39

62 8 0
                                        

HEPIBIDI JUTDWAE AKUUUUUU, tim ketinggalan wkwkwk.

HEPIBIDI JUTDWAE AKUUUUUU, tim ketinggalan wkwkwk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Begitu kabar kepulangan Arye terdengar, Martha bergegas menemui suaminya. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Arye setelah perjalanan yang ia lakukan. Sudah biasa sebenarnya, begitu Arye pulang, darimana pun itu, Martha akan langsung menghampirinya.

Wajah lelah Arye yang kentara adalah yang Martha dapatkan. Martha tidak mengatakan apapun, ia mendekati Arye dengan senyum hangatnya.

"Aku lelah, Martha," ucapan Arye seperti orang yang mengadu, bukan orang yang melarang Martha untuk mendekat.

"Ya, beristirahatlah, aku akan meminta pelayan membawa minuman hangat untukmu."

"Malam ini bisa temani aku, Martha? Rasanya aku sangat lelah."

"Tentu, Yang Mulia."

Martha memang bukan istri Arye satu-satunya. Tapi jika boleh jujur, Martha adalah yang paling dekat dengan Arye. Arye begitu menyukai sikap hangat dan perhatian Martha. Dalam diri wanita itu seperti ada sesuatu yang membuat orang mudah merasa nyaman padanya, suami dan anak-anaknya begitu membutuhkannya. Bahkan Minho yang buka putra kandungnya pun sekarang akan mencarinya saat dia butuh.

Martha mengikuti Arye ke kamar sang raja. Martha tidak berbicara apapun atau bertanya bagaimana perjalanan Arye, apa berhasil atau tidak. Martha hanya berpikir bahwa bukan saatnya ia membahas hal itu. Jika Arye berkenan, Arye akan berbagi dengan sendirinya tanpa Martha pinta.

"Yang Mulia Martha, Pangeran Jeongin mencari anda."

"Baik, terima kasih."

Sebelum ke kamar Arye, Martha lebih dulu menghampiri si bungsu. Ia tidak akan menemani anak itu untuk saat ini. Hanya akan memberi pengertian bahwa ia akan menemani ayahnya.

Untungnya Jeongin mengerti. Anak itu sudah mengantuk, Martha hanya menemaninya sebentar, memberi usapan lembut pada dahi Jeongin sampai anak itu benar-benar terlalap.

***

Orang yang dibawa Arye itu ditangani oleh Rafleen karena keadaannya tidak baik. Arye memerintahkan untuk dibawa kesalah satu kamar, juga dengan penjagaan yang ketat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Bisa dibilang, Rafleen adalah orang yang paling sibuk. Sejak kemarin Arye memerintahkan untuk melakukan perjalanan dua kali berturut-turut. Pengawal yang bertugas saja bergantian, tapi Rafleen melakukannya tanpa bisa digantikan oleh siapapun.

Rafleen baru saja melakukan pemeriksaan. Langkahnya ia bawa menuju kamar keluarganya. Ada satu kamar besar yang ditempati Rafleen dan keluarganya, kamar itu seperti satu rumah, yang di dalamnya ada kamar-kamar lain, bahkan ada ruang bersantai atau ruang keluarga.

"Ayah!" Yuna orang pertama yang menyambut Rafleen dengan suara riangnya. Anak itu sudah berlari mendekati Rafleen dan langsung memeluknya. "Ayah, kenapa selalu pergi?"

"Maaf, ayah ada hal yang harus diurus."

"Apa ayah tidak lelah? Aku yang hanya menunggu ayah saja lelah."

"Tadinya ayah lelah, tapi hilang setelah melihatmu. Terima kasih, Yuna, sudah menyambut ayah."

Anak itu mengangguk antusias. Apalagi saat mendapat usapan lembut di kepalanya. "Ayah, temani aku tidur ya? Aku ingin dibacakan cerita."

"Yuna, biarkan ayah beristirahat ya? Ayah pasti lelah karena baru saja pulang," Winaa memberi pengertian pada putri bungsunya.

Membuat anak itu melengkungkan bibirnya ke bawah.

"Kakak saja yang bacakan, bagaimana? Ayah harus istirahat, apa Yuna tidak kasihan? Yuna saja lelah menunggu ayah, apalagi ayah yang berpegian, benar bukan?" Yeji membantu membujuk adiknya.

Akhirnya anak itu mengangguk setuju.

"Maaf ya, Yuna."

"Tidak apa ayah, ayah bisa melakukannya lain kali."

"Terima kasih sudah mengerti ayah."

"Iya."

"Sudah, sekarang Yuna tidur bersama Kak Yeji, ini sudah malam."

"Selamat malam ibu, selamat malam ayah."

Rafleen dan Winaa membalas ucapan itu bergantian.

Yeji menepati janjinya membacakan cerita untuk Yuna. Ketiga putri Winaa berbagi satu kamar untuk bertiga, ada tiga tempat tidur untuk mereka gunakan masing-masing. Di tempatnya Ryujin sudah terlelap sejak tadi. Berbeda dengan Yeji yang masih menunggu Yuna untuk tidur.

Untuk peran, Yeji lebih pandai mengambil peran sebagai kakak untuk adiknya. Berbeda dengan Ryujin. Putri sulung pasangan Ralfeen dan Winaa itu suka sekali mecari keributan dengan adik-adiknya. Bukan hanya Yeji, namun pada Yuna pun sama saja.

Yeji lebih pandai dalam mengemong adiknya. Lebih dewasa untuk mengerti dan bersikap pada Yuna. Sikap kakak pada Yeji jauh lebih terlihat daripada Ryujin. Tapi tetap saja, dalam beberapa hal Yeji membutuhkan Ryujin sebagai kakaknya.

Dari semua sikap Ryujin, dia masih memiliki tanggung jawab sebagai kakak. Ryujin bukan kakak yang gagal, hanya saja ia memiliki cara lain sebagai seorang kakak.

"Cerita apa yang ingin kakak ceritakan?"

"Menurutmu, cerita apa yang bagus untuk diceritakan?"

"Cerita tentang tuan putri? Kita tidak memiliki tuan putri disini, karena seluruh anak yang mulia raja adalah laki-laki. Aku ingin tahu kehidupan tuan putri bagaimana, apa sama seperti kita atau lebih menyenangkan."

Yeji memikirkan dulu sebelum ia bercerita. Jujur saja ia tidak tahu bagaimana kehidupan seorang tuan putri, ia sendiri tidak tahu. Lalu cerita yang bagaimana yang akan ia sampaikan pada Yuna? Apa ia harus mengarang? Tapi mengarang yang seperti apa? Ia hanya takut apa yang ia katakan tidak sesuai dengan kenyataan, apalagi membuat adiknya menyetujui ucapannya.

"Akupun sebenarnya tidak tahu, Yuna."

"Padahal aku sangat ingin tahu."

"Begini saja, aku akan bercerita tentang yang aku tahu saja. Tapi itu bisa jadi benar atau salah, kau hanya perlu mendengarkan, tapi tidak perlu mempercayainya. Mengerti?"

Anak itu mengangguk, menunggu sampai Yeji mulai bercerita.

***

TBC...

HARI INI SESUATU BANGETTTT ASTAGAAAAA!!!!!!!!!!!!

ARTHEIRETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang