46. Orang Kaya

8.3K 633 15
                                        

"Enak kan? Lo nggak pernah makan bakso?" Tanya Sekar pada Jihan yang makan bakso dengan lahap.

"Nggak! Gue kira ini sejenis makanan nggak enak. Soalnya bentuknya nggak menarik!"

"Nggak menarik?" Sekar memakan baksonya lagi.

Masalahnya ini paling murah dari makanan lainnya. Sekar makan dengan penuh kenikmatan. Dia tidak habis pikir dengan keluarga anak-anak di SHS. Ternyata mereka bukan dari keluarga sembarangan. Sekar tidak berkecil hati hanya saja dia tidak mau berurusan dengan mereka. Keluarga Ruslam saja membuatnya pusing tujuh keliling apalagi keluarga lainnya. Beruntung dia memiliki beberapa orang yang ada untuknya. Kenzie juga Adam sepupunya.

"Lo kenapa sih nggak lawan Mbak Giselle? Takut? Tapi kan keluarga lo kaya!" Sekar merasa aneh. Harusnya seperti dirinya yang di bully. Dia bukan anak keluarga kaya. Masuk ke tempat ini juga karena beasiswa yang asalnya tidak jelas.

"Gue nggak berani! Mereka selalu sama-sama kalau bully gue! Satu lawan banyak, emang gue menang? Papa juga nggak mau tahu urusan sekolah gue kayak gimana. Kalau gue nggak survive di tempat ini sama aja gue nggak jaga nama baik papa. Mau gimana lagi?" Jihan tersenyum kecil.

"Lha terus lo terima-terima aja? Oke deh lo di suruh survive kayak survival show. Tapi kan nggak diam juga Jihan! Lo mau terus kayak gini? Diam aja di bully? Gue sih nggak deh! Kita itu sesama manusia. Kita itu setara. Lo nggak boleh takut sama manusia yang bully lo! Itu sama aja lo coreng nama baik papa lo!"

Byurrrr...

Sekar menutup matanya saat tubuhnya merasa disiram oleh sesuatu yang sangat busuk. Sepertinya aromanya tidak asing!

"Kak Giselle!" Teriak Jihan.

"Ini gara-gara lo yang lari dari gue! Mau jadi sok pahlawan? Lo itu cuma anak penjual ikan! Hahahah... Hey! Dengar semau! Lihat ini! Ini anak penjual ikan yang berani-beraninya sekolah disini! Miskin! Lo itu nggak pantas sekolah disini!" Teriak Giselle ke seluruh penjuru kantin.

Sekar mengusap wajahnya pelan, ternyata ini bekas cuci ikan. Pantas saja dia familiar. Sekar tersenyum dan menatap Giselle yang masih berbicara bagaimana dia tidak pantas sekolah di tempat ini.

"Eh, Jihan! Rekam gue dong! Atau live aja deh! Cepat!" Bisik Sekar pada Jihan.

"Oh, oke!" Jihan mengeluarkan handphonenya dan mulai live insta.

"Dengar ya Sekar! Lo ini bukan siapa-siapa disini! Anak beasiswa kayak lo nggak sepantasnya belagu! Mikir sebelum ikut campur! Lo nggak tahu siapa gue? Gue itu Giselle Victoria Norman! Keluarga Norman lo tahu? Pemilik perusahaan mobil!" Bangga Giselle.

"Saya tahu kok kak! Maaf kak! Saya... Hiskkk... Saya emang anak penjual ikan kak! Ibu saya emang jualan ikan di pasar Rabu! Saya paham kak! Emang saya nggak pantas sekolah disini! Hiskkk... Tapi! Saya punya harga diri kak! Apa saya bisa lihat teman saya di bully sama kakak? Hah? Nggak! Jihan itu manusia kak! Kalian juga manusia! Zaman sekarang bully itu tindakan norak kak! Apalagi kalau masalah cowok. Mending sama Oppa-Oppa Korea aja! Udah genteng, suaranya bagus, beh... Zidan aja nggak ada apa-apanya! Tapi kak! Walau saya anak penjual ikan! Kakak pasti nggak tahu seberapa hebat ibu saya! Ibu saya pernah tuh kak sama ayah saya dulu anggota TNI walau sekarang almarhum. Mereka tuh perang main perang-perangan sama teroris. Dorrr... Dorrr... Terus ibu saya di suruh ayah saya pergi. Kata ayah saya gini, dek, kamu pergi aja dari sini bawa Sekar! Mas akan disini. Tolong jangan lihat ke belakang lagi. Terus lari ke rumah warga. Jaga diri kamu sama Sekar. Maafin mas ya dek! Mas nggak bisa jadi suami yang baik buat kamu!" Jelas Sekar.

"Hiskk..." Jihan menutup mulutnya.

"Nah! Habis itu duarrr... Ibu saya pergi tuh lari dari hutan sampai ke pemukiman warga. Pas itu kak, ibu saya lahiran! Saya lahir deh di Kalimantan. Waktu ibu saya bangun, dia udah dapat kabar kalau ayah saya mati! Dari situ kak! Ibu saya balik tuh ke Jakarta sini! Uang dari kompensasi tuh di tabung sama buat modal jualan ikan! Terus kita tinggal deh dari awalnya kos lama-lama ke rusun sampai saat ini sih! Tahu nggak perjuangan ibu saya kayak gimana. Dia banting tulang dari saya bayi sampai saya besar. Ibu nggak mau di belas kasiani sama orang lain. Dia pasti sedih kalau saya nangis. Makanya saya nggak gampang nangis apalagi takut sama kakak! Saya emang miskin Kak! Tapi saya punya harga diri! Saya ikut campur karena Jihan juga nggak suka lagi kok sama Zidan. Kalau kakak suka, ayo dong mainnya fair! Masa gitu aja bully anak orang! Malu sama nama keluarga! Kalau keluarga kakak nonton live ini gimana?" Sekar tersenyum pada Giselle.

"Apa lo bilang?"

"Sekar!"

Sekar melihat Kenzie yang datang, wajah Kenzie sudah sangat merah padam. Sudah dipastikan Kenzie akan mengamuk!

"Ken! Ini nggak seperti lo pikir! Tenang ya!" Sekar menghalangi Kenzie.

"Lo apain Sekar? Hah?" Teriak Kenzie begitu keras.

Semua orang membeku saat suara Kenzie begitu marah mencekam. Bahkan Giselle menjadi sangat takut melihat aura kemarahan Kenzie yang bisa dirasakan semua orang disini. Sekar meneguk ludahnya, dia juga takut!

"Ken, udah ya!"

"Giselle! Lo apain sepupu gue! Hah! *Njing lo! Beraninya lo main-main sama Sekar!" Adam datang dengan orang-orang di belakangnya.

"Adam! Nggak usah ikut campur!" Sekar menggeleng pada Adam yang juga marah.

"Gila! Lo apain sepupu gue! Gue tahu lo kaya! Tapi nggak pantas lo pakai nama keluarga lo buat nindas orang. Malu sama nama keluarga! Lo pikir lo siapa? Hah? Cuma anak Norman kan? Lo nggak tahu gimana hebatnya ayahnya Sekar yang berjuang untuk negara ini? Hah? Emang ya! Pahlawan itu cuma gelar aja! Seterusnya cuma disepelein! Lo mau buat seluruh anggota TNI hujat lo mau? Gue telpon Ustadz supaya lo insyaf!" Adam berniat menelepon seseorang.

"Adam! Dia itu non!" Bisik Gala.

"Oh iya juga!"

"Lha terus kenapa kakak ngejar Zidan? Tembok kakak tinggi lho! Nggak bisa nikah beda agama!" Jelas Sekar.

"Gue juga nggak suka sama lo!" Zidan melihat Giselle.

Giselle menunduk dan pergi dari sana dengan air mata yang mengalir. Dia tahu tembok penghalangnya sangat tinggi. Dia tahu itu!

"Malah lari! Minta maaf dulu!" Teriak Gala.

"Ada yang luka?" Kenzie menangkup wajah Sekar.

"Nggak ada! Tapi jauh-jauh dari gue! Gue bau ikan!" Sekat mendorong Kenzie.

Bajunya sudah basah kuyup!

"Nggak peduli!" Kenzie memeluk Sekar begitu erat. Dia tidak peduli sama sekali. Jika Sekar terkena air kotor dia juga akan melakukannya!

Mana bisa diam saja setelah melihat orang yang dicintainya diperlakukan seperti ini. Dia akan membuat perhitungan dengan Giselle.

"Ettan! Tugas lo!" Dirga melihat Ettan yang menahan kesal.

"Hmm!" Ettan tersenyum penuh dendam.

💝💝💝

Salam ThunderCalp!🤗

Sekar banyak pelindungnya!

Jangan lupa like, komen, dan share!

See you...

Masuk Ke Dalam Novel ( END )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang