Pacar online

468 204 14
                                        

Alfa duduk diatas jaring-jaring ayunan yang dulu dibuatnya dengan mamahnya. Jaring-jaring ayunan itu masih kokoh hingga sekarang, hanya saja warnanya yang menjadi buram. Alfa menatap danau yang indah, bibirnya tersenyum kecil, mengingat peristiwa-peristiwa masa kecil yang dihabiskannya di villa ini bersama keluarga kecilnya, terutama ibunya.

Dulu waktu kecil Alfa sering bermain di pinggir danau bersama mamahnya. Walaupun teman sebayanya banyak, Alfa lebih sering menghabiskan waktunya bersama mamahnya. Benar, dulu Alfa sangat manja, sangat jauh dengan Alfa sekarang ini.

Pada suatu hari, mamah Alfa merasa haus ketika bermain bersama Alfa di siang hari. Mama Alfa masuk ke dalam villa untuk mengambil minum. Sebelum mamah Alfa pergi ke villa,mamahnya berpesan supaya Alfa tidak bermain jauh hingga masuk ke danau. Alfa pun menuruti perkataan mamahnya.

Dulu, Alfa adalah anak aktif yang tidak bisa berdiam kecuali saat tidur dan sakit. Alfa juga anak yang memiliki rasa penasaran tinggi dengan hal-hal yang belum diketahuinya. Saat Alfa sudah memasuki villa, Alfa menatap danau yang tenag luas itu. Dalam pikiran Alfa saat itu, Alfa ingin sekali berlari diatas danau dan mengikuti arah danau hingga mentok, berusaha mendapatkan pelangi yang pernah diceritakan mamahnya di buku-buku dongeng.

Alfa yang begitu penasaran, berjalan perlahan-lahan mendekati air danau. Kaki kirinya sudah berada di dalam dnau, sementara kaki kanannya masih menginjak rumput. Kedua tangannya memegang pohon besar yang berada di dekat danau.

Mamah Alfa yang baru saja keluar dari pintu villa, panic melihat Alfa yang akan turun menuju air danau. Mam Alfa berteriak, memanggil suaminya yang berada di dalam ruangan. Dengan cepat, papah Alfa berlari menuju dasar danau. Untung saja kedua tangan Alfa masih menemp ael pada pohon besar. Dengan cepat, Papah Alfa menarik dan menggondong tubuh anaknya. Alfa menangis,karena kepanikannya dan ketakutannya saat tadi.

Naufal datang menghampiri Alfa yang tengah melamun diatas ayunan. Naufal menyodorkan beberapa obat dan air putih yang tadi di suruh Alfa untuk mengambilnya.

"Emangnya lo sakit apa? Kok obatnya segelan rumah sakit segala?" tanya penasaran Naufal yang sedari tadi dipikirnya.

"Gue alergi dingin. Kalau nggak pakai jaket atau nggak minum obat, gue bisa sampai mimisan," ujar Alfa setelah itu meminum obatnya.

"Dasar anak orang kaya, sakitnya aneh-aneh."

Alfa menatap Naufal yang sedang menatap danau di depannya. Alfa segera mengalihkan pandangannya, melihat danau dihadapannya.

Kaila dan Abel datang menghampiri kedua pemuda yang sedang berbincang asyik di pinggir danau. Kaila dan Abel tidak datang berdua, ada gadis cantik berambut sepunggung yang sedari tadi menemani mereka menjelajah desa Cibodas.

"Alfa. Apa kabar, lama sekali tidak bertemu," sapa gadis itu berlari mendekati Naufal yang dianggapnya sebagai Alfa.

Gadis itu memberikan tangannya, supaya pria didepannya mau berjabat tangan. Naufal menerima jabatan tangannya, matanya terus menatap wajah gadis cantik itu. Abel dan Kaila tak henti-hentinya menahan tawa, sementara Alfa melongo menyaksikan adegan tersebut.

"Hai Citra, udah lama kita juga nggak jumpa. Gue Alfa dan dia teman gue Naufal," ujar Alfa menatap kearah Citra. Citra yang tahu akan kesalahannya, segera melepaskan genggaman tangannya dari Naufal dan tertunduk meminta maaf.

"Punten atuh A Naufal. Aku kira kamu Alfa, maaf atuh. Maklum udah lama nggak ketemu Alfa, saya kira kamu Alfa," ujar Citra yang menatap tinggi Naufal sepundak Alfa.

"Nggak apa-apa, namanya juga manusia. Naufal." Naufal memberikan tangannya kepada Citra.

"Citra." Citra menerima jabatan tangan Naufal.

AlfAbel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang