Truth or Dare ya....
Abel berpikir sejenak. Tangannya ia tegakkan untuk menyangga dagu lancipnya. "Dare aja deh, tapi jangan yang susah," lanjutnya.
"Yah kenapa gak truth aja sih, kan gue mau tanya sesuatu ke elo," ujar Irvan cemberut.
"Serah dia lah, kok lo yang sewot," Vaness menyenggol bahu Irvan dengan sangat keras, hingga pemuda itu kehilangan keseimbangannya.
"Gue yang ngasi dare ya," Ujar Kaila memohon.
Satya melirik sekilas kearah Abel, lalu di liriknya Kaila. Satya berdiri dari bangkunya sambil berdecak pinggang. "Jangan lo doang, kita semua kan mau ngasi dare ke Abel,"
"Iya bener," jawab Irvan dan Vanes serentak.
Abel membelalakkan matanya lebar, menatap satu persatu temannya. Di pejamkannya mata itu. Dengan malas, Abel menidurkan kepalanya di atas meja. Satya, Irvan, Kaila, Vanes sedang berdiskusi serius untuk memberikan dare pada Abel. Dan hasilnya....
"Bel kita berempat dah sepakat ngasi dare ke lo," Kaila tak henti-hentinya menahan tawa, membuat Abel semakin tegang.
"Dare nya apa?" Abel bangkit dari tidurnya. Di rapikannya dasi biru itu, telinganya yang kecil ia tajamkan pendengarnya.
"Selama seminggu dalam seharinya lo harus membuat percakapan dengan Alfa. Walaupun itu cuman beberapa kata, tapi lo harus lakuin."
"Kalau bisa sih cairin juga es batu di hati Alfa," lanjut Kaila masih dengan tawanya.
"Whatt? Kalian tega apa ngirimin gue ke patung itu. Kalian semua kan dah tau kalau gue nggak pernah berhasil. Kenapa masih mau melihat gue menjatuhkan harga diri di depan patung itu?"
"Harus mau. Ini juga demi kebaikan elo. Kalau sehari saja lo bisa ngomong sama Alfa, maka seterusnya lo pasti bisa. Lo nggak akan di cuekin lagi seperti dulu. Lo pasti bisa!" Kaila berusia memberikan semangat kepada Abel.
"Tapi-"
"Udah deh Bel pokonya lo harus terima tantangan ini, lo sendiri kan yang milih dare," Sambung Irvan.
"Gak ad-" Omongan Abel langsung di potong kaila.
"No! Lo harus terima! Kita udah sepakat ngasi dare itu!" sambung kaila.
"Aaaghhh, ya deh gue terima!"
"Gitu dong dari tadi, di mulai besok ya!" Mereka berempat hanya bisa tertawa puas.
***
Rapat guru telah usai, setiap wali kelas masuk ke ruang kelas masing-masing untuk memberikan pengarahan kepada siswa serta melihat keadaan kelas.
Kelas ini di isi oleh Pak Brian. Pak Brian adalah wali kelas, juga guru Bahasa Inggris ia terkenal akan kedisiplinan dan ketegasannya. Jadi tidak salah, jika Pak Brian ditakuti oleh murid-murid di sekolah ini.
"Good morning!" sapa Pak Brian.
"Good morning too!" jawab murid-murid serempak.
"In accordance with the order, that tomorrow friday will be held on friday clean every student is expected to wear shirts sport," ujar Pak Brian menjelaskan kepda murid-murid untuk membawa baju olahraga besok Jumat.
Banyak murid yang tidak paham yang baru saja di sampaikan Pak Brian. Seisi kelaspun mejadi gaduh tak terkendali.
"Please don't noisy!" Seluruh murid di kelas terdiam membisu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AlfAbel [END]
Fiksi RemajaDi kursi panjang ini ku dudukan badanku Menatap kerinduan bintang malam Angin malam megingatkanku Akan lembaran kecil puisi kenangan Tentang tawa yang menggetarkan hatiku Tentang senyum yang menenagkan Dimana rembulan tersenyum padaku Membisikan ray...
![AlfAbel [END]](https://img.wattpad.com/cover/99061604-64-k186211.jpg)