29 (penyerangan)

2.4K 194 16
                                        

Disebabkan insiden pertengkaran kemarin Stevan menghukum ketiga anaknya dengan membersihkan kandang singa peliharaan di sebuah gudang bawah tanah di lokasi cukup jauh dari rumah.

Perjalanan mereka kesana hanya ditemani seorang supir memang itu kemauan ketiga bocah. Mereka merasa tidak masalah pergi berempat saja dibandingkan perlu dikawal oleh cukup banyak orang.

Di mobil Fano berceloteh banyak hal. Balita itu dalam masa aktif ingin mengetahui banyak hal baru.

Di satu sisi Argo setiap saat waspada karena dia merasa bahwa ada beberapa motor sejak tadi mengikuti mereka.

"Paman sepertinya motor di belakang mengikuti kita," ujar Argo.

"Lebih baik kita urus mereka dulu tuan muda Argo agar markas tersembuyi tuan tidak diketahui," ujar Sang supir bernama Tio.

"Berhenti disana saja paman," ujar Argo.

Pria dewasa itu mengikuti apa yang diperintahkan sang tuan muda. Kedua anak kecil disana tersenyum akhirnya bisa bertarung.

Tepat ketika mereka berempat keluar mobil seperti dugaan beberapa motor yang sejak tadi mengikuti ikut berhenti bahkan menghadang jalan mereka.

"Heh ternyata hanya anak kecil yang perlu kita bereskan," remeh salah satu dari mereka.

"Anak kecil begini pernah buat orang mati tahu," sahut Rimba.

Rimba pernah tidak sengaja melihat kesadisan Argo membunuh musuh tanpa rasa takut sama sekali. Bahkan ada salah satu tertarik kearah Fano dengan cepat kedua kakaknya melindungi tubuh mungil Fano.

"Jangan menatap adikku!" kesal Rimba.

"Sepertinya bos salah besar harusnya anak kecil yang kita bawa ke markas dibandingkan remaja itu," ujar salah satu dari mereka.

"Apa tujuanmu?" tanya Argo.

"Bos mau kau pergi ke markas untuk dibunuh tentunya," jawab mereka.

"Sayangnya aku tidak mudah ditangkap," ujar Argo dengan senyuman smirk.

"Heh kau menantang kami ternyata," ujarnya.

Dengan cepat mereka mengepung mereka berempat. Dengan mudah setiap mereka mudah ditangkis mereka berempat. Sosok kecil Fano saja mudah menghajar orang yang lebih dewasa dari dirinya.

Tapi Argo tidak mengira bahwa ada beberapa mobil datang menuju kesana untuk membantu musuh. Argo menatap wajah Fano yang nampak kelelahan. Usia Fano terlalu kecil untuk berhadapan dengan pertarungan langsung.

Argo mendekat kearah kedua adiknya untuk membantu mereka mengalahkan musuh. Ternyata semakin lama musuh bertambah. Keadaan mereka semakin kacau ditambah kedua adiknya nampak kurang sanggup lagi bertarung.

Supir yang bertugas menjaga mereka saja sudah babak belur dia kurang berpengalaman dalam hal pertarungan. Matahari semakin terik namun musuh tetap saja menyerang mereka tanpa henti. Merasa situasi semakin mendesak Argo membuat keputusan agar semuanya selamat.

"Kalian boleh membunuhku asal biarkan mereka bertiga pergi dari sini," ujar Argo menatap mereka semua.

"Abang!" protes Rimba.

"Ini jalan satu-satunya. Mungkin papa akan datang sebentar lagi kurasa musuh kali ini berhasil menghambat papa tiba disini," ujar Argo menatap kearah Rimba.

"Aku masih bisa bertarung bang!" pekik Rimba.

"Kurasa sampai titik darah penghabisan pun kau tetap sanggup bertarung Rimba. Namun aku tidak mau kamu terluka sedikitpun oleh musuh," ujar Argo dengan senyuman.

Argo maju ke depan kearah sekumpulan musuh sendirian ketika Rimba dan Fano berusaha mendekat mereka dihadang musuh. Kedua anak kecil tersebut ditahan musuh akan tidak semakin mendekat.

Kondisi mereka yang sangat lelah tidak mampu mencengah kepergian Argo yang dibawa oleh musuh.

Di tempat lain Stevan amat kesal sejak tadi banyak musuh tiada henti menghalangi jalan dia untuk pergi ke tempat ketiga anaknya berada. Dia salah perhitungan malah pergi sendirian.

"Bang lu pergi aja," ujar Marcus yang tiba disana.

Stevan langsung pergi dari sana membiarkan Marcus menghabisi musuh bersama keempat anaknya dan puluhan orang berbadan besar.

Ketika tiba dimana ketiga anaknya berada Stevan terdiam melihat kedua anaknya menangis pilu.

Sang supir yang bertugas menjelaskan situasi kepada Stevan bahwa Argo dibawa oleh musuh demi keselamatan mereka semua.

"Tenang papa akan selamatkan abang," ujar Stevan.

Rimba melepaskan paksa pelukan Stevan. Anak berusia sembilan tahun itu menatap sengit Stevan berbeda dengan Fano yang menangis keras di pundak Stevan.

"Papa bodoh! Abang mengorbankan diri untuk keselamatan kita semua! Sementara papa dimana hah?!"

"Sibuk dengan kertas-kertas bodoh itu dibandingkan keselamatan anaknya sendiri!"

"Jangan mendekatiku dan adek sebelum papa berhasil membawa abang kembali ke rumah!" kesal Rimba.

"Rimba papa tadi dihadang oleh musuh," ujar Stevan memberitahu alasan.

"Adek sama kakak saja. Papa tidak becus menjaga kita bertiga," ujar Rimba menarik tubuh mungil Fano dari dekapan Stevan.

"Hey papa mengerti kamu marah sama papa yang kurang tepat waktu tiba disini," ujar Stevan menyentuh Rimba tapi ditepis oleh Rimba.

"Apa sejak dulu papa lebih peduli mengenai hal-hal tersebut dibandingkan kita?!" kesal Rimba.

"Kakak," lirih Fano.

"Dek ayo kita pulang. Biarkan papa menyelamatkan abang sendirian," ujar Rimba.

Kedua anaknya akan pergi namun dicengah Stevan. Dengan cepat Stevan memeluk erat tubuh kedua anaknya walaupun Rimba berontak dalam pelukan Stevan.

Stevan tidak peduli dia merasa gagal tidak mampu menjaga salah satu anaknya. Rimba menggigit pundak Stevan sangat kuat sedikit ringisan Stevan rasakan disebabkan gigi kecil anaknya.

"Kalian beristirahat saja ya. Mengenai abang urusan papa," ujar Stevan.

Merasa lelah dengan aksi berontak Rimba akhirnya tertidur di pundak Stevan sementara Fano menatap wajah Stevan.

"Adek kenapa?" tanya Stevan.

"Abang baru sembuh perutnya pah. Adek takut perut abang berdarah lagi," ujar Fano.

"Dengan segera papa selamatkan abangmu," ujar Stevan.

"Malam ini papa perlu menemukan abang. Kalau tidak adek akan marah seperti kakak," ujar Fano.

Stevan terkekeh geli melihat wajah menggemaskan Fano. Dia mencium kedua pipi tembab Fano. Penampilan mereka yang nampak sangat kacau membuktikan bahwa musuh benar-benar tidak segan membunuh ketiganya.

"Entah musuhku atau musuh keluarga yang berniat mengambil jalan pintas untuk menjatuhkan keluarga," batin Stevan.

Keluarga Jovetic memiliki cukup banyak musuh begitupula musuh dari keluarga Wolter. Keluarga milik sang istri walaupun sang pewaris sang istri namun mereka pasti tahu bahwa Argo akan meneruskan bisnis keluarga.

Dulu kekuatan keluarga Jovetic dan Wolter saling bersaing satu sama lain. Namun ketika Stevan dan Lusi menikah kekuatan kedua keluarga semakin kuat tanpa celah.

Musuh berhasil menemukan celah yaitu membunuh secara dini sosok penerus kedua perusahaan tersebut yaitu Argo.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Minggu 17 Maret 2024

Save My Brothers (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang