Tidak Percaya Dengan Satya

17 0 0
                                        

Kaila marah besar lagi-lagi pesan email yang membuatnya badmood. Kaila mendapatkan kiriman foto, bukan foto masa lalu Satya dan Karen melainkan foto masa kini mereka berdua. Dalam foto itu terlihat Karen dan Satya sedang berboncengan berdua di atas motor, mereka terlihat sangat bahagia.

Ingin mendapat jawaban yang benar, Kaila menyeret Satya keluar dari kelas. Kaila tidak ingin keributannya itu di ketahui oleh teman sekelas. Berusaha tenang dan sabar, Kaila menunjukan alamat email dan foto mereka berdua.

"La kemarin gue emang nganterin pulang Karen, tapi biasa-biasa aja. Irvan yang nyuruh gue untuk mengantarkan Karen pulang, karena Irvan mau jemput bokapnya di bandara."

Kaila menggelengkan kepalanya, bagaimana dirinya bisa percaya dengan perkataan Satya. Kaila sering kali dibohongi oleh anak ini, mungkin juga sekarang ini dia sedang membohonginya.

"Satya terlihat jelas di foto ini Lo mesra banget sama Karen. Sat gue seperti ini karena gue cemburu, gue cemburu sama Kak Karen. Gue sadar diri kalo kak Karen itu lebih perfect dari gue."

"La coba Lo pikir deh, gue dan Karen berada di motor itu. Kita beruda nggak megang hp sama sekali, dan sekolah saat itu sudah sepi karena gerbang akan dikunci. Mana mungkin Karen mengirim foto seperti itu dengan akun miliknya. Itu pasti bukan akun asli Karen, pasti ada yang ngejebak kita dengan membawa nama Karen."

Kaila semakin memanas saat mendengarkan jawaban yang dilontarkan oleh Satya. Entah apa yang terjadi dengan dirinya sekarang ini, sehingga otaknya tak bisa berpikir jernih.

"Bagaimana gue bisa percaya kalo ini semua bukan ulah Lo atau Karen. Bagaimana?" Kaila bertanya dengan nada rendah, sudah cukup amarahnya meluap-luap. Sekarang ini dirinya sangat lelah.

"Gue akan buktiin kepada Lo kalau semua yang Lo curugain ini salah. Beri gue waktu tiga hari untuk mengumpulkan bukti dan membela diri gue sendiri." Satya memohon pada Kaila dengan hati-hati. Akhir-akhir ini mood cewek ini sering naik turun.

"Lalu bagaimana jika kecurigaan gue benar dan Lo yang salah?"

"Gue akan nerima keputusan yang Lo ambil. Tapi sebelumnya gue berani bersumpah jika gue benar-benar tidak bersalah."

Kaila berjalan meninggalkan Satya yang masih berdiri di luar kelas. Kaila benar-benar jengkel, hatinya belum bisa tenang sebelum mendapatkan kebenaran yang ada. Apa yang harus ia lakukan jika cowok itu terbukti salah? Dirinya belum siap untuk berpisah dari cowok itu.

"Lo Napa La? Pagi-pagi dah cemberut aja," tanya Abel yang melihat wajah badmood Kaila.

Kaila memandang ke arah Abel. Temannya ini belum tau mengenai kiriman email misterius ini, waktu itu Kaila sangat panik hingga dirinya belum siap untuk menceritakannya kepada Abel.

"Bel udah dua kali ini gue dapat teror lewat email. Gue dapat kiriman foto-foto Karen dan Satya, lebih parahnya lagi nama alamat email itu Karen."

Kaila memberi ponselnya kepada Abel, dirinya membuka laman email yang membuktikan akan adanya kiriman itu.

"Napa Lo nggak cerita dari kemarin. Gue kan gabut, jadi ada kerjaan untuk mata-matai Satya."

"Gue panik waktu itu dan Satya bilang kalau itu foto lawas doang, jadi ya gue pikir cuman iseng. Tetapi sekarang kirimannya makin parah." Kaila menaruh telapak tangannya di dagu, bibirnya masih menampakan cemberut.

"Alamat email Kak Karen dan Kak Karen juga yang ngirim foto ini. Kayak ada yang aneh deh la."

Sama seperti yang dipikirkan oleh Satya, Abel juga merasa aneh atas kiriman email yang diterima oleh Kaila itu. Mengapa Kak Karen terang-terangan mengirimkan fotonya? Ini bukan tipe Kak Karen. Kak Karen adalah tipe orang yang harus bicara terus terang di depan lawannya, bukan tipe orang yang mengirimkan pesan apalagi email.

"Gue ngerasa bingung Bel. Gue harus gimana? Apa gue harus percaya dengan Satya?" Abel memegang pundak Kaila memberikannya dukungan.

"Gue tau dalam hati kecil Lo masih mempercayai Satya dan gue berharap nggak akan ngejauh dari Satya. Lihat dulu saja penjelasan dan bukti yang Satya berikan, baru setelah itu Lo bisa memutuskan kehendak."

Kaila tersenyum mendengar saran yang diberikan oleh Abel. Temannya ini benar-benar sepemikiran dengannya.

***

Langit biru perlahan berganti menjadi jingga. Satya melangkah menuju parkiran. Pakaian putih abu-abu nya sudah kusut karena kegiatan sekolah. Siang tadi anggota OSIS mengadakan pengukuran lapangan untuk kebutuhan sekolah.

Satya menyipitkan matanya saat Kaila berada di parkiran, bukan bersama dirinya melainkan bersama Arya teman sebangkunya. Satya semakin cemas akan situasi yang terjadi sekarang. Siapa orang yang mengirim email itu kepada Kaila?

"Kenapa nggak pulang bareng gue?" Satya memberanikan diri untuk mendekati motor Arya, tanpa memandang kearah Satya Kaila menggelengkan kepalanya pelan.

"La masalah kita bisa selesaikan bersama. Tapi tolong Lo nggak boleh menghindar dari gue."

Kaila mengalihkan pandangannya, sekarang tatapannya menatap mata Satya tajam, "Sat sebelum ada bukti gue nggak bisa sepenuhnya percaya sama Lo. Bisa jadi ini akal-akalan Lo supaya bisa dekat lagi dengan Kak Karen kan?"

Arya berada di tengah mereka menjadi canggung. Ingin rasanya Arya kabur dari tengah-tengah mereka, "La Lo bisa bareng Satya aja, nanti gue nyusul ke rumah Lo."

"Enggak Yak, gue bareng Lo aja. Ayo sekarang berangkat." Kaila naik di atas motor Arya yang sudah di keluarkan dari barisan parkiran. Menyuruh Arya agar segera pergi dari sini.

"Bentar-bentar kalian mau kemana? La Lo nggak bisa giniin gue."

Kaila kembali memandang Satya tatapannya begitu kesal. "Tugas Kelompok Pak Ale. Lo dapet dengan Irvan."

Arya memandang Satya yang berdiri di hadapan motornya, wajahnya begitu lesu. Tanpa ingin menganggu hubungan mereka Arya mencoba untuk mencari solusi.

"Gimana kalo Lo dengan Irvan juga ngerjain tugas bareng gue, di rumah Kaila."

Kaila yang mendengar ajakan dari Arya untuk Satya tidak menerimanya. Dirinya sedang kesal dengan anak ini, tidak mungkin jika Kaila mengajak Satya untuk mengerjakan tugas bersama.

"Enggak boleh nanti karya kita di plagiat."

Satya melotot kearah Kaila, pacarnya ini benar-benar keras kepala. Sebegitu marahnya Kaila pada Satya.

"Nggak mungkin La, masa iya Irvan yang pinter mau plagiatin tugas kita yang ngarang gini."

"Nggak bisa Ar. Pokoknya gue nggak mau."

Satya menggelengkan kepalanya. Sudah pasrah dirinya mendengar ucapan ketidaksukaan Kaila terhadapnya. Satya tahu perasaan Kaila saat ini, terluka. Jika saja Kaila tahu Satya juga terluka atas kelakuan cewek ini padanya.

"Arya gue nggak usah ikut. Jagain Kaila baik-baik ya. Awas Lo jangan macam-macam."

Arya melajukan motornya meninggalkan Satya yang tengah berdiri di lapangan parkiran. Mood Satya semakin hancur, sekarang juga dirinya akan mencari pelaku sesungguhnya.

Satya membungkuk dihadapan motor, memegang bannya yang tidak berangin. Seberkas cahaya tampak mencolok di bannya, paku payung.

"Siall..." umpat Satya dihadapan motornya. Ini adalah hari yang paling menjengkelkan bagi Satya. Semua hal buruk terjadi bertubi-tubi pada hari ini.

AlfAbel [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang