Aku memang merasa kesal akan seorang plagiat ceritaku. Namun ternyata dia hanya seorang pengecut yang ketika ditegur malah kabur.
Yah lebih baik aku melanjutkan cerita ini dibandingkan mengurusi seorang plagiat seperti dia.
Aku juga mengedit cover karena cover sebelumnya telah diambil oleh sang plagiat tidak tahu diri.
Baiklah kita lanjutkan cerita ini.
Beberapa minggu terakhir keinginan sang bungsu sekolah tidak luntur sama sekali. Bahkan dini hari Fano mengganggu tidur kedua orangtuanya agar dia izinkan untuk bersekolah dalam waktu dekat.
Keputusan mereka tetap sama yaitu tidak mengizinkan Fano untuk saat ini. Usia Fano yang menjadi faktor mereka melarang sang anak untuk bersekolah.
Balita berusia tiga tahun tengah memeluk salah satu kaki sang ayah yang akan berangkat kerja. Berulangkali Stevan melepaskan pelukan sang anak namun sepertinya sang anak tidak pantang menyerah. Merasa waktu rapat sebentar lagi Stevan menarik tubuh mungil Fano menuju gendongannya.
"Bagaimana kalau adek ke kantor bersama papa saja?" tawar Stevan kepada anaknya.
"Mama sendirian dong dirumah kasihan tahu!" pekik Fano tidak setuju akan usul Stevan.
"Adek ikut bersama papa saja. Kalau adek mengantuk atau memerlukan sesuatu bisa meminta bantuan papa," ujar Lusi yang datang dengan penampilan sangat rapih.
"Mama kok dandan sih?!" protes Fano tidak suka akan penampilan sang ibu.
"Lha mama kan mau nyalon dulu masa pake daster sih," sahut Lusi kepada anaknya.
"Argh adek gak suka!" protes Fano.
"Sifatmu duplikat ayahmu sekali dek," ujar Lusi mengelus rambut sang anak.
"Habis nyalon langsung pulang. Aku tidak suka milikku dilihat oleh orang lain!" tegas Stevan.
"Dasar," sahut Lusi jengah.
Stevan tipikal pria yang memang tidak mempermasalahkan penampilan sederhana Lusi di rumah. Malahan dia lebih suka atas pakaian rumahan Lusi. Apabila Lusi akan pergi ke luar Stevan tidak suka akan penampilan Lusi yang lebih cantik.
"Adek bareng mama saja. Papa akan ke kantor," ujar Stevan menyerahkan sang anak kepada Lusi.
"Hey ayolah Argo dan Rimba akan aku ajak untuk menemaniku disana. Kau tidak perlu khawatir sayang," ujar Lusi menenangkan sang suami.
"Awas saja kau berbohong!" ancam Stevan.
"Sudahlah urus sana kertas di kantor yang telah menggunung," ujar Lusi.
Pria itu mendekat kearah Lusi lantas mencium keningnya ketika akan menuju kearah bibir Lusi menutup mata sang anak. Stevan memang tidak kenal tempat saat mencium istrinya sendiri.
"Mama gelap!" protes Fano.
Lusi terkekeh geli akan suara rengekan sang anak. Kedua ayah dan anak berlalu pergi keluar dari rumah menuju kantor.
Di sebuah sekolah ada bocah yang sebentar lagi menjadi seorang remaja tangguh. Fokus dia hanya menatap semua angka yang terpampang di papan tulis. Di setiap kombinasi huruf serta angka dia hafalkan di kepalanya.
"Kalian tahu jawabannya berapa?" tanya sang guru kepada anak muridnya.
Argo menetap soal sebentar dia mulai menjalankan rumus untuk menjawab soal tersebut.
"-14, Pak!" seru Argo mengangkat tangannya.
"Wah seperti biasanya kamu memang hebat Argo," puji sang guru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
General FictionArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
