Setelah permintaan Arye pada Martha hari itu, Martha berusaha kembali dan merawat anak-anaknya lagi. Ia merindukan mereka setelah mengabaikan mereka beberapa hari.
Kondisi keluarga mereka berangsur membaik. Sosok ibu yang memperhatikan mereka kembali, membuat semuanya terasa jauh lebih baik. Meskipun ada beberapa hal yang telah berubah.
"Ibu perhatikan, Adik sering terlihat bersama Kak Hyunjin akhir-akhir ini."
Malam ini Jeongin meminta Martha menemaninya tidur. Jeongin rindu sekali pada ibunya, rindu bermanja dan menjadikan sang ibu miliknya sendiri.
"Iya. Kak Hyunjin orang yang baik, Bu. Sebenarnya sejak dulu Kak Hyunjin sesekali mengajakku bicara. Tapi Kak Hyunjin selalu pergi saat ibu ratu datang."
Karena bingung harus membalas bagaimana, Martha tidak menjawab apapun.
"Kak Hyunjin selalu memberi hadiah saat aku ulang tahun. Dia baik sekali."
"Syukurlah jika dia baik padamu."
"Aku menyukainya! Dia benar-benar baik, bahkan Kak Changbin tidak sebaik Kak Hyunjin."
Ini yang Martha takutkan. Takut sekali jika sampai Jeongin membandingkan kakak-kakaknya. Meski berbeda, mereka semua tetap kakaknya. Jeongin tidak pantas jika membandingkan mereka, siapa yang lebih baik, siapa yang tidak baik.
"Sayang."
"Ya, Ibu?"
"Tidak baik membandingkan seperti itu. Setiap orang memiliki cara yang berbeda. Tidak bisa mengatakan kakak yang ini lebih baik dari kakak yang itu. Tidak baik menilai yang seperti itu."
"Tapi itu benar, Bu. Aku tidak suka dengan Kak Jisung dan Kak Felix, aku menempatkan mereka di paling akhir."
"Jangan, Sayang. Jika kakak mendengar, mereka akan sedih."
"Tapi mereka melakukan apapun padaku tanpa berpikir bagaimana aku setelahnya, Bu," wajah anak itu murung, mengingat yang dilakukan Jisung dan Felix hampir semuanya bukanlah hal baik.
"Iya, Ibu paham. Ibu hanya tidak ingin Adik membandingkan seperti itu. Bagaimana perasaan adik jika ibu membandingkan anak-anak ibu satu dengan yang lainnya?"
"Memang siapa yang akan ibu pilih sebagai anak terbaik dan yang paling kurang baik?"
"Bagaimana jika kita tanya perasaan adik. Bagaimana perasaan adik jika ibu memilih adik sebagai anak yang paling baik? Bagaimana perasaan adik jika ibu katakan adik ada di urutan bawah?"
Jeongin tidak menjawab. Karena ia tahu harus menjawab bagaimana, hanya saja ia tidak ingin menjawab pertanyaan ibunya.
"Sudah malam, apa tidak ingin tidur?"
"Aku ingin tidur. Peluk aku terus ya, Bu."
"Tentu, Sayang. Selamat istirahat, kita bertemu lagi besok ya?"
"Hmm. Selamat malam, Bu," Jeongin mulai mencari posisi nyamannya pada pelukan sang ibu. Sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap.
Malam ini Jeongin merasa puas setelah beberapa hari ini hanya bisa memikirkan sang ibu dan menahan rasa rindu. Sekarang rindunya terbayar dengan kehadiran sang ibu di sisinya dan menemani sampai ia terlelap.
Saat Jeongin sudah terlelap dalam tidurnya, Martha sendiri masih terjaga. Menatap pada wajah rupawan putra bungsunya. Tidak bohong, Martha juga sangat merindukan putranya ini. Biasanya perhatian Martha jatuh lebih banyak pada Jeongin. Namun sejak Martha bisa mengambil hati Minho, bisa dikatakan Martha lebih banyak memperhatikan anak itu, apalagi ia tahu Minho tidak seperti yang lain. Meskipun Martha tetap berusaha memperhatikan semua putranya dengan baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARTHEIRE
FanfictionEND Keadaan membuatnya tidak bisa melakukan apapun. Dia yang seharusnya bisa diandalkan, justru tidak bisa melakukan apapun. Lantas bagaimana kelanjutan Artheire? Arye tidak memiliki pilihan untuk menentukan kelanjutannya, seolah menyimpan permata i...
