"Kenapa lihatin gue?" Tanya Ayyara pada Rangga.
"Obat lo emang sebanyak itu?" Tanya Rangga menunjuk berbagai obat ditangan Ayyara.
Ayyara mengangguk kecil, sejak dia bangun di tubuh ini. Bibi Lisa memberikannya obat sebanyak ini. Entah obat apa yang jelas rasa sakit dikepalanya menghilang jika meminum obat-obatan ini. Rangga menatap Ayyara prihatin. Sekarang dia merasa kasian pada Ayyara.
"Gue disini aja boleh nggak?" Tanya Ayyara.
"Lo masih pusing?"
"Sedikit! Boleh ya? Nanti kalau ada tugas atau PR bilang ke gue. Lo punya nomer gue nggak? Ini!" Ayyara menyodorkan handphonenya.
Rangga mengambil handphone Ayyara dan mengetik nomernya sendiri. Sesekali Rangga melirik Ayyara yang menutup matanya. Wajah yang begitu pucat dan noda darah pada bajunya. Rangga merasa sangat bersalah pada gadis itu. Harusnya dia tidak menghukumnya! Rangga memberikan lagi handphone Ayyara.
"Ay?"
"Hmm?"
"Itu nomer gue!"
"Okey! Nanti gue hubungin lo! Lo kalau mau pergi juga nggak apa-apa. Gue mau tidur aja disini!" Ayyara menutup matanya menarik selimut menyelimuti tubuhnya.
"Nanti gue kesini lagi!" Rangga melihat Ayyara dan pergi dengan rasa begitu bersalah.
Kedepannya dia tidak akan menghukumnya lagi!
💝💝💝
"Ayyara! Ayyara!"
Ayyara membuka matanya cepat saat seseorang menarik tubuhnya untuk bangun. Matanya begitu berat apalagi tubuhnya tidak bisa bangkit. Dia sangat lelah!
"Apa sih?" Tanya Ayyara dengan suara pelan.
"Lo apain Jihan?"
Jihan? Ayyara membuka matanya dan melihat wajah Zidan. Bahkan dia tidak tahu apa yang terjadi pada Jihan. Kenapa bertanya pada dirinya? Dia lelah, pusing, lesu, tidak bertenaga untuk berdebat.
"Gue nggak apa-apain dia!" Jawab Ayyara jujur.
"Bohong! Lihat! Jihan! Lihat, dia! Lo apain dia?" Bentak Zidan keras.
Ayyara melihat Jihan yang tubuhnya penuh bekas tumpahan oli. Oli karena warnanya sangat hitam. Disampingnya ada Dirga dan teman-temannya yang menatapnya marah. Sekarang apakah dia tertuduh melakukan ini pada Jihan?
"Gue nggak tahu!" Ayyara menggelengkan kepalanya.
"Sini! Minta maaf sama Jihan!" Zidan menarik tubuh Ayyara tapi Ayyara tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.
Brukkk...
Ayyara terjatuh dengan satu tangannya masih digenggam oleh Zidan. Semua orang terkejut termasuk seseorang berdiri di ambang pintu.
"Kalian apa-apa sih? Hah?" Teriak Rangga masuk ke dalam. Dia menatap Ayyara yang terjatuh dan melihat Zidan marah.
"Ay? Nggak usah kayak gini, gue nggak bakal kasian sama lo!" Teriak Zidan.
"*Njing! Dia lagi sakit! Kalian pergi! Pergi dari sini!" Teriak Rangga mendorong tubuh Zidan dari Ayyara.
Ayyara mengerjakan matanya dan melihat Rangga yang membawanya kembali ke atas tempat tidur. Rangga mengusap lembut rambut Ayyara dan menyelimutinya kembali dengan hati-hati.
"Apa mau kalian?" Tanya Rangga begitu dingin pada mereka semua.
"Dia itu cuma pura-pura! Lo nggak usah ikut campur!" Tunjuk Dirga pada Rangga.
"Lo itu kakaknya kan? Apa lo nggak tahu adik lo sakit? Hah? Lihat dia? Dia baru aja mimisan dan hampir pingsan! Lo nggak tahu?" Tanya Rangga marah.
"Mimisan?" Dirga melihat baju Ayyara yang masih terkena noda darah disana.
"Gue nggak tahu apa masalah kalian. Tapi sejak tadi dia disini! Gue berani jamin dia nggak macam-macam lagi! Gue disini sejak tadi!" Teriak Rangga.
"Tapi bisa aja kan dia bohong! Lihat, Jihan! Dia pasti pelakunya! Cuma dia yang nggak suka sama Jihan!" Tunjuk Zidan pada Ayyara yang tertidur.
Rangga tertawa miris, bahkan disaat Ayyara tidak bisa melakukan apa-apa. Dia masih saja dituduh melakukan ini itu. Rangga kian merasa bersalah pada Ayyara. Harusnya dia paham posisi gadis itu selama ini. Dia hanya di butakan oleh peringkat tanpa mau tahu penderitaan Ayyara selama ini. Untuk apa membencinya? Dia hanya tidak suka kepintaran Ayyara mengalahkannya tapi nyatanya gadis itu tidak lebih baik darinya.
"Jihan, lo lihat Ayyara siram lo?" Tanya Rangga begitu dingin.
"Ng-gak!" Jihan menggelengkan kepalanya.
"Terus, kok lo bisa tuduh Ayyara? Mana buktinya?"
Jihan menunduk dalam dan memainkan tangannya. Dia tidak melihat Ayyara sama sekali. Hanya tiba-tiba saja tubuhnya basah kuyup dengan oli hitam. Rangga mengepalkan tangannya, jika bukan perempuan dia akan memukul wajah Jihan.
"Dengar itu! Lebih baik kalian keluar dari tempat ini sebelum gue bikin kalian mendapatkan poin hukuman! Ayyara butuh istirahat dan satu hal lagi. Kalian nggak usah pikirin soal Ayyara, gue yang akan jamin dia nggak akan ganggu Jihan lagi! Jadi jangan pernah nuduh Ayyara lagi!"
💝💝💝
"Tugasnya banyak!" Keluh Ayyara melihat deretan tugas yang dikirim oleh Rangga.
"Kan lo pinter!"
Ayyara memalingkankan wajahnya, dia bukan seseorang yang pintar seperti Ayyara asli! Dia bukan anak IPA! Dia anak IPS! Ayyara melihat wajah Rangga penuh harap. Hanya Rangga yang bisa diharapkan!
"Lo mau kan bantu gue! Gue masih pusing nggak bisa mikir! Mau ya? Nanti gue kasih permen!"
"Gue bukan anak kecil!"
"Hmm... Uang? Makanan? Mau apa? Gue yang bakal bayar! Tenang aja, uang papa gue banyak! Tolong dong! Kita udah temenan kan?" Tanya Ayyara yakin jika Rangga telah menjadi teman baiknya seperti Kenzie.
"Gue nggak butuh!"
"Lo pasti anak orang kaya juga! Ya udah, gue juga nggak punya apa-apa. Tapi lo mau bantu gue kan? Lo kan baik hati!"
"Hah... Hari ini aja! Ayo naik!" Rangga menyodorkan helm untuk Ayyara.
"Ya ampun, Rangga! Kok lo baik banget sih." Ayyara tersenyum dan memakai helmnya.
Ayyara naik dan memegangi pundak Rangga. Dia siap untuk pulang dan menyelesaikan semua tugasnya! Rangga melajukan motornya pergi dari area sekolah. Untuk hari ini saja dia akan menjadi teman baik untuk Ayyara. Hari ini saja!
Kenzie menatap tidak percaya Ayyara pergi dengan seseorang. Bukankah mereka akan menunggu jemputan bersama-sama? Tapi kenapa Ayyara pergi begitu saja?
"Den nggak jadi turun?" Tanya sopir Kenzie.
"Nggak jadi! Pulang aja!" Kenzie menahan kesal dan memilih untuk menemui Ayyara besok.
Besok dia harus bertemu di sekolah! Apapun yang akan terjadi, dia harus menemuinya!
💝💝💝
Salam ThunderCalp!🤗
Jangan lupa like, komen, dan share!
See you...
KAMU SEDANG MEMBACA
Masuk Ke Dalam Novel ( END )
Подростковая литератураBagaimana jika harapanmu menjadi kenyataan? Itulah yang dirasakan Sekar, dia harus menelan pil pahit saat terbangun dari tidurnya. Bukan lagi kamar sempitnya tapi sebuah tempat yang begitu luas serta orang-orang asing baginya. Tapi dimana dia sekara...
