewahnya itu? Tidak ada yang mencemaskannya di rumah, bahkan papahnya tidak tau jika dirinya tidak berada di rumah.
"Mamah udah sampai, ayo siap-siap dulu."
Abel mengalihkan pertanyaan mamahnya. Abel tau apa yang tengah di bayangkan oleh Alfa sekarang ini. Irvan pernah bercerita padannya, jika di dalam kesempurnaan Alfa ada seorang yang broken home. Alfa memandang Abel dari balik kaca dalam mobil, ditatapnya mata Abel yang juga menatapnya. Buru-buru Alfa menundukan pandangannya untuk segera turun dari mobil.
***
"Alfa mau makan apa?" tanya mamah Abel pada Alfa.
Alfa melihat menu makanan yang tersedia di atas meja. Berbagai makanan nusantara dan luar negeri berada di restoran ini. Sejak dahulu Alfa sangat suka dengan masakan Jepang, dimanapun restorannya jika ada masakan Jepang maka Alfa akan memilihnya.
"Sup Miso."
Ingin sama seperti Alfa, Abel juga memesan makanan yang sama seperti Alfa. Urusan makanan, dirinya ingin couple dengan Alfa ini.
Sambil menunggu pesanan tiba, mereka berbincang melanjutkan pembicaraan yang belum di selesaikan saat di rumah tadi.
"Alfa besok mampir lagi ya." Mamah Abel mengajaknya dengan penuh antusias, dirinya sangat ingin jika putrinya bisa terus bersama anak ini.
"Maaf, tidak Tante. Besok saya ada acara dengan papah."
Mamah Abel mengerti dengan apa yang dikatakan Alfa, dirinya juga tidak bisa terus-terusan mampir ke rumahnya. Ada keluarga yang harus di dahulukan oleh Alfa.
"Ngomong-ngomong tumben Lo ngajak gue belajar bersama. Kesambet apa lo?" tanya Abel penasaran, karena tidak mungkin tanpa sebab anak ini mengajak dirinya untuk belajar bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
AlfAbel [END]
Ficção AdolescenteDi kursi panjang ini ku dudukan badanku Menatap kerinduan bintang malam Angin malam megingatkanku Akan lembaran kecil puisi kenangan Tentang tawa yang menggetarkan hatiku Tentang senyum yang menenagkan Dimana rembulan tersenyum padaku Membisikan ray...
![AlfAbel [END]](https://img.wattpad.com/cover/99061604-64-k186211.jpg)