3 (langkah awal)

7.1K 421 32
                                        

Argo pov

Aku memutarkan pensil memikirkan langkah selanjutnya. Langkah untuk membuat kedua adikku tidak mati di masa depan perlahan aku jalankan. Aku tidak mau semua musuh masuk ke dalam rumahku.

"Kalau papa bertanya mengenai penolakan dariku bagaimana?" bingungku.

Aku melupakan itu semua. Dulu saat semua musuh yang menyamar sebagai anak buah ayahku tidak ada penolakan dariku. Wajar aku merasa tidak curiga karena sikapku benar-benar acuh akan sekitar. Kehilangan Fano membuatku sedikit memperhatikan keadaan sekitar.

"Masa aku bilang kepada papa bahwa aku berasal dari masa depan sih," ujarku.

"Kau akan dianggap gila bodoh," sarkas Henry.

"Lantas menurutmu bagaimana?" tanyaku meminta saran kepada alter ego milikku.

"Kau jalankan rencanamu saja. Aku takut ayahmu akan curiga apabila dirimu melarang dia merekrut orang baru," saran Henry kepadaku.

"Antisipasi lebih baik Henry. Mereka itu dalang dimana adik kecilku diculik, dan ada satu orang yang akan mensabotase pesawat adikku!" kesalku.

"Itu masih lama. Sementara waktu kau dekatkan dirimu dengan kedua adikmu," ujar Henry yang tidak peduli akan rasa kesalku.

"Ck!" kesalku.

"Abang!" panggil Fano.

Aku dengan cepat mengubah wajah marahku. Aku tidak mau Fano tahu bahwa aku marah tadi. Fano memeluk kakiku membuat aku terkekeh geli akan tingkahnya.

Argo pov end

Kedua kakak beradik bercanda satu sama lain. Adiknya menatap wajah sang kakak yang nampak terdiam sejak tadi.

"Abang masih sakit?" tanya Fano.

Fano mencoba naik ke pangkuan sang kakak. Argo membantu adiknya dia malah terkekeh geli melihat Fano mengecek dahinya. Wajah lucu Fano menjadi hiburan tersendiri bagi Argo.

Argo yang tidak tahan mencium kedua pipi Fano sangat brutal. Fano berusaha menjauhkan wajah Argo dari pipinya yang bulat, namun tidak berhasil sama sekali.

"Abang mau agar adek tidak cepat sekolah," ujar Argo memeluk tubuh kecil adiknya.

Awal mula musuh mengetahui keberadaan Fano saat adiknya itu merengek ingin sekolah seperti kedua kakaknya. Stevan yang memang tidak mau anaknya marah menuruti saja. Namun itu malah awal mula musuh semakin berani menantang sang ayah. Musuh tahu bahwa Fano kelemahan terbesar bagi seorang Stevan Kabar Jovetic.

"Semalam adek dengar kalau papa sama mama berisik sekali," ujar Fano.

"Berisik kenapa?" tanya Argo mengelus rambut Fano.

Fano duduk di pangkuan sang kakak. Anak kecil itu menaruh kepalanya di dada bidang sang kakak. Dia nyaman mendapatkan kasih sayang dari kakak sulungnya.

"Mama bilang enak. Pas adek kesana malah gak boleh. Kan adek juga mau coba makanannya," ujar Fano polos.

Wajah Argo memerah mengerti maksud adiknya itu. Hey dia itu pria matang berusia tiga puluh lima tahun yang malah nyasar ke tubuh berumur dua belas tahun.

"Eh abang kenapa?!" kaget Fano melihat wajah Argo memerah.

"Tidak apa-apa dek," ujar Argo.

"Kakak sekolahnya lama," keluh Fano.

"Ada abang lho di rumah," ujar Argo merasa adiknya ini lebih dekat dengan Rimba.

"Abang sibuk belajar mulu! Kalau sama kakak aku diajak bermaim bola!" ketus Fano menggembungkan pipinya yang bulat.

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang