33. Kamu Aya?

10.9K 678 2
                                        

Beberapa hari setelah kasus Kenzie, Sekar juga mendengar kasus lainnya dari keluarga Ruslam. Orangtua Ayyara masih dalam keadaan terpuruk. Mereka terlihat sangat sedih di TV saat orang-orang datang ke rumah mereka. Sekar juga melihat Bibi Lisa yang menggeleng pada wartawan yang datang. Sekar ingin membantu. Tapi apa yang bisa dia lakukan?

"Hah... Kenapa jadi gini sih! Itu juga Kenzie! Kenapa dia malah masuk ke klub malam? Mau cari apa sih? Arghttt..."

"Sekar! Kamu kesurupan?" Tanya Ibu Sekar dari dapur.

"Nggak!"

"Terus ngapain?"

"Lagi lihat berita aja! Ibu udah belum? Kapan selesainya? Rumah Om Gibran jauh lho!"

"Sebentar!"

Tugas hari yang mendung ini! Mengantarkan makanan ke rumah Om Gibran alias adik dari ayahnya. Sekar mengganti saluran TV dan melihat kartun kesukaannya. Monyet!

"Ini! Hapal kan rumahnya?" Tanya Ibu Sekar memberikan banyak makanan yang harus Sekar antar.

"Kan lewat maps juga bisa! Om Gibran tadi WA aku! Udah ini aja?" Tanya Sekar melihat banyaknya makanan dari ibunya.

"Itu aja! Disana nanti jangan malu-maluin! Om Gibran itu orang kaya! Pasti disana banyak orang kaya juga! Boleh lah ambil satu buat jadi mantu!"

"Haha... Kenapa nggak ibu aja yang antar?" Tanya Sekar bersiap untuk pergi.

"Udah sana pergi!"

Sekar menghembuskan nafasnya lelah, masalahnya adalah ini pertama kalinya Sekar ke rumah adik ayahnya. Sejak ayahnya meninggal dunia, mereka sudah tidak saling berhubungan lagi selain melewati handphone saja. Sekar juga tidak sedekat itu dengan keluarga ayahnya sebab ayahnya meninggal saat dia masih ada di dalam kandungan. Dulu ayahnya adalah anggota TNI. Dia meninggal saat bertugas dulu. Sangat menyedihkan untuk ibunya saat itu.

"Sekar berangkat!"

💝💝💝

"Gue pulang aja!"

Sekar menatap kumpulan mobil yang berjejer rapi di parkiran luas. Kenapa adik ayahnya sangat kaya raya? Sekar berjalan pelan memasuki rumah dengan membawa banyak makanan. Dia menjadi ingin pulang setelah mengantarkan makanan. Masalahnya adalah pakaiannya pakaian murah. Dandanannya juga. Sekar merasa tidak percaya diri di tempat ini.

"Permisi! Om Gibran!" Sekar menunduk melewati banyaknya tamu yang datang.

Hari ini adalah hari yang spesial untuk anak kedua omnya. Sekar juga tidak tahu siapa itu. Dia juga tidak kenal sepupunya selain anak pertama Om Gibran.

"Annisa!" Panggil Sekar berjalan menuju Annisa.

"Sekar? Kapan datang?"

"Baru aja! Ibu titip ini!"

"Wahhh... Enak nih pasti! Aku taruh di dalam dulu! Kamu disini aja nanti aku kesini lagi!"

"Siap, bos! Om Gibran mana? Terus adik kamu yang mana?" Tanya Sekar mengamati penjuru tempat.

"Baru didandanin sama Umi! Nanti juga muncul! Kamu sih nggak pernah kesini!"

"Gimana ya? Masalahnya tuh jauh!"

"Nanti nginep aja ya? Pulangnya kapan-kapan!" Pinta Annisa.

"Lihat kondisi dulu! Hehe..."

Sekar tertawa kecil, dia tidak membawa baju ganti jika harus menginap. Tapi pasti tidak ada kendaraan yang akan mengantarkannya pulang. Sekar menunggu Annisa yang pergi ke dalam lebih dulu. Dia mengamati sepatu yang baru dibeli ibunya hanya untuk acara ini saja. Ibunya takut jika Sekar terlihat orang miskin. Tapi nyatanya memang begitu.

Sekar menepuk kedua pipinya dan melihat ke depan.

"Ngapain lo disini?"

"Hah? Kak Dirga? Lo yang kenapa disini?" Tanya Sekar tidak terima.

"Ini rumah temen gue!"

"Siapa?"

"Adam!"

Sekar membuka mulutnya lebar-lebar, jadi ini rumah Adam. Adik Annisa, anak Om nya? Bukankah itu artinya mereka sepupuan?

"Hah? Kok bisa?"

"Sekar! Adik aku udah turun itu!" Annisa datang menunjuk Adam yang turun dengan seorang wanita berkerudung.

"Kak Adam adiknya kamu? Masa sih? Sejak kapan?"

"Kamu udah kenal?" Tanya Annisa pada Sekar.

Kenal tapi bagaimana bisa? Sekar menangis dalam hati. Kejutan macam apa ini? Sekar melihat Dirga yang menautkan kedua alisnya. Dimana jalan keluar? Dia ingin pulang saja!

"Lo!" Dirga menunjuk wajah Sekar dengan senyuman mengerikan di wajahnya.

"Apa? Kami sepupuan kenapa? Hushh... Sana! Orang luar nggak usah ikut campur!" Sekar menginjak kaki Dirga dan menarik tangan Annisa pergi.

Dia mau pulang saja setelah memberi selamat. Pulang lebih baik!

"Om! Tante!" Sapa Sekar.

"Sekar! Akhirnya kamu datang juga!" Tante Fatimah memeluk Sekar erat.

"Hehehe... Iya!"

"Kesini pakai apa?" Tanya Om Gibran padanya.

"Ojek online tadi tapi mobil kok om! Ibu titip pesan buat om sama tante terus. Kak Adam kan?" Tanya Sekar pada Adam yang sedang melihatnya.

"Siapa ya?" Tanya Adam.

"Sepupu kamu! Aku udah lama follow insta kamu. Aku nggak tahu kalau kamu sepupu aku! Selamat ulang tahun! Semoga jadi anak baik membanggakan kedua orantua. Aduhhh... Perut aku sakit! Om, aku pulang dulu aja ya! Perut aku sakit banget nih!" Sekar memegangi perutnya yang tidak sakit.

Dia harus pulang! Pasti bukan hanya Dirga yang datang tapi semua orang! Dia harus pulang!

"Perut kamu sakit kenapa?" Tanya Annisa padanya.

"Nggak tahu! Kayaknya datang bulan!"

"Kamu nginap aja disini!" Pinta Tante Fatimah.

"Tapi..."

"Ke kamar aku aja, yuk!" Annisa menuntun Sekar pergi.

Sekar menggigit bibirnya tidak tahu harus berbuat apa. Kenapa dia harus bersepupuan dengan Adam? Kenapa? Apakah dunia sesempit itu? Kenapa tidak orang lain saja? Sekar masuk ke dalam kamar Annisa. Mungkin lebih baik dia disini saja daripada di luar. Ada banyak orang yang Sekar tidak ingin temui.

"Aku ambilin minyak dulu ya!"

"Nggak usah! Aku tiduran aja!"

"Nanti aku kesini lagi! Acaranya nggak akan lama! Istirahat aja Sekar!"

"Iya!" Sekar mengangguk dan tidur.

Apalagi kejutan yang harus dia terima lagi? Sepertinya masih banyak hal yang tersembunyi dalam-dalam. Apakah ada rahasia lain yang dia tidak tahu? Sekar menarik selimut dan menutupi tubuhnya sendiri. Besok dia harus pulang!

💝💝💝

Salam ThunderCalp!🤗

Jrengggg... Ternyata Sekar sepupunya Adam😂

Jangan lupa like, komen, dan share!

See you...

Masuk Ke Dalam Novel ( END )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang