Beberapa hari berlalu Stevan tidak bisa berinteraksi dengan sang sulung. Argo menghindar tidak mau mendekat sama sekali kepada Stevan.
Di sekolah swasta ternama di kota Surabaya ada sosok pria dewasa tengah menunggu kepulangan kedua jagoan dia.
Suara bel pulang membuat senyum pria tersebut terbit. Dia senang akan bertemu dengan kedua putranya.
Di kelas Argo tengah membereskan semua peralatan sekolah dia besok. Arik belum beranjak keluar dari kelas.
"Gua heran kok bokap lu bisa masukin gua kerja disana?" tanya Arik kepada Argo.
"Dia kenalan bokap. Jadi bisa memasukkan Arik kesana walaupun dibawah umur," ujar Argo.
"Mengenai undang-undang hak cipta kerja bagaimana?" tanya Arik.
"Lagipula kamu bekerja di dapur. Semua pengunjung tidak akan tahu mengenai keberadaan kamu," ujar Argo.
"Seru sih kerja kali ini. Mana gajinya lumayan besar," ujar Arik.
"Kan kamu juga bisa memenuhi kebutuhan hidup juga," ujar Argo.
"Bener banget!" pekik Arik.
"Abang!" panggil Rimba.
Mendengar suara sang adik membuat Argo tersenyum. "Aku duluan," ujar Argo menepuk pundak Arik.
Argo melambaikan tangan kearah Arik. Dia menghampiri sang adik Rimba. Rimba merentangkan tangan kearang sang abang.
"Di depan atau di belakang?" tanya Argo.
"Depan dong!" pekik Rimba.
Argo mengangkat tubuh sang adik walaupun sedikit kesulitan akhirnya berhasil. Maklum Rimba dan Argo terpaut tiga tahun saja jadi berat badan Rimba mulai menyaingi sang abang.
Di lorong kelas Rimba mencium kedua pipi Argo secara bergantian. "Pipi abang sekarang berisi seperti aku dan adek," ujar Rimba.
"Abang suka ngemil belakangan ini," ujar Argo.
"Adek hebat lho abang. Masa bisa membuat pancake cokelat," ujar Rimba.
"Adek kan bilang mau jadi chef terkenal," ujar Argo.
"Kakak tidak seperti adek," ujar Rimba.
"Tenang saja kakak punya kelebihan lain kok," ujar Argo.
"Aku perhatikan abang kok menjauh dari papa," ujar Rimba.
"Hanya perasaanmu saja," sahut Argo.
Tak terasa mereka tiba di depan gerbang sekolah. Disana Stevan tersenyum melihat interaksi manis kedua anaknya. Melihat antesi Stevan wajah Argo seketika masam. Rimba bahkan sedikit terkekeh geli mendapati perubahan mimik wajah sang abang.
Rimba meminta turun dari gendongan Argo. Dia berlari kearah Stevan lantas memeluknya sangat erat. "Papa aku kangen!" pekik Rimba.
Stevan menggendong sang putra tengah. "Papa juga kangen dirimu nak," sahut Stevan.
Anak kecil berusia sembilan tahun itu melirik kearah sang abang. "Abang tidak mau peluk papa?" tanya Rimba.
"Tidak," sahut Argo.
Remaja itu melewati tubuh sang ayah begitu saja tanpa ada ekspresi sama sekali. Stevan menghela nafas kasar mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari sang anak.
Perjalanan menuju ke rumah diisi cerita random Rimba. Biasanya Argo akan ikutan namun kali ini dia diam saja.
"Papa! Wali kelasku memukul kepalaku," adu Rimba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Save My Brothers (END)
General FictionArgo sosok pria dewasa yang kehilangan kedua adiknya. Sosok pria dewasa yang memang terkenal dingin itu semakin tidak tersentuh sejak kematian kedua adiknya. Bahkan di usia 35 tahun Argo belum juga menikah. Kedua orangtuanya sering menjodohkan dia n...
