Sejak hari itu Martha selalu berada di kamar Minho. Martha hanya akan meninggalkannya saat ia harus ke kamar. Martha juga memilih tidur di kamar Minho setiap malamnya, menjaga anak itu. Sepertinya Martha lupa ia memiliki anak-anak lainnya dan suami yang tidak pernah lagi ia temui.
Martha sudah berjanji pada Minho untuk selalu bersamanya. Karena Martha tidak ingin Minho mengingkari janjinya, jika Martha ingkar padanya.
Winaa juga akan menyempatkan diri mengunjungi Martha, menemani meski hanya sebentar. Winaa tidak tega pada istri raja yang sudah berteman dengannya sejak lama, yang hanya termenung di kamar Minho memandangi putra mahkota dalam diam.
"Permisi, Yang Mulia."
Martha menoleh, mendapati dua gadis yang datang menemuinya.
"Ibu tidak bisa datang kesini. Tapi ibu meminta kami mengantar ini untuk Yang Mulia," Ryujin yang berkata. Ia memberikan nampan berisi kue yang ibunya buat, khusus untuk Martha.
"Terima kasih, Ryujin, Yeji."
"Kami permisi, Yang Mulia."
"Semoga Yang Mulia Minho lekas membaik," Yeji ikut berucap sebelum pergi.
Martha menatap pada kue yang berbeda bentuk. Kue tersebut terlihat cantik dan menarik. Jika saja Martha bisa membuatnya dengan mudah, ia akan melakukannya dan memberikan itu untuk anak-anaknya, mereka pasti senang.
Martha jadi mengingat para pangeran yang tidak pernah ia jumpai. Martha tidak berani meninggalkan Minho, rasanya takut sesuatu terjadi saat ia pergi.
Yang membuat Martha tetap berada di sini, salah satunya juga karena tidak pernah ada yang datang untuk menemui Minho. Martha akan pergi jika Arina datang. Tapi Arina tidak pernah datang setelah kejadian hari itu. Arye juga tidak pernah terlihat mengunjungi Minho.
Martha tidak tahu apa yang terjadi, kenapa tidak ada orang tua kandung Minho yang datang untuk melihatnya. Disana Martha rasanya benar-benar ketakutan, sementara mereka malah tidak ada untuk Minho. Martha tentu saja kecewa. Apalagi membayangkan posisi Minho jika tahu tidak ada yang menemuinya disaat ia tidak baik-baik saja.
Martha tahu Arina adalah orang nomor satu yang akan mendatangai Minho saat kabar buruk terdengar. Bahkan Martha hanya bisa melihat Minho dari jauh, karena disana jelas sudah ada Arina yang bersama anak itu.
Apa Martha senang bisa mendapat ruang untuk dekat dengan Minho dan menemaninya tanpa halangan? Entahlah, yang Martha rasakan justru kecewa terhadap Arina. Dimana istri pertama suaminya itu? Karena bagi Martha, orang yang paling Minho butuhkan adalah Arina, meski rasa khawatir Martha begitu besar padanya.
Rafleen datang untuk memeriksa Minho. Martha membiarkan tabib itu melakukan pekerjaannya. Tapi Martha tidak ingin mendengar perkembangan Minho. Martha mengatakan pada Rafleen untuk tidak mengatakan apapun tentang Minho, apalagi jika itu hanya membuatnya semakin sedih. Biarlah ia tidak tahu, jikapun itu membaik, Martha hanya berharap Minho kembali sehat.
Setelah memberi obat, Rafleen dengan sopan meninggalkan kamar itu. Tidak ada kabar apapun yang Martha dengar, karena itulah yang ia inginkan.
***
"Dimana Jeongin?" Arye bertanya pada anggota keluarganya. Ia tidak mendapati si bungsu di meja makan.
Tidak ada yang menjawab, karena memang tidak ada yang tahu. Tidak ada satupun dari mereka yang menghampiri kamar Jeongin. Lagian biasanya anak itu juga akan datang sendirinya. Jeongin bukan anak kecil yang harus didatangi lagi.
"Tidak ada dari kalian yang tahu anak itu?"
"Maaf, Ayah. Aku tidak ke kamarnya tadi."
"Cepat temui dia di kamarnya dan suruh dia makan sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
ARTHEIRE
FanfictionEND Keadaan membuatnya tidak bisa melakukan apapun. Dia yang seharusnya bisa diandalkan, justru tidak bisa melakukan apapun. Lantas bagaimana kelanjutan Artheire? Arye tidak memiliki pilihan untuk menentukan kelanjutannya, seolah menyimpan permata i...
