Selesai makan siang Argo berdiri dari tempat duduk. Lusi mengikuti langkah kaki anak sulungnya. Argo yang kesal menatap tajam sang ibu.
Lusi malah tertawa akan tingkah anaknya. "Kamu lucu lho abang," ujar Lusi mencolek dagu Argo.
"Aku bukan perempuan!" protes Argo.
"Lucu tidak berarti dirimu perempuan," ujar Lusi.
"Aku mau ke papa saja!" pekik Argo.
Lusi memeluk tubuh tinggi sang anak. Argo memberontak akan tindakan sang ibu. "Lepasin!" pekik Argo.
Lusi semakin memeluk tubuh Argo sangat erat. Suara sepatu pentofel masuk ke rumah menghentikan aksi Argo. "Abang kenapa, mah?" tanya Stevan.
Terlihat jelas bahwa Stevan habis membunuh seseorang lagi. Lihat saja ada bekas darah di kemeja putihnya. Wajah Argo cemberut saat memperhatikan penampilan Argo.
"Biasalah. Sifat manja nya kumat," jawab Lusi.
"Abang tidak manja ya!" protes Argo.
Stevan mencium kening Lusi dan Argo. Argo menatap sengit ayahnya. Stevan terkekeh geli menatap wajah sang sulung.
"Dan sama adek dimana?" tanya Stevan tidak melihat keberadaan kedua anaknya.
"Dan langsung tidur setelah makan siang bersama adek," jawab Lusi.
"Anak itu mudah sekali tidur," ujar Stevan.
Argo yang kesal menendang perut ayahnya. Merasa bahwa tindakan Argo tergolong kurang ajar, dengan segera Stevan menarik kerah baju Argo.
"Sepertinya abang perlu merasakan hukuman bersama singa kesayangan papa!" ancam Stevan.
"Aku tidak takut!" pekik Argo.
Ayah dan anak itu saling berpandangan tajam satu sama lain. Lusi bahkan merasa hawa di sekitarnya berubah drastis, Stevan benar-benar menurunkan hampir seratus persen gen ia untuk Argo. Lihat saja bagaimana tatapan tajam Argo terhadap ayahnya sendiri.
"Tidak takut dicambuk papa?" tanya Stevan.
"Papa tidak akan berani melakukan hal tersebut," sahut Argo santai.
Yah sekejam apapun Stevan di dunia bawah, ia masih seorang ayah yang amat menyayangi ketiga putranya. Mereka dihukum hanya sekedar tentang melawan ratusan bawahan Stevan saja, ataupun menginap beberapa hari di kandang hewan buas miliknya.
Secara tidak langsung memang hukuman Stevan sangat berbahaya. Namun ketiga anaknya tidak pernah jera sama sekali. Apalagi sosok Argo yang menuruni semua sifat Stevan.
"Papa aku tidak suka ya!" pekik Argo.
"Mengenai apa sih bang?" bingung Stevan tidak mengerti.
"Pokoknya abang menentang keputusan papa mengenai rencana papa!" pekik Argo.
"Maksudmu rencana papa tentang membunuh koruptor?" tanya Stevan memastikan.
"Bukan itu!" pekik Argo.
"Jangan bilang ucapan papa terhadap Dan?" tebak Stevan.
"Abang maunya dua adik saja! Tidak mau lebih!" protes Argo.
"Adopsi kok," ujar Stevan.
"Tetap saja!" protes Argo.
"Mengapa abang menentang itu?" tanya Stevan kepada sang anak.
"Pokoknya tidak mau! Abang takut papa dan mama tidak sayang sama adek lagi!" pekik Argo.
"Mengapa kamu berpikiran seperti itu?" tanya Lusi kepada sang anak.
"Yah karena mama dan papa menginginkan anak perempuan. Makanya nanti melupakan kami bertiga," sahut Argo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
Fiksi UmumArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
