Tersesat

23 0 0
                                        

"Alfa!"

Abel berteriak memanggil orang yang berada dalam jurang itu.

"Tolongin gue," lirih Alfa di dalam sana.

Abel bingung, otaknya tak dapat berpikir dengan jernih. Bagaimana cara dia menolong Alfa ini? Mereka berdua tersesat, tidak mungkin bagi Abel untuk meninggalkan Alfa dan mencari orang di sekitar sini.

"Alfa gimana caranya gue nolongin Lo. Kita tersesat. Sumpah gue panik banget, gue takut."

Abel menangis karena dirinya tidak berdaya. Apa yang harus ia lakukan sekarang ini? Abel tidak memiliki cara.
Alfa melemparkan tali putih Pramukanya ke arah Abel. Mengerti akan maksud Alfa, Abel menerima tali yang diberikan oleh Alfa.

"Ikat tali ini ke salah satu pohon Pinus terdekat. Ingat yang kuat."

Mendengar perintah dari Alfa, segera mungkin dirinya mengikatkan tali temali kepada pohon. Saat dirasa cukup kuat, Abel melemparkan tali itu kepada Alfa.
"Alfa pegang talinya. Gue akan berusaha sekuat tenaga menarik dari sini."

Abel mengeluarkan semua kekuatan yang tersisanya, menarik dengan kuat tali yang tengah dipegang Alfa. Saat akan mencapai ke atas, satu tangan Alfa memegang ke arah tanah. Abel segera meraih tangan Alfa menariknya menuju atas.

"Ahhh."

Abel menarik tangan Alfa sepenuh tenaga. Hingga akhirnya Alfa dapat naik kepermukaan. Alfa tersungkur ke tanah saat satu tangan Abel melepaskan genggamannya. Alfa menumbruk kaki Abel yang berada di hadapannya.

"Awww." Rintih Abel kesakitan, karena kedua kakinya tertindih oleh badan Alfa.

"Maaf," ujar Alfa pada Abel. Alfa segera menggeserkan badannya menjauh dari kaki Abel, "Makasih karena sudah nolongin gue."

Abel menganggukkan kepalanya. Matanya masih berkaca-kaca. Abel takut karena tersesat di dalam hutan ini.

"Gue takut."

Tanpa sengaja Abel memeluk badan Alfa erat-erat. Dengan kikuk Alfa mengusap rambut Abel untuk menenangkan cewek ini.

"Lo nggak usah takut. Kita cari jalan keluar bersama."

Ntah sudah berapa jam mereka berada di dalam hutan ini. Hari semakin gelap, tetapi mereka belum juga menemukan jalan. Abel memegang perutnya yang sudah berbunyi daritadi. Tidak hanya Abel saja, Alfapun merasakan hal yang sama. Mereka tersesat di hutan dan tidak membawa persediaan makanan. Sebagai laki-laki Alfa merasa bersalah kepada Abel karena membuat cewek itu kelaparan. Tetapi mau bagaimana lagi, di hutan begini tidak ada yang jualan makanan.

"Abel lihat itu!"

Alfa tersenyum bahagia saat melihat setapak jalan tak jauh dari tempat mereka berdiri. Ini tapak jalan yang sama yang Alfa gunakan saat memasuki hutan ini. Dengan segera Alfa menarik tangan Abel agar segera keluar dari hutan Pinus.

***

"Kemana mereka berdua? Kenapa belum saja di temukan?" tanya Bapak TNI cemas.
Sudah pukul 19.00 tetapi Alfa dan Abel belum juga di temukan oleh rekan-rekan TNI. Hari sudah petang dan udara sangat dingin.

Acara makan malam dipenuhi rasa khawatir. Mereka semua mencemaskan kedua temannya yang belum saja tiba. Kemana perginya mereka di malam dingin seperti ini? Kemana mereka akan berlindung? Karena kejadian ini mereka tidak berani untuk keluar dari barak jika tidak ada sesuatu yang mendesak.

Sepanjang jalan memandang, hutan Pinus berada dimana-mana. Bentuknya yang mirip satu sama lain, membuat tim kesulitan untuk mencari mereka di malam-malam begini. Tim sudah memberitahu kabar hilangnya Alfa dan Abel kepada pemilik basecamp perkemahan di hutan Pinus. Berharap bisa membantu untuk menemukan Alfa dan Abel.

Kaila tidak menyuap satu makanan pun kedalam mulutnya. Dirinya begitu takut akan kondisi temannya yang belum saja ditemukan. Kaila menyalahkannya dirinya sendiri karena mendahului Abel dan membiarkan temannya itu berada di posisi belakang. Jika saja Kaila perhatian sama Abel, mungkin Abel tidak akan tersesat seperti ini.

"Itu mereka!" Pak TNI menunjukan telunjuknya kearah mobil patroli. Dari dalam mobil keluar dua anak SMA yang mengginggil kedinginan. Wajahnya begitu pucat ketakutan.

"Bawakan jaket untuk mereka." Segera mungkin Kaila berlari menuju barak mengambil jaket milik Abel. Begitupun Irvan yang berlari menuju barak laki-laki.
"Dimana mereka di temukan?" tanya komandan TNI pada rekannya.

"Siap. Saya menemukan mereka di pinggir hutan mencapai desa seberang. Mereka tersesat sangat jauh."

"Bagiamana mereka bisa tersesat sejauh itu? Apa tidak ada rambu di sekitar hutan?"

"Setelah saya dan rekan-rekan menyelidiki, beberapa rambu yang berada di hutan mengarah ke jalan yang salah. Mungkin saja ada orang iseng yang merubah posisinya. Hal ini yang menyebabkan mereka tersesat begitu jauh."

Haru melihat Alfa yang sudah kembali, Irvan memeluk badan cowok itu lekat-lekat. Disini dirinya merasa bersalah, karena menyuruh anggotanya untuk berpencar. Irvan sadar jika dalam sebuah kelompok, berpencar bukanlah solusi yang baik.

"Lepasin, gerah gue."

Alfa berbicara dengan penuh tekanan. Dirinya merasa risih karena di perlakukan seperti ini oleh temannya. Alfa senang karena temannya ini begitu peduli kepadanya, tetapi bukan seperti ini mengekspresikannya.

Sambil memasangkan jaket yang di lengan Abel, Kaila melongo tak percaya saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Bapak TNI. Dirinya merasa bingung mengapa hanya Abel saja yang tersesat di dalam hutan. Regu mereka juga menggunakan anak panah sebagai patokan pulangnya, mereka mengikuti arah panah hingga keluar dari dalam hutan tanpa adanya kendala sedikitpun. Kenapa hanya Abel yang tersesat?

"Maaf pak menyela. Regu saya dan regu-regu yang lain juga sempat masuk ke dalam hutan. Kami mengikuti arahan petunjuk yang berada di dalam hutan, kami semua sudah berada di dalam asrama ini tanpa ada kendala apapun. Jika anak panah yang berada di hutan itu salah, bagaimana bisa kita semua keluar dari sana?"

Firasat Kaila akan seseorang yang ingin mencelakai temannya muncul dipikirannya. Kenapa hanya Abel yang tersesat? Mereka semua juga berada di dalam hutan, tetapi tidak ada masalah apapun.

"Apakah itu benar? Jika salah satu teman kalian tertinggal dan kalian masih berada di sekitarnya, kemungkinan teman kalian untuk tersesat itu kecil. Tetapi teman kalian tersesat karena mengikuti arahan dari dalam hutan. Apakah diantara kalian semua ada yang iseng memutar tanda panah ke arah yang salah?"

Komandan TNI berbicara dengan tegas. Nada bicaranya begitu tinggi dan gertak. Raut wajahnya memerah, seperti ingin meluapkan amarahnya.

Semua murid yang sedang melakukan makan malam menghentikan aktivitasnya. Sambil memandang kearah komandan, mulutnya diam membisu. Mereka terlihat bingung dan khawatir. Siapa sebenarnya yang telah tega menyesatkan temannya ini?

Tatapan Kaila mengarah kepada Vanes yang sedang menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Hanya anak ini yang tidak peduli akan situasi yang ada. Kaila kembali teringat akan perkataan Vanes yang berlari dari arah belakang menuju ke posisi depan.

'Buruan cepet-cepet biar nggak kena sanksi.'

Itu kata terkahir yang diucapkan Vanes saat mereka kehilangan jejak Abel. Apa Vanes benar-benar pelakunya?

"Tidak ada yang mengaku?" Gertakannya semakin keras, membuat semua murid yang berada di hadapannya merasa ketakutan.

"Pak sudah, ini salah saya karena tertinggal dari regu. Untuk Masalah patokan, mungkin ini kelakuan orang lain yang berada di basecamp. Saya yakin teman-teman saya tidak mungkin melakukan hal yang membahayakan teman sendiri."

Abel berbicara sopan kepada komandan TNI. Abel sadar kesalahan dirinya yang begitu lelet sehingga tertinggal dari regunya, membuat semua orang yang berada di sini khawatir.

"Baiklah jika begitu. Kalian berdua silakan bergabung untuk makan malam."

AlfAbel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang