Ayyara melihat langit malam yang begitu gelap hari ini. Dia mengusap hidungnya lagi dan lagi. Sepertinya setiap malam dia akan terus mimisan seperti ini. Dia menutup matanya dan merasakan angin malam menerpanya.
"Kayaknya gue udah nggak kuat, Ay! Apa gue belum bisa balik ke tubuh gue sendiri?" Tanya Ayyara pada langit disana.
Tidak ada jawaban.
Ayyara tidak menjawabnya.
"Gue kangen ibu gue, Ay! Gue kangen bisa main basket, makan seafood, makan sambal ganja buatan ibu, main layangan sama bocil-bocil depan rusun. Gue mau pulang! Gue kangen sekolah gue! Teman-teman gue. Gue kangen, Ay! Gue mau pulang!"
💝💝💝
"Pagi!" Ayyara berjalan pelan menuju meja makan.
Pagi ini tubuhnya merasakan keanehan lainnya. Tubuhnya menjadi begitu lemah sampai dia perlu berusaha menyeret tubuhnya sendiri ke meja makan. Ayyara melihat kedua kakaknya yang tengah tersenyum kepadanya.
"Kata Dirga, kemarin kamu ketemu Kenzie lagi! Kenapa? Bukankah kakak sudah larang kamu?" Cakra menatap Ayyara tajam.
"Hmm... Soalnya Kenzie butuh bantuan aku, kak! Dia temen aku!" Ayyara sekuat tenaga mengambil roti dan memakannya pelan.
"Dirga, kamu nggak larang Ayyara?"
"Keadaannya nggak memungkinkan! Banyak orang yang halangin gue!" Dirga menatap malas roti didepannya.
"Mulai hari ini Dirga akan awasin kamu! Kakak juga bakal sita handphone kamu!" Putus Cakra.
Ayyara tidak mendengarkannya, dia melihat Cakra tanpa bisa mendengarkan apapun lagi. Dia tidak mendengar apapun. Dunianya begitu jungkir balik bagaimana putaran yang tidak pernah berhenti. Dadanya berdetak sangat cepat sampai dimana semuanya menjadi begitu gelap untuknya.
Sakit! Sangat sakit!
Brukkk...
"Ayyara!"
💝💝💝
"Sekar! Sekar!"
"Hah?" Sekar terbangun dan melihat sekitar yang menjadi begitu putih.
Apakah dia sudah mati? Kenapa bajunya juga putih-putih seperti kuntilanak. Apakah dia berubah menjadi setan gentayangan? Sekar melihat seseorang yang tengah tersenyum kepadanya. Itu Ayyara!
"Aya? Eh, ini dimana? Gue mati nih? Aduh, dosa gue banyak lagi! Gue belum minta maaf sama ibu gue nih! Balikin gue!" Pinta Sekar tidak terima.
"Nanti! Aku kesini mau berterima kasih sama kamu. Makasih ya, berkat kamu, aku nggak sendirian lagi. Ada Kak Dirga, Kak Cakra, mama, papa, juga teman baru yang kamu buat. Makasih ya kamu udah mau gantiin aku walau sebentar. Tapi aku benar-benar berterima kasih sama kamu. Akhirnya aku bisa minta maaf sama mama dan papa. Juga Kak Dirga sama Kak Cakra."
"Ohhh... Gitu ya? Terus gimana gue baliknya?"
"Nanti! Sekarang kamu bangun dulu ya! Kamu kan harus pamitan sama mereka. Kamu kan kenal mereka juga."
Sekar menganggukkan kepalanya. Dia kenal mereka semua. Apakah setelah berpamitan dia akan pergi?
"Hah... Ya udah. Gue juga makasih sama lo, gue belajar banyak hal Ay! Gue bisa lebih bersyukur dalam hidup, nggak gampang ngeluh sama ibu, juga gue bisa tahu kalau menjadi orang kaya itu nggak mudah. Banyak cobaannya! Hehehe... Tapi gimana caranya gue bangun?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Masuk Ke Dalam Novel ( END )
Teen FictionBagaimana jika harapanmu menjadi kenyataan? Itulah yang dirasakan Sekar, dia harus menelan pil pahit saat terbangun dari tidurnya. Bukan lagi kamar sempitnya tapi sebuah tempat yang begitu luas serta orang-orang asing baginya. Tapi dimana dia sekara...
