Sore hari sebelum kembali ke kamarnya untuk istrirahat. Arye menyempatkan diri untuk mendatangi kamar putra pertamanya. Ia ingin melihat putranya yang sudah ia abaikan begitu saja. Bahkan saat keadaannya memburuk saat itu, Arye tidak datang sekalipun. Membiarkan Martha dengan ketakutannya sendiri.
Pria yang akan menginjak usia dua puluh tahun itu tengah duduk tenang. Memandangi ke luar kamar. Wajahnya begitu rupawan, terlihat lebih indah saat cahaya senja menyinarinya.
"Bagaimana keadaanmu?"
Minho menoleh. Ia tidak tahu ayahnya akan datang, dan jujur kedatangan Arye membuatnya terkejut sampai sedikit tersentak. "Seperti biasanya, tidak pernah baik."
"Bukankah Ibu Martha sudah merawatmu dengan baik, ternyata belum membuatmu lebih baik ya?"
"Aku baik, tapi ayah tahu jelas apa yang aku maksud dengan tidak baik itu. Aku tidak akan pernah baik, begitu kan, Yah?"
Arye mendekat, mengusap lembut kepala putra pertamanya. "Selama ada orang-orang yang menyayangimu di sisimu, itu akan baik-baik saja, Nak. Tidak perlu khawatir."
"Aku memang tidak pernah khawatir. Apa juga yang perlu aku khawatirkan. Aku hanya merasa tidak berguna."
Arye tidak bisa membalas ucapan itu.
"Maafkan aku, Yah. Maaf aku tidak bisa menjadi apapun untuk ayah. Maaf jika aku hanya merepotkanmu dengan tubuh sialan ini. Aku putra pertamamu, aku yang seharusnya bisa ayah percaya dan ayah andalkan. Kenyataannya aku hanya beban untukmu dan semua orang."
"Martha tidak akan menyukainya jika kamu berbicara seperti itu."
"Kenapa tidak suka? Aku hanya mengatakan fakta. Aku hanya meminta maaf atas ketidak berdayaan diriku. Aku memang harus melakukannya, aku harus meminta maaf pada ayah atas semua yang terjadi padaku."
"Nak, berhenti mengatakan itu."
"Ayah, aku hanya mencoba meminta maaf padamu. Aku harap ayah memafaakanku atas semua hal yang ada pada diriku. Aku tahu, banyak hal yang terjadi karena diriku yang seperti ini kan?"
Arye mencoba menyabarkan dirinya. Ia harus bisa mengerti Minho dan perasaan anak itu. "Ayah datang untuk menemui dirimu dan memastikan kau baik-baik saja. Apa ayah mengganggu?"
"Tidak sama sekali. Terima kasih sudah mau datang."
"Lekas membaik, kamu sudah lama tidak ikut makan bersama anggota keluarga."
"Ya, ayah."
"Baiklah, ayah tinggal. Istirahatlah agar segera membaik, kamu membuat Ibu Martha begitu khawatir padamu."
Arye pergi setelahnya. Meninggalkan Minho yang kembali melamun, menatap jauh ke arah luar. Kepalanya mulai ia sandarkan pada sisi jendela. Minho selalu merasa tidak nyaman pada tubuhnya. Tidak melakukan apapun saja membuatnya begitu lelah. Mungkin jika ia melakukan apa yang dilakukan saudaranya yang lain, ia akan mati. Terkesan berlebihan, tapi itu yang Minho rasakan. Lihat saja wajahnya yang pucat berkepanjangan. Minho selalu terlihat seperti orang sakit, tidak pernah terlihat segar.
Begitu melihat Minho, orang yang tidak mengetahui kondisinya pasti akan menanyakan kesehatannya. Seperti "sepertinya kau sedang kurang sehat" atau hal yang seperti itu. Itu juga yang membuat Arye tidak pernah mengenalkan Minho kepada rakyatnya, selain Minho yang tidak bisa pergi keluar dan melakukan aktivitas lainnya.
"Sayang?"
"Ibu."
"Hm, ibu datang lagi. Semoga tidak bosan karena selalu melihat ibu ya?" Martha terkekeh setelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARTHEIRE
Fiksi PenggemarEND Keadaan membuatnya tidak bisa melakukan apapun. Dia yang seharusnya bisa diandalkan, justru tidak bisa melakukan apapun. Lantas bagaimana kelanjutan Artheire? Arye tidak memiliki pilihan untuk menentukan kelanjutannya, seolah menyimpan permata i...
